Dilahirkan Kembali

Yohanes 3:3-5
“Yesus menjawab, kata-Nya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.’ Kata Nikodemus
kepada-Nya: ‘Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?’ Jawab Yesus: ‘Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah.’”

Orang Kristen pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah “Dilahirkan kembali” atau yang sering juga disebut “lahir baru.” Tetapi apa yang merupakan fakta pada masa
kini adalah banyak orang yang menyebut dirinya telah dilahirkan kembali tetapi sesungguhnya belum mengalami sekaligus memahami hakekat dari kelahirbaruan tersebut.
Termasuk para hamba Tuhan dan para pengerja-pengerja gereja saat ini–saya berani mengatakannya karena saya telah menemui banyak yang seperti itu.

Kesalahan memahami kelahiran kembali

Sebagian orang menyatakan bahwa kelahiran kembali itu adalah memutuskan untuk memeluk agama Kristen. Jadi jika seseorang yang tadinya belum agama
Kristen, kemudian memutuskan memeluk agama Kristen, orang tersebut dikategorikan sudah lahir baru. Tentu itu pemahaman yang salah, karena Tuhan Yesus sendiri
menyebut Nikodemus sebagai orang yang belum dilahirkan kembali sekalipun dia telah memiliki agama, bahkan masuk kelompok yang ekstrim yaitu golongan Farisi. Jadi
intinya, sebuah agama tidak dapat melahirbarukan seseorang.

Sebagian orang lain menganggap bahwa apabila seseorang yang tadinya hidup keagamaannya biasa-biasa saja, datar-datar saja, tetapi kemudian orang tersebut
memutuskan untuk memberikan hidup dan waktunya menjadi pelayan Tuhan yang fulltimer, adalah seorang yang telah dilahirbarukan. Apakah benar demikian? Tentu giat
tidaknya seseorang dalam pelayanan tidak bisa dijadikan ukuran untuk menentukan apakah seseorang telah lahir baru atau tidak. Rasul Paulus sendiri memberi kesaksian:
“Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar.” (Roma 10:2). Jelas sekali
bergiat dalam keagamaan tidak menentukan apakah seseorang telah lahir baru atau tidak. Hal itu juga berlaku bagi Nikodemus.

Kelompok lain lagi menganggap bahwa sikap positif yang ditunjukkan seseorang terhadap hal-hal rohani menunjukkan kelahirbaruan seseorang. Jika seseorang
bernyanyi dengan semangat, mungkin sambil jingkrak-jingkrak, berbuat baik kepada semua orang, maka orang tersebut pasti sudah lahir baru. Atau seorang yang
senantiasa menggunakan kata-kata yang memuji Tuhan, seperti: Syalom, Haleluya, Lord Jesus.. dan sebagainya, membuktikan orang tersebut telah lahir baru. Tetapi
Tuhan Yesus tidak menyebutkan begitu.
Kelahiran kembali

Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi yang sangat berpengaruh, seorang Farisi sekaligus anggota dari kelompok Sanhedrin. Tentu namanya sangat
dihormati di kalangan orang Yahudi. Nikodemus sebenarnya seorang yang ingin tahu kebenaran, sayangnya dia juga seorang yang ingin mendapat kehormatan. Apa yang
dilihatnya pada Yesus, telah menggugahnya untuk tahu lebih dalam lagi. Sehingga agar orang-orang tidak memergokinya, dia menemui Yesus pada malam hari.

Tuhan Yesus adalah Allah, oleh karena itu Dia pasti tahu bahwa Nikodemus ini sebenarnya belum dilahirkan kembali. Sekalipun dia pemeluk sebuah agama, sekalipun dia pemimpin bahkan pengajar agama, sekalipun dia begitu semangat untuk agama, tapi pada kenyataannya dia belum lahir baru. Sehingga Tuhan Yesus mengatakan kepadanya bahwa dia akan tetap masuk neraka kalau tidak dilahirkan kembali. Dalam kepolosannya dia bertanya: “Bagaimana mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (ayat 4). Nikodemus mencoba mencari penjelasan secara ilmu pengetahuan. Tetapi masalah kelahiran kembali ini tidak bisa dijelaskan secara ilmu pengetahuan seperti yang dilakukan oleh Nikodemus.

Apa yang Tuhan Yesus maksud dengan kelahiran kembali, bahkan pengulangan kembali dengan kelahiran dari air dan roh, agar bisa masuk ke dalam kerajaan Allah,
merupakan jawaban atas apa yang selama ini banyak disalahpahami orang. Maksud Tuhan di sini adalah seseorang harus mengerti hakekat dari sorga yang kudus dengan
manusia yang berdosa. Hal itu nyata dari apa yang Yesus katakan. Kata “kembali” merupakan terjemahan dari kata Yunani εξ (Ex), yang mana kata ini bisa juga
diterjemahkan “dari atas.” Jadi “kelahiran kembali” itu bisa juga diterjemahkan dengan “kelahiran yang dari atas.” Kelahiran kembali yang dari atas inilah yang akan
membawa seseorang bisa melihat bahkan masuk ke dalam kerajaan Allah.

Kalimat “dilahirkan dari air dan Roh” memiliki arti yang lengkap. Menafsirkan ayat ini tidak boleh sembarangan, jika kita menafsirkan secara alegoris, maka baik air
maupun Roh, harus ditafsirkan secara alegoris. Tetapi jika kita tafsirkan secara literal, maka keduanya juga harus ditafsirkan secara literal. Air sering dilambangkan sebagai Firman, tetapi Roh tidak mungkin melambangkan yang lain selain Roh Kudus. Oleh sebab itu air harus kita tafsirkan secara literal. Adakah air yang bisa menyelamatkan? Tentu tidak ada. kalau begitu, jika air itu kita tafsirkan sebagai baptisan, apakah dengan demikian baptisan bisa menyelamatkan? Jika kita mau konsisten dengan apa yang Alkitab ajarkan, maka baptisan tidak mungkin menyelamatkan. Jadi bagaimana menjelaskan hal ini?

Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa baptisan merupakan tanda pertobatan. (Mat. 3:11). Tidak pernah dikatakan dalam Alkitab bahwa baptisan adalah tanda
yang menyelamatkan. Jika Tuhan menyinggung dilahirkan dari air, tentu Nikodemus akan berpikir akan apa yang dikerjakan oleh Yohanes Pembaptis saat itu. Apa lagi
secara kontekstual, kita menemukan bahwa setelah perjumpaan dengan Nikodemus, Tuhan Yesus pergi ke Yudea dan membaptis, juga diceritakan Yohanes Pembaptis
membaptis di daerah lain. Jadi saat itu adalah saat permulaaan dari baptisan air. Seperti sebuah film yang sedang naik daun, akan menjadi buah perbincangan hampir
semua orang. Demikian upacara baptisan air pada saat itu. Tuhan pasti tidak mau Nikodemus bingung dengan apa yang dikatakan-Nya. Jadi yang dimaksud oleh Tuhan
Yesus adalah pertobatan karena Yohanes Pembaptis menyerukan supaya setiap orang bertobat dari dosa-dosanya. (Mat 3:2)

Lalu apakah yang dimaksudkan dengan dilahirkan dari Roh? Roma 6:23 mengatakan bahwa upah dosa ialah maut dan karena semua manusia telah berdosa (Roma
3:23), maka semua manusia pastilah akan dihukum. Jika dosa harus dihukum, maka tidak ada kemungkinan bagi manusia untuk selamat. Tetapi Allah telah menggantikan
penghukuman itu, melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Yesus Kristuslah yang telah mengambil alih penghukuman itu, sehingga melalui iman kepada-Nya
manusia bisa diselamatkan. Sesuai juga dengan janji Tuhan dalam Efesus 1:13 yang mengatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya akan dimateraikan dengan
Roh Kudus, artinya menjadi milik Allah, maka pada saat itulah sebenarnya dia telah dilahirkan di dalam Roh.

Jadi dengan apakah seseorang dapat dilahirkan kembali? Dengan pertobatan dan iman akan Yesus Kristus yang telah menggantikan penghukuman atas
dosanya.

Anda tahu ayat inti dari semua ayat Alkitab? Ayat itu ada di Yohanes 3:16; “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-
Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dan jika anda menyelidiki perikop tersebut, kata-
kata itu dikatakan Tuhan Yesus kepada Nikodemus sendiri! Jadi betapa Tuhan ingin agar Nikodemus sungguh-sungguh dilahirkan kembali. Tidak sekedar memeluk
agama, memutuskan melayani, atau menjaga sikap yang positif terhadap agama. Itulah kelahiran kembali yang sesungguhnya.

Metamorfosis (Ulat menjadi Kupu-kupu)

Sesuai dengan Efesus 1:13, Roh Kudus tinggal di dalam hati kita ketika kita dilahirkan kembali. Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita itu akan membantu kita
untuk hidup semakin hari semakin menyerupai karakter Kristus, Juruselamat kita. Sehingga hidup kita semakin lama semakin diperbaharui bagaikan ulat yang berubah
menjadi kupu-kupu.

Tentu untuk menjadi kupu-kupu, seekor ulat membutuhkan proses, bahkan proses tersebut seringkali menyakitkannya. Demikian pula kita, ketika kita dilahirkan kembali
tidak secara otomatis sifat dan karakter kita berubah, melainkan dibutuhkan proses untuk membentuk kita. Seringkali proses tersebut menyakitkan, kita harus membuang
dosa yang selama ini menjadi kebiasaan kita dan mungkin kita akan dicela orang-orang disekitar kita karena kita berusaha untuk hidup kudus. Namun kita tahu bahwa semua proses ini adalah untuk menjadikan kita indah seperti kupu-kupu.

[Tumbur Lumban Raja, Buletin Rajawali/1/Sep-Okt 2006]