6 Cara Iblis Mencuri Makna Natal

Natal Kristus

Oleh: Dr. John MacArthur.

Sebagian besar orang di dunia kehilangan arti Natal yang sebenarnya. Bagaimana mungkin? Mengapa mereka kehilangan makna Natal, mengingat begitu banyak iklan, publikasi, promosi, dan acara natal setiap tahunnya? Walaupun banyak orang yang merayakan Natal tiap tahun, kebanyakan dari mereka tidak tahu apa arti sesungguhnya dari Natal Kristus itu (http://www.kristenalkitabiah.com/makna-natal-kristus/).

Bagi kita yang mengerti dan mengasihi Yesus Kristus, Natal adalah waktu untuk berfokus pada tujuan kelahiran-Nya. Akan tetapi, terkadang kita sering terperangkap dalam pusaran aktivitas natal dan melewatkan pesan utama dari Natal Kristus. Iblis seringkali mengacaukan konsep Natal orang Kristen dengan pernak-pernik perlengkapan Natal yang sebenarnya tidak berkaitan, dan membuat arti Natal sebenarnya jadi hilang.

Melalui Kitab Injil, kita akan melihat 6 cara orang kehilangan Natal dan belajar bagaimana menghindari kesalahan yang sama :

1. Keasyikan yang Bodoh

Lukas 2:7 memberitahukan kita bahwa orang pertama yang kehilangan Natal adalah penjaga penginapan. Dia tidak bisa membawa masuk Maria dan Yusuf karena tdk ada kamar utk mereka. Kelihatannya dia tdk peduli dengan keadaan Maria dan Yusuf yang menyedihkan. Alkitab tidak mencatat bahwa penjaga itu mencari bantuan.

Orang-orang pada abad pertengahan memang ramah, baik dan perhatian, mereka bukan orang Barbar, mereka bukanlah org yang suka membiarkan seorang wanita melahirkan sendiri, tetapi dalam kasus ini mereka kejam. Lukas memberitahu kita, Maria membaringkan-Nya dalam palungan, yang adalah bak utk memberikan makan pada binatang. Kain yang dibugkusnya pada Yesus adalah kain panjang. Bisa dibayangkan kesedihan/penderitaannya. Maria membungkusnya dalam kain lampin, sangat cantik tetapi sangat menyedihkan, tragedi, kesepian. Ketika seharusnya Maria ditemani oleh kaum wanita, diberikan perhatian dan kasih, maria sendiri! Tidak ada yg membantunya. Tidak ada keterangan apapun tentang penjaga penginapan tersebut karena Alkitab tidak menulisnya.

Penjaga itu sibuk karena penginapannya penuh karena sensus yang diadakan di Betlehem. Banyak orang yang seperti penjaga penginapan itu yang mana ruang dalam jiwa mereka dipenuhi oleh hal-hal yg tdk penting, tidak berguna, yang mengakibatkan kehilangan Kristus sebagai Juruselamat. Mereka sibuk mengurus pernak-pernik, asesoris, dan kue Natal, namun melewatkan bagian penting dari Natal, yakni Keselamatan melalui Yesus Kristus, sang Natal.

2. Cemburu yang Ketakutan

Dalam Injil Matius 2 kita mengetahui ada juga yang kehilangan Natal (ayat 1-3 & 7-8). Herodes adalah raja pada waktu itu. Herodes pura-pura ingin menyembah Yesus Kristus, padahal sebenarnya dia takut karena yang lahir itu disebut Raja orang Yahudi. Herodes panik, gelisah, mengapa? Karena dia takut ada Raja yang lain yang akan menggantikannya.

Herodes seorang yang pintar dan petarung yang cakap, juga orator dan diplomat yang hebat. Tetapi ia juga seorang yang kejam dan tidak kenal belas kasihan, dia orang yang iri hati, penuh curiga dan takut posisinya tergantikan. Merasakan ada ancaman, Herodes menenggelamkan Imam besar Aristobulus, saudara istrinya, lalu mengadakan pemakaman yang megah dimana ia berpura-pura mencucurkan air mata.

Herodes lalu membunuh istrinya, Mariamne dan juga ibu dari istrinya dan kedua anak kandungnya sendiri. Lima hari sebelum kematiannya, Herodes mengeksekusi anak ketiganya. Salah satu bukti terbesar dari kekejaman dan kegilaan Herodes adalah menangkap dan memenjarakan warga terhormat dari Yerusalem, tepat sebelum kematiannya. Karena Herodes tahu bahwa tidak ada seorangpun yang akan berduka pada hari kematiannya, dia memerintahkan orang-orang yang dipenjara itu dihukum mati pada saat Herodes meninggal, dia menjamin jika para tahanannya mati, maka pasti ada yang berduka di Yerusalem.

Sikap barbar nya tersebut mencapai puncaknya ketika ia memerintahkan dilakukannya pembantaian atas semua anak-anak di Betlehem dan sekitarnya yang  berumur 2 tahun ke bawah (Mat. 2:16) dan dgn aksinya tersebut Herodes berharap tidak ada yang bisa mengancam kekuasaannya.

Herodes kehilangan Natal Yesus, mengapa? Ketakutan dan kecemburuan! Jangan-jangan saudara berpikir tidak ada lagi orang-orang yang kejam seperti Herodes di dunia ini? Jika demikian, maka anda harus membaca dan menonton berita setiap hari. Kejahatan semakin merajalela. Banyak Herodes-Herodes di dalam masyarakat.

Hari ini banyak orang takut untuk menyerahkan rencana mereka, kepentingan mereka, dan nilai moral mereka. Mereka menolak datang kepada Kristus karena merasa Ia akan mengekang gaya hidup mereka – Dia ingin memiliki kehidupan kita. Artinya kita harus merubah cara hidup kita. Dunia berkata orang-orang berhak melakukan apapun untuk hidupnya, berhak atas nasibnya, atas rencananya. Dunia ini penuh dengan raja-raja yang tidak mau berlutut kepada Yesus Kristus, sehingga kehilangan makna Natal seperti Herodes.

3. Ketidakpedulian yang Sombong

Matius 2:4-6 mencatat bahwa Herodes mengumpulkan ahli-ahli: mulai dari ahli pemerintahan, bahasa, astrologi, kebudayaan politik, sampai alhi kitab dan agama. Kelompok alhi kitab dan para Imam-imam tahu di mana Mesias akan dilahirkan karena kitab Mikha 5:2 sudah meramalkan bahwa Betlehem adalah tempat kelahiran-Nya. Satu hal yang masih dicari dan ditunggu  bangsa Yahudi sampai hari ini adalah Mesias. Mereka masih menunggu pembebas mereka sepanjang sejarah mereka, khususnya ketika berada di bawah penganiayaan bangsa Romawi. Bagaimanapun imam-iman dan para ahli ini tidak memiliki kemauan untuk mencari tahu apakah mungkin bayi itu adalah Mesias.

Mengapa mereka kehilangan Natal? Ketidakpedulian! Mereka tidak peduli. Mereka memiliki seluruh faktanya, tetapi mereka tidak menemukan Mesias. Mengapa? Mereka hanya peduli pada diri sendiri, mereka merasa sebagai orang yang paling tau tentang hukum. Mereka bangga dengan ketidakpedulian mereka, mereka dipenuhi kebanggaan yang lalai, karena hasil akhir dari kebanggaan adalah pengabaian. Ketika Anak itu hadir, mereka membenci-Nya dan menghina-Nya, mereka merencanakan pembunuhan-Nya dan menginginkan darah-Nya.

Banyak orang kehilangan Natal karena mereka tidak sadar bahwa mereka orang berdosa, dan mereka mengacuhkan atau tidak menghiraukan Kristus. Mereka tidak tertarik berada dalam keselamatan karena tidak mengerti bahwa mereka perlu diselamatkan. Mereka tidak mengerti bahwa upah dosa adalah maut (Roma 6:23) dan Yesus Kristus lahir untuk membereskan dosa-dosa mereka (Matius 1:21).

4. Agama Ritual

Lukas 2 mengindikasikan kelompok lain yang juga kehilangan Natal. Para gembala-gembala di padang pergi menyambut kelahiran Juruselamat, sementara banyak orang dari Yerusalem tidak menghiraukannya. Dari semua orang yg di Yerusalem, Tuhan memilih para gembala yang adalah kumpulan tidak dipandang utk menerima kabar besar tentang kelahiran Kristus. Para Gembala adalah kelompok yang tidak disukai orang. Tidak seorangpun dari kota yang melihat Kristus kecuali gembala-gembala yg  tidak bersih itu.

Banyak orang di Yerusalem kehilangan Natal. Kelahiran Kristus hanya beberapa mil jauhnya, kelahiran ini adalah pemenuhan atas semua impian dan harapan, peristiwa yang akan merubah dunia, tetapi mereka mengacuhkannya. Mereka terlalu sibuk dengan ritual keagamaan yang mengakibatkan kehilangan peristiwa kelahiranNya. Ketika Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: Kata orang, Siapakah Anak manusia itu? (Matius 16:13). Jawaban mereka, “beberapa mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, ada yg mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para Nabi (ayat 14).

Semua spekulasi atau tebakan itu salah. Yesus tidak cocok dengan sistem keagamaan yang mereka buat. Dan orang-orang tidak pernah menyadari siapa diri-Nya, hingga ketika Ia menyampaikan khotbah-Nya di bukit.

5. Pemujaan Terhadap Berhala

Bangsa Romawi juga kehilangan Natal. Melalui kehidupan Kristus, kita menyaksikan kehadiran bangsa Romawi. Sebelum kematian-Nya, Kristus menghadap Pilatus, gubernur Romawi di Yudea (Yoh. 18:28-40). Dia dieksekusi oleh bangsa Romawi (Mat 27:27-36). Prajurit Romawi berbohong tentang kebangkitan-Nya, menyebarkan kebohongan untuk menutupi kenyataan bahwa Dia bangkit dari maut (Mat. 28:11-15).

Mereka kehilangan Natal karena pemujaan berhala mereka: mereka menyembah diri mereka sebagai dewa atau tuhan. Kristus tidak cocok dengan mereka. Mereka menyembah dewa-dewi yang banyak dan puncak dari pemujaan mereka adalah penyembahan kepada Kaisar.

Dunia sekarang juga secara tidak langsung sedang melakukan penyembahan berhala, yaitu menyembah kepentingan mereka sendiri seperti uang, sex, materi, mobil, rumah, pekerjaan, kekuasaan dan gengsi. Semua hal tersebut adalah Dewa-dewa pagan/berhala abad modern. Jika anda adalah orang-orang yang mengejar kesenangan duniawi, lebih mengutamakan kesan dari pada kebenaran, lebih mengutamakan hal-hal lahiriah ketimbang hal-hal yang rohani, anda sedang menyembah berhala.

6. Keakraban yang Berlebihan

Mungkin yang paling menyedihkan dari semuanya adalah orang-orang Nazaret kehilangan Natal. Yesus dibesarkan di kota Nazaret (Lukas 2:39-47). Ketika Yesus kembali ke Nazaret, Dia tidak seperti umumnya anak di Nazaret, Dia menemani orangtua-Nya ke Yerusalem utk merayakan paskah ketika Dia berumur 12 tahun. Dia mulai membaurkan diri dgn doktor-doktor teologi dalam bait Allah. Dia menghabiskan 30 tahun kehidupanNya di Nazaret, tetapi tetap saja orang-orang di sana tidak mengenal-Nya.

Lukas 4:29-30 menceritakan tragedi yang terjadi ketika Yesus mengatakan identitas-Nya kepada orang Nazaret. Mereka tahu Yesus adalah anak Yusuf, tetapi mereka menganggap tidak ada yg spesial dengan itu. Setelah Yesus selesai berbicara disinagog, mereka mau membunuh Yesus. Orang Nazaret kehilangan Natal karena keakraban yg berlebihan

Dalam Markus 6: Yesus sangat heran atas ketidakpercayaan mereka (Mat. 13:58). Keakraban yg berlebihan atas kebenaran Natal dapat menghasilkan hati yg membatu. Lebih baik merespon ketika hati kita lembut atau hati akan menjadi keras dan tidak ada kesempatan utk merespon (Amsal 29:1)

Kesimpulan

Dibalik 6 alasan orang kehilangan Natal yang dikemukakan di atas yang menjadi pemicunya adalah ketidakpercayaan. Banyak orang menolak untuk percaya kepada Yesus Kristus. Rasul Yohanes berkata: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yg menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yg percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1:10-12). Apabila saudara percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu secara pribadi, Natal akan menjadi nyata dalam hidupmu.

Judul asli  : Six ways satan stealing Christmas

Diterjemahkan oleh Petty Pardede dari www.gty.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order