Adat Di Sekitar Acara Kematian

Kematian adalah peristiwa besar dalam kehidupan manusia. Setelah hidup bersama puluhan tahun, tiba-tiba meninggal, dan seterusnya tidak bisa berkomunikasi lagi. Oleh sebab itu peristiwa kematian biasanya sangat sedih, dan ada yang sangat menggoncangkan jiwa. Konsep Alkitab Tentang Kematian Tuhan sudah memperingatkan manusia untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, karena akan mati. Orang yang memakannya akan dihukum mati. Tetapi Hawa tidak percaya kepada Allah, melainkan lebih percaya kepada Setan, sehingga memakannya, dan memberikannya kepada suaminya.

Setelah sepasang manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia tersebut harus dihukum mati. Tetapi karena Allah mengasihi manusia, sehingga merencanakan penyelamatan. Dosa tidak bisa diselesaikannya dengan kata-kata pengampunan karena sifat Allah yang maha suci dan maha adil. Dosa selesai jika dijatuhi penghukuman. Oleh sebab itu Allah merencanakan pengiriman Juruselamat yang akan dihukumkan untuk menggantikan manusia. Selanjutnya Tuhan menutup akses ke pohon kehidupan agar manusia yang telah berdosa, telah tahu tentang kejahatan, tidak hidup selamanya.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Adam kemudian mati setelah 930 tahun itu karena tidak memakan buah pohon kehidupan. Seandainya Adam berhasil memakan buah pohon kehidupan maka dia tidak akan mati. Itulah sebabnya kita simpulkan bahwa ancaman kematian terhadap tindakan memakan buah pengetahuan baik-jahat ialah hukuman mati, bukan karena buah itu racun yang mematikan. Tubuh manusia akan mati karena tidak berhasil memakan buah pohon kehidupan. Karena tubuh Adam yang adalah buatan tangan Tuhan langsung dan belum terjadi kerusakan genetika sehingga bisa bertahan hingga 930 tahun. Sedangkan tubuh kita yang telah ratusan generasi, hanya bisa bertahan puluhan tahun. Tubuh kedagingan manusia tidak bisa diselamatkan, tetapi jiwa dan roh manusia bisa diselamatkan, dan akan dibuatkan tubuh baru yang bukan bersifat daging. Oleh sebab itu Tuhan hanya berusaha menyelamatkan jiwa dan roh manusia, dan membiarkan tubuh kedagingan manusia binasa.

Cara penyelamatan jiwa dan roh manusia ialah dengan menggantikan manusia dihukumkan atas dosa manusia. Kemudian direncanakan pengiriman Juruselamat untuk dihukumkan. Setiap orang yang hidup sebelum kedatangan Sang Juruselamat, jika ingin seluruh dosanya terhukumkan pada Juruselamat yang akan datang maka ia harus bertobat dan percaya bahwa Juruselamat akan datang menggantikannya dihukumkan. Setiap orang yang hidup sesudah kedatangan dan penghukuman Sang Juruselamat, jika ingin seluruh dosanya terhukumkan pada Juruselamat yang sudah datang maka ia harus bertobat dan percaya bahwa semua dosanya telah dijatuhi penghukuman dalam diri Sang Juruselamat.

Bagi setiap orang yang membuat pengakuan iman tersebut di atas, orang tersebut mendapatkan kepastian memiliki tubuh baru yang bukan kedagingan, melainkan yang mulia. Dan kita sebut jiwa dan roh orang tersebut terselamatkan. Bagi setiap orang yang berhasil diselamatkan, kematian tubuh kedagingannya bukan lagi persoalan, karena tubuh tersebut tidak bisa dipertahankan. Dengan obat apapun, dan usaha yang bagaimanapun juga tubuh kedagingan setelah mencapai puncak pertumbuhannya akan semakin reyot, rapuh dan akan kehilangan energi, atau terkena penyakit dan mati. Tetapi karena jiwa dan rohnya telah terselamatkan melalui bertobat dan beriman kepada Yesus Kristus, Sang Juruselamat, maka kepadanya telah disediakan oleh Tuhan tubuh kemuliaan untuk menggantikan tubuh kedagingan yang akan mati.

Bagi orang yang telah diselamatkan, yang sungguh-sungguh telah beriman, kematian tubuh kedagingan bukan hal yang sangat buruk, karena jiwa dan rohnya telah terselamatkan dan tubuh kedagingannya dijanjikan akan diganti dengan tubuh kemuliaan. Itulah sebabnya kematian orang yang beriman kepada Yesus Kristus diantar dengan lagu, dan penguraian firman Tuhan yang mengingatkan hadirin akan janji-janji Tuhan. Tetapi mereka yang tidak bertobat dan tidak percaya kepada Yesus Kristus, jiwa dan roh mereka akan sangat menderita karena dosa-dosa mereka.

Oleh sebab itu terlihat pada saat kematian, keluarga mereka penuh dengan jerit tangis yang sangat memilukan hati. Keluarga orang percaya mengantar dengan kesedihan karena perpisahan namun penuh pengharapan, tetapi mereka yang tidak terselamatkan mengantar jenazah dengan ratapan dan tangisan yang memilukan.

Penguburan Adalah Kesaksian 

Banyak aspek kehidupan orang Kristen memang berbeda dari orang dunia. Tetapi khusus pada momen menghadapi kematian, ini sangat sentral dan sangat terang benderang perbedaannya. Ketika terjadi kematian di berbagai suku primitif, mereka melakukan berbagai ritual mistik yang menggambarkan bahwa pribadi yang meninggal akan pergi ke tempat yang sangat menderita.

Heboh penguburan umat Hindu dengan pembakaran mayat di sungai Gangga, sambil dihanyutkan dengan tulang-tulangnya yang tenggelam ke dalam sungai, sangat tidak terhormat. Budhis Tibet yang menaruh mayat di lapangan rumput untuk dipatuk dan dimakan oleh burung-burung hingga tinggal tulang dan tengkorak. Kekristenan sesuai dengan perintah Tuhan yang berkata bahwa tubuh manusia terbuat dari debu tanah, ketika ditinggalkan oleh jiwa dan rohnya, dikuburkan ke dalam tanah. Penguburan dilakukan dengan sikap hormat karena bentuk tubuh manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan peta Allah. Manusia adalah gambar dan peta penciptanya, oleh sebab itu siapapun yang menyerang atau menjahati tubuh manusia adalah menjahati dan menyerang penciptanya. Kekristenan tidak setuju tubuh yang ditinggalkan jiwa dan roh itu dibakar, melainkan harus dengan hormat mengembalikannya ke dalam tanah. Walaupun telah ditinggalkan oleh jiwa dan rohnya, namun itu tetap gambar dan peta Allah maka tidak patut dibakar apalagi diserahkan kepada burung untuk dipatuk, melainkan menaruhnya dengan hormat ke dalam tanah.

Pada saat ada kematian di keluarga Kristen, masyarakat akan menyaksikan pertunjukan konsep kekristenan tentang kematian. Masyarakat akan menyaksikan seberapakah orang Kristen yakin bahwa anggota keluarga mereka yang telah meninggal telah pergi ke tempat yang senang. Mereka akan melihat tangisan orang Kristen seperti apa, dengan segala upacara penguburannya.

Pada abad ke 19 awal, ketika William Carey ke India, dan Adoniram Judson ke Myanmar, mereka beritakan Injil yang sangat asing bagi telinga orang India maupun Myanmar. Sampai lima-enam tahun masih belum menghasilkan orang percaya. Tetapi ketika anggota keluarga mereka meninggal, orang India, dan orang Myamar menyaksikan pertunjukan iman mereka tentang Injil yang mereka beritakan. Sambil mereka menyaksikan penguburan yang sangat berbeda dari kebiasaan mereka, Roh Kudus mengetuk hati mereka. Mereka bisa melihat bahwa sungguh kematian dengan pengharapan jauh berbeda dengan kematian tanpa pengharapan.

Adat-Istiadat Sekitar Kematian

Saya mendengar ada suku yang upacara kematian mereka dibuat sedemikian rupa, hingga sangat menarik para wisata manca negara. Selain upacara yang rumit, keluarga yang kehilangan anggota keluarga harus menyembelih banyak kerbau untuk dibagi-bagikan kepada masyarat. Adat ini menyebabkan kebutuhan dana yang sangat besar untuk menguburkan seseorang. Karena biaya penguburan yang sangat mahal, sehingga banyak yang membiarkan mayat di rumah mereka bertahun-tahun hingga terkumpul biaya yang cukup.

Saya sangat heran, mengapakah orang Kristen tidak mengikuti Alkitab melainkan mengikuti adat-istiadat? Selain banyak ritual mistik, biaya yang seharusnya bisa dipakai untuk biaya sekolah anak-anak, atau sebagai modal usaha, habis untuk menguburkan kakek atau nenek mereka. Bagi orang kaya di suku itu acara penguburan adalah sekalian pamer unjuk kekayaan. Dan bagi dewan adat itu kesempatan untuk menunjukkan posisi kedudukan mereka. Oleh sebab itu mereka adalah orang yang ngotot harus mempertahankan adat.

Tetapi kasihan sekali dengan orang miskin atau yang keuangannya pas-pasan, sehingga untuk membiayai satu penguburan, langsung bankrut total. Bahkan saya mendengar ada yang harus berhutang karena acara menguburkan anggota keluarga mereka.

Pertanyaan saya, mengapakah keluarga yang sudah kehilangan, mungkin kepala keluarga pencari nafkah, masih perlu dipretelin semua sisa milik mereka melalui prosesi penguburan? Dan mengapakah kebiasaan menyembelih binatang dan membagi kepada masyarakat perlu dilestarikan? Tidakkah sanggup pemimpin dan pemangku adat melihat bahwa biaya besar yang dihabiskan sesungguhnya bisa dipakai di tempat yang lebih baik?

Kebenaran Yang Memerdekakan

Kelihatannya banyak pemimpin jemaat tidak mengkhotbahkan Injil yang benar, yang sungguh-sungguh memerdekakan. “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya:”Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31-32 ITB)

Pertama, tentu setiap orang yang percaya kepada Injil akan dimerdekakan dari hukuman dosa di neraka. Kedua, bersamaan dengan itu Injil juga memerdekakan manusia dari kebodohan, dari ikatan kecanduan, dan dari penjajahan adat-istiadat yang negatif. Setelah dimerdekakan oleh Injil mengapakah adat yang negatif bukannya dibalik saja, misalnya yang awalnya keluarga duka membagi-bagi daging menjadi semua orang bawa daging untuk meringankan dan menghibur keluarga duka. Atau daging dijadikan uang supaya lebih gampang membawanya, semua famili teman membawa amplop berisi uang ke rumah duka sehingga keluarga yang sudah jatuh bukan ditimpa tangga melainkan dibalut lukanya. Iblis telah bermain di berbagai suku bangsa ratusan bahkan ribuan tahun.

Saya mengamati dan dapatkan banyak sekali adat-istiadat berbagai suku yang jelas-jelas iblis ikut campur tangan di dalamnya. Ada suku yang ketika raja mereka meninggal, mayatnya ditinggikan ke sebuah panggung, semua pelayannya harus duduk di bawah dengan mulut mengagah menerima aliran air yang keluar dari mayat. Siapakah yang mempunyai ide mematikan ini kalau bukan datang dari hasutan iblis?

Di Papua ada suku yang setiap ada anggota keluarganya mati, maka mereka memotong satu ruas jari mereka, sehingga banyak yang jarinya buntung. Mereka tentu akhirnya mengalami kesulitan bekerja karena dengan jari yang pendek bahkan buntung, akan membuat mereka kesulitan mencengkram benda. Di Myanmar ada suku yang wanitanya sejak dua tiga tahun dipasangi per di leher mereka, karena konsep wanita berleher panjang itu cantik. Akibat per itu ruas-ruas tulang leher mereka lepas sehingga tidak mungkin lagi per itu dilepaskan seumur hidup mereka. Siapakah yang menghembuskan adat potong ruas jari setiap ada kematian, dan siapakah yang menghembuskan bahwa wanita berleher panjang itu cantik? Sangat jahat dan teramat jahat.

Ada banyak suku yang lelakinya pemalas membiarkan wanita mereka membanting tulang karena anak lelaki mereka adalah raja. Celakalah istri raja yang tidak ada pembantu, karena dialah satu-satunya pembantu raja itu. Di Afrika ada satu suku yang lelaki mereka duduk-duduk di gubuk ngobrol sementara istri mereka mencangkul kebun sambil menggendong bayi mereka di punggung.

Injil Adalah Kekuatan Pelepas

Injil adalah kekuatan Allah yang seharusnya bisa merubah segala sesuatu yang negatif. Ketika Injil masuk ke sebuah suku, maka seharusnya segala hal yang tidak masuk akal, terlebih segala adat yang dirancang oleh iblis untuk menjajah manusia, bisa dihapuskan.

Ketika saya naik mobil di Bali, supir saya berhenti, saya bertanya mengapa? Dia menjawab, “tunggu orang di depan selesai, pak.” Rupanya di depan kami ada orang yang sedang melakukan upacara sesajian. Saya tanya, “kalau kita jalan terus mengapa?” Dia menjawab saya bahwa mungkin kita akan terkena tulah atau kutukan. Saya tertawa dan berkata bahwa sebenarnya dewanya takut saya. Namun karena dia orang Bali dan dia yang takut kena tulah, saya terserah dia saja. Saya hanya sewa mobilnya.

Iblis sangat senang ketika ia berhasil memperdaya manusia. Ada suku yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun diperdaya. Tiba-tiba Injil masuk dan melakukan pelepasan pengaruh iblis terutama pada adat-istiadat. Tentu iblis tidak tinggal diam, melainkan akan melakukan perlawanan. Orang-orang yang sombong, orang-orang yang kaya, orang-orang yang punya posisi dalam tatanan adat biasanya adalah orang-orang yang akan dipakai untuk mempertahankan adat-istiadat.

Orang-orang yang belum lahir baru sudah pasti tidak memiliki keberanian atau kemampuan untuk merubah sesuatu yang iblis lestarikan. Iblis bukan makhluk lumpuh, dia mampu melakukan sesuatu atas manusia yang jauh lebih lemah darinya. Biasanya ada satu dua orang yang mencoba-coba menentang adat akan betul-betul disikat iblis sehingga menyebabkan tidak ada lagi yang berani mencoba.

Hanya orang Kristen lahir baru, yang di dalamnya ada Roh Kudus, yang sanggup mengatasi iblis. Beritakan Injil yang benar, yang murni, sehingga masyarakat benar-benar lahir baru. Dan tentu setiap orang Kristen lahir baru, hanya mentaati Alkitab bukan adat-istiadat yang terkontaminasi iblis atau yang tidak masuk akal, yang negatif. Kebenaran Alkitab adalah kebenaran yang memerdekakan, dari dosa, dari kuasa iblis dengan segala bentuk manifestasinya, sehingga manusia di dalam Tuhan sungguh-sungguh merdeka.***

Sumber: Dr. Suhento Liauw dalam Buletin PEDANG ROH Edisi 92, Juli-September 2017