Kristus yang Tidak Berdosa

yesus-tidak-berdosa

“Dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” (Rom. 1:4).

Berikut ini digabungkan dari komentari John Phillips di Roma 1 dan Matius 5: “Ungkapan ‘Roh kekudusan’ mengindikasikan bahwa Tuhan Yesus menjalani hidup yang berkemenangan atas dosa, dan sungguh, hidup-Nya kudus sempurna.

Dia tidak pernah memandang dengan hawa nafsu; Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang terlalu cepat, yang tidak baik, yang tidak benar, atau yang sia-sia; Dia tidak pernah menampung pikiran yang tidak murni. Dia tidak pernah dituduh oleh hati nurani-Nya sendiri, tidak pernah terbakar oleh nafsu yang salah, tidak pernah melangkah keluar dari kehendak Allah.

Waktu-Nya tidak pernah disia-siakan, bakat-bakat-Nya tidak pernah disalahgunakan untuk kepentingan egois, pengaruh-Nya tidak pernah kepada hal negatif, penilaian-Nya tidak pernah salah. Dia tidak pernah harus meminta maaf karena apapun yang Dia lakukan atau menarik kembali satu pun kata-kata yang Dia ucapkan. Dia tidak pernah terlalu lambat atau terlalu cepat; tidak pernah dalam suasana hati yang kacau; tidak pernah tidak bersemangat ataupun berpikiran picik.

Dia hidup di muka bumi kurang lebih dua belas ribu hari dan setiap harinya dihiasi kekudusan yang menakjubkan. Tidak pernah ada satu saat pun ketika Tuhan Yesus tidak secara absolut menjalankan penuh perintah-perintah Ilahi.

Sebagai seorang bayi, sebagai seorang anak, sebagai seorang remaja, dan di masa kedewasaan penuh, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, ketika bermain, baik sebagai anak ataupun sebagai saudara, sebagai tetangga ataupun sebagai teman, sebagai tukang kayu di desa, ataupun sebagai pengkhotbah keliling, dalam kesendirian ataupun di keramaian, ketika dikelilingi keluarga dan sahabat dan ketika dikelilingi oleh musuh-musuh garang – di segala waktu, di segala tempat, dalam segala cara, Dia selalu memelihara Hukum Allah. Dia memelihara baik tulisan Hukum itu maupun roh/semangatnya. Dia memelihara Hukum dalam perintahnya maupun dalam maksudnya. Dia memeliharanya karena itulah sifatNya. Dia tidak bisa membayangkan tidak memelihara hukum. Itu adalah kehendak Bapa, dan Yesus selalu melakukan hal yang menyenangkan Bapa.

Dia adalah “saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibr. 7:26). Dari puncak bukit tempat Yesus dimuliakan, Dia bisa saja langsung melangkah masuk ke kemuliaan Sorga. Dia memiliki kemenangan absolut sejak saat Dia menarik nafas pertama kali di kandang Betlehem hingga saat Ia menutup mataNya dalam kematian di Kalvari. Dia dinyatakan menurut Roh kekudusan ‘adalah Anak Allah yang berkuasa.’”

Diterjemahkan oleh : Dr. Steven E. Liauw

Sumber: www.wayoflife.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order