Perlukah sabat tetap dilakukan saat ini ?

Ketika Tuhan selesai menciptakan langit dan bumi beserta isinya selama 6 hari maka pada hari ke 7 Dia menguduskannya oleh karena pada hari itu Dia berhenti dari pekerjaan penciptaan. Tentu ada hal yang menarik bahwa disini tidak dituliskan sabat ataupun perintah untuk menguduskan hari sabat sekalipun manusia telah diciptakan olehNya.

Selanjutnya dalam perjalanan sejarah manusia yakni mulai Adam hingga Yusuf dan seangkatannya yang berada di Mesir juga belum ada ketetapan perintah untk menguduskan hari sabat. Tentu ada alasan yang kuat bagi Tuhan mengapa pada zaman itu yang juga disebut zaman ke-imamatan ayah tidak diperintahkan hal itu. Alasan itu dapat kita lihat bagaimana estafet pengenalan akan Tuhan pencipta langit dan bumi serta isinya dari seorang ayah kepada anaknya masih terjaga dengan baik walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit dibanding jumlah manusia yang hidup di zaman mereka.

Sesudah Yusuf dan generasinya mati ditanah Mesir maka kemudian bangsa Israel menjadi budak selama 400 tahun lebih dan waktu yang cukup panjang ini telah menjadikan mereka kehilangan pengenalan akan Allah pencipta langit dan bumi sebagaimana yang tidak terjadi pada nenek moyang mereka. Patung anak lembu emas yang mereka buat adalah bukti yang sangat kuat bahwa ingatan mereka akan Allah nenek moyang mereka telah hilang sama sekali. Dan sesudah genap waktunya maka Tuhan membawa mereka keluar dari tanah Mesir dengan jumlah yang sangat besar. Dan di gunung Sinai diadakan upacara pengikatan perjanjian antara Tuhan dengan bangsa Israel dan juga mereka diresmikan menjadi sebuah bangsa dan Tuhan sendiri yang menjadi Raja atas mereka. Setelah diresmikan menjadi bangsa milik Tuhan maka ada ketetapan atau semacam undang-undang yang dibuat untuk dipatuhi oleh rakyatNya dan salah satunya ialah perihal hari Sabat. Dan makna dari menguduskan Sabat itu sendiri adalah sebagai peringatan terhadap Tuhan oleh bangsa Israel ( Keluaran 31:13, 17).

Pada waktu anak dari seorang imam Zakharia muncul yakni Yohanes bangsa Israel secara mayoritas tidak menerima dia sebagai Elia yang akan datang ( Mat 11:14). Dan oleh karena mereka menolak dia sebagai Elia maka merekapun tidak mengenal akan Mesias yang telah datang dalam wujud manusia. Telah banyak bukti-bukti ke-Mesias-an yang dilakukan oleh Tuhan Yesus namun mereka tetap menolak bahkan ketika Yesus melakukan pekerjaan pada hari sabat yakni menyembuhkan orang sakit malah mereka menjadikan itu untuk mencari kesalahan Yesus. Padahal yang berdiri didepan mereka itu adalah Allah pencipta langit dan bumi serta isinya dan yang membuat sabat sebagai peringatan bagi orang Israel akan Tuhan. Seandainya mereka terima Yohanes sebagai Elia maka tentulah mereka akan menerima Dia sebagai Mesias dan kemudian mereka akan mengerti makna sabat yang ditetapkan di gunung Sinai pada zaman Musa. Itu sebabnya Yesus berkata bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari sabat dimana sabat itu dibuat untuk mengingat Dia. Ketika Tuhan tinggal bersama sama dengan murid-muridNya selama 24 jam maka tentu tidak diperlukan lagi sebuah sarana ataupun media yang lain untuk mengingat akan Dia. Tuhan Yesus pernah berkata tinggallah didalam Aku dan Aku didalam kamu.

Sesudah Tuhan Yesus naik ke sorga maka peranNya digantikan oleh Roh Kudus yang juga adalah Pribadi Allah yang turut serta menciptakan langit dan bumi serta isinya. Dan Paulus menjelaskan bahwa setiap orang yang telah bertobat dan percaya pada Tuhan Yesus maka dirinya telah dimeteraikan oleh Roh Kudus ( Efesus 1:13) dan kemudian Roh Kudus itu dikaruniakan kepadanya. Dan oleh karena Roh Allah telah dikaruniakan ( Roma 5:5) maka tentu saja sabat sebagai pengingat akan Tuhan tidak diperlukan lagi oleh karena Roh Kudus yang juga adalah Pribadi Allah telah tinggal dalam diri setiap orang percaya. Maka bukanlah suatu hal yang mengherankan jika Paulus berkata dalam suratnya kepada jemaat di Kolose pada waktu itu agar tidak lagi merasa dihukum oleh karena hari-hari raya, bulan baru ataupun hari sabat sebab wujudnya adalah Kristus dan barang siapa ada didalam Kristus maka tidak ada lagi penghukuman bagi dirinya. Oleh karena Roh Kudus yang juga adalah Pribadi Allah telah tinggal dalam diri setiap orang percaya pada Yesus adalah alasan yang sangat kuat bagi setiap orang percaya untuk tidak memakai media ataupun sarana dalam bentuk lahiriah ataupun seremonial sebagai bentuk untuk mengingat akan Tuhan.

Kini mengingat dan memuliakan dalam ibadah tidak lagi hanya dilakukan di hari sabat. Namun, dapat dilakukan di hari apapun, kapan pun dan dimana pun tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu. Sebagaimana Allah sang pencipta langit dan bumi yang tidak dibatasi waktu dan tempat. Umat kristen tidak hanya dapat beribadah di dalam gereja, namun juga di rumah, di tempat kerja dan dimanapun tanpa perlu membentuk posisi tubuh tertentu dan menghadap ke arah tertentu. Sebab, AllahNya umat kristen adalah Maha Hadir.

Yohanes 4:23
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.