Konsekuensi Tragis dari Dosa Perbudakan

Kontroversi penghapusan perbudakan di Amerika adalah masalah yang berakar secara mendalam selama bertahun-tahun. Pemerintah kolonial Virginia memprotes praktek perbudakan yang dilakukan oleh Inggris pada tahun 1619, tetapi protes mereka diabaikan. Kita harus mengingatkan diri kita sendiri bahwa perbudakan bukanlah sepenuhnya masalah sebagian wilayah Amerika saja, karena “baik bagian Utara dan Selatan sama bersalahnya dalam dosa ini. Kondisi geografis dan iklim menggerakkan hampir seluruh budak dari pelabuhan-pelabuhan di utara, tempat mereka dibawa berlabuh dari Afrika, ke daerah-daerah lain di selatan.”

Mengejutkan bagi banyak orang untuk menyadari bahwa ada “budak-budak berkulit putih” dari Skotlandia yang dikirim ke Amerika juga – budak-budak karena iman mereka bukan ras mereka!

Ketika William Wilberforce berhasil dalam memimpin para penentang perbudakan di Inggris untuk mengakhiri perbudakan di wilayah Hindia Barat Inggris, tekanan mulai meningkat dari kaum Baptis di Inggris terhadap kaum Baptis di Amerika untuk mengakhiri praktek jahat itu. Di awal tahun 1833, surat-surat dikirim ke Baptist Board of Foreign Missions yang mendesak agar kaum Baptis mengambil tindakan melawan perbudakan di Amerika. Pada periode sejarah yang bersamaan, Amerika sedang mengalami polarisasi kesetiaan regional yang dikuatkan oleh perbedaan budaya yang muncul akibat faktor-faktor sejarah, geografis, dan keadaan iklim. Akhirnya perbedaan-perbedaan ini merobek kaum Baptis di Amerika, dan pada tahun 1845, dengan berdirinya organisasi Southern Baptist Convention, keretakan itu menjadi permanen.

Keretakan sebenarnya dimulai sekitar tahun 1830-an. Emosi membumbung tinggi ketika terjadi sebuah debat antara dua pemimpin, Presiden Wayland dari Brown University dan Richard Fuller dari South Carolina.3 Pemakaian bahasa yang kasar oleh orang-orang lain semakin memperdalam keretakan itu. William Brisbane, editor dari majalah Southern Baptist, seorang pemilik budak dan pembela hak untuk memiliki budak, menjadi yakin akan perlunya penghapusan perbudakan dan mundur dari posisinya, pindah ke Utara, dan menghabiskan dua puluh tahun terakhir dari hidupnya berkhotbah di gereja-gereja Baptis kecil di Wisconsin.

Sebelum perpecahan saudara-saudara di bagian Selatan dengan memulai konvensi mereka sendiri, beberapa saudara-saudara di bagian Utara bertemu pada tanggal 11 Mei 1839 dan membentuk American Baptist Anti-Slavery Convention. Mengadakan sesi pertamanya di New York City, pada tanggal 28, 29,dan 30 April 1840, kaum Baptis utara menyampaikan hal berikut kepada saudara-saudaranya yang setara di selatan: “Adalah keyakinan tetap kami bahwa seluruh sistem perbudakan Amerika, baik teori maupun prakteknya, adalah sebuah pelanggaran terhadap naluri alami, – sebuah penyimpangan prinsip utama keadilan – dan sebuah pelanggaran yang jelas terhadap kehendak Allah yang telah dinyatakan. Demikianlah kami memandang, di dalam seluruh Kitab Suci sebuah kutukan yang nyata dan menyeluruh terhadap perbudakan di Amerika.”

Setelah banyak manuver baik dari pihak saudara-saudara di Utara maupun Selatan untuk mencapai beberapa kompromi, sebuah uji kasus disampaikan kepada Home Society ketika seorang pemilik budak diperkenalkan sebagai seorang kandidat misionari. Kandidat itu ditolak, dan hal inilah yang menyebabkan terbentuknya Southern Baptist Convention pada tahun 1845. Perpecahan itu terbukti permanen, tetapi meskipun demikian hubungan persaudaraan tetap dilanjutkan oleh beberapa orang, dan fenomena tersebut hanya dapat dijelaskan karena kesamaan iman.

Sumber: This Day in Baptist History / Biography Online