Penciptaan vs Evolusi

Pernahkah seseorang, mungkin seorang anak, bertanya kepada anda asal usul dunia ini ? Dari manakah asalnya manusia ? Darimanakah asalnya matahari, bulan dan bintang ? Berapakah usia bumi dan alam semesta kita ? Barangkali anda mencoba untuk mengingat-ingat buku pelajaran di SMP dan SMA, atau mencoba mengooglenya, dan mendapatkan bahwa mayoritas besar jawaban mengandung satu kata kunci: evolusi.

Terutama di kalangan pelajar dan perguruan tinggi, teori evolusi telah menjadi jawaban standar mengenai asal usul dunia. Dunia sekuler, dan mayoritas komunitas ilmiah, tampaknya sepakat bahwa segala sesuatu di alam semesta ini telah berevolusi selama belasan milyar tahun, bahwa semua materi semesta dulu termampatkan dalam satu titik yang kemudian meledak, dan akhirnya menjadi alam semesta yang indah ini. Teori evolusi berusaha menjelaskan bahwa (maaf!) kakek buyut dari kakek dari kakek dari…dst. kita tidak berbeda jauh dari pemeran utama topeng monyet di jalanan. Dan itu dijelaskan seolah-olah itu adalah proses yang ilmiah dan pasti.

Dan sedemikian diagungkannya teori evolusi, hingga siapapun yang meragukannya dapat dianggap kampungan dan kurang berwawasan, dan kalau kasarnya dibilang bodoh. Walaupun Alkitab mengatakan bahwa Allah-lah yang menciptakan Langit dan Bumi dalam 6 hari, bahwa manusia dibentuk-Nya dari debu tanah, namun itu semua menjadi takhayul yang tak berarti di hadapan “bukti-bukti evolusi.” Yang manakah yang benar? Jelas tidak mungkin kedua-duanya benar, dan taruhannya bisa cukup tinggi, sebab di lingkungan akademis di negara-negara Barat, mempercayai kesaksian Alkitab bisa menghambat karir.

Tetapi di sisi lain, mempercayai teori evolusi memiliki konsekuensi yang jauh lebih berat lagi. Jika teori evolusi benar, bahwa manusia berasal dari kera, bahwa Bumi, Matahari, dan seluruh alam semesta ini berasal dari Big Bang, apakah artinya? Artinya ketika Musa menulis kitab Kejadian pasal 1 dan 2, ia sedang mengingat-ingat kisah yang diceritakan kakeknya, yang mendengar ceritanya dari kakeknya lagi, dan seterusnya, yang berarti bahwa Alkitab hanyalah kumpulan dongeng pengantar tidur. Atau, Musa hanya berkhayal saja, mungkin sambil dimabuk anggur, dan mengarang kisah Penciptaan dari imajinasinya sendiri, yang berarti Alkitab adalah kitab yang penuh kebohongan.

Apakah Anda melihatnya? Jika Kejadian pasal 1 tidak dapat dipercayai, apakah kita dapat mempercayai pasal 2, atau pasal 3, atau bahkan seluruh kitab Kejadian? Jika kitab Kejadian adalah bohong, siapa yang dapat yakin bahwa Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan adalah Firman Tuhan yang benar? Dan jika Musa tidak bisa dipercayai, bisakah Daud? Bisakah Samuel? Jika Perjanjian Lama adalah kumpulan dongeng, maka Yesus sendiri, yang mengutip berkali-kali dari Perjanjian Lama, adalah seorang penipu yang lihai. Iblis secara tersembunyi sedang mengajarkan anak-anak, pelajar, mahasiswa, bahkan profesor dan ilmuwan, bahwa Alkitab adalah kitab yang tidak dapat dipercaya. Jika kisah Penciptaan hanyalah dongeng isapan jempol, berarti cerita tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa juga adalah mitos. Maka seluruh doktrin Alkitab tentang dosa, hukuman, dan Juruselamat adalah bohong!

Oleh sebab itu, pertanyaan tentang evolusi dan asal usul dunia bukan lagi sekedar pertanyaan akademis. Ini menyangkut keselamatan jiwa, hidup dan mati, surga dan neraka! Jika Alkitab hanyalah kitab bualan, dan manusia memang berasal dari kera, maka sangat mungkin sama sekali tidak ada surga maupun neraka. Tetapi jika Alkitab benar, maka orang-orang yang percaya evolusi, yang menyangkal Allah Pencipta langit dan bumi, akan masuk ke neraka. Itu adalah harga yang sangat mahal yang harus dibayar. Itulah sebabnya Pembaca perlu menanggap masalah ini dengan serius.

Mungkin ada Pembaca yang protes, jika semua ilmuwan dan data ilmiah mendukung evolusi, bagaimana kita dapat mempertahankan Alkitab? Tentu para pendukung evolusionis senang membanggakan luasnya pengakuan akan teori evolusi. Namun tidak semua ilmuwan percaya teori evolusi. Banyak ilmuwan terkemuka dengan gelar tertinggi di bidangnya dan kontribusi penting terhadap ilmu pengetahuan yang percaya pada kata-kata Alkitab. Banyak kelompok ilmuwan Kristen yang meneliti bidangnya dan mempublikasikannya kepada publik, di antaranya Christian Research Society dan Answers in Genesis. Lagipula, kalaupun jumlah ilmuwan yang percaya teori evolusi lebih banyak, itu tidak membuktikan apa-apa. Suatu teori tidak terbukti benar hanya karena banyak orang yang mempercayainya, atau karena para ilmuwan mengatakannya. Misalnya, jika mayoritas rakyat Indonesia percaya bahwa mantan Presiden Soeharto adalah Presiden terbaik RI, atau partai-partai besar memproklamirkannya, apakah itu menjadi kebenaran? Dalam negara demokrasi, apakah dari antara calon presiden selalu terpilih calon yang terbaik, karena mayoritas telah memilihnya?

Lalu bagaimana dengan data ilmiah? Bukankah teori evolusi telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan? Apakah Alkitab buku yang ilmiah? Karena kesaksian Alkitab didasarkan pada satu-satunya saksi mata pada saat Penciptaan, yaitu Allah sendiri, maka tidak ada cara memvalidasinya. Jika demikian, kesaksian Alkitab hanya dapat diimani (jangan banyak tanya, pokoknya begitu!). Apakah itu berarti Alkitab tidak ilmiah dan hanya orang yang tak berpendidikan yang mempercayainya? Tentu tidak!

Para evolusionis senang sekali membanggakan bahwa teori evolusi adalah hasil penelitian yang mutakhir dan didukung oleh banyak bukti ilmiah. Tetapi perlu diketahui oleh Pembaca, bahwa ini adalah trik. Suatu teori dapat diterima sebagai teori ilmiah jika sesuai dengan kaidah metode ilmiah, yaitu suatu metode yang terdiri dari observasi sistematis, pengukuran, eksperimentasi, pemformulasian, pengujian, dan modifikasi hipotesa. Disusun dengan kata-kata lain, ilmu pengetahuan yang baik haruslah dapat diobservasi, diulangi, dan diuji.

Contohnya, hingga abad ke-17 masih beredar teori generasi spontan, yaitu bahwa makhluk hidup dapat timbul sendirinya dari benda mati. Setiap kali ada tumpukan sampah, selalu ada tikus dan lalat juga. Atau jika daging dibiarkan di tempat terbuka selama jangka waktu tertentu akan timbul belatung. Maka orang menyimpulkan bahwa sampah dapat menghasilkan tikus dan lalat, dan daging bisa menghasilkan belatung. Lalu Francisco Redi merancang suatu eksperimen, dua potong daging dimasukkan ke dalam dua toples. Salah satunya ditutup dengan kasa dan yang lainnya dibiarkan terbuka. Ternyata setelah beberapa waktu, daging yang di toples terbuka ada belatungnya sedangkan daging yang tertutup kasa tidak ada belatung. Ini membuktikan bahwa belatung tidak berasal dari daging. Kemudian Louis Pasteur mendesain eksperimennya sendiri. Ia mempunyai hipotesa bahwa makhluk hidup hanya dapat berasal dari makhluk hidup lain, kini dikenal dengan sebutan hukum biogenesis. Karena tahu bahwa di udara ada banyak mikroorganisme (ditemukan oleh Antoni van Leeuwenhoek), ia merebus kaldu dan menaruhnya di dalam dua buah labu. Labu yang pertama dibiarkan terbuka, sedangkan labu yang kedua memiliki tutup berleher angsa. Sesudah beberapa hari, labu pertama sudah keruh, menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme di dalamnya. Namun labu dengan leher angsa tidak keruh. Ini karena mikroorganisme yang ada pada debu di udara tidak dapat naik melawan gravitasi melewati leher angsa tersebut, dan tidak mengkontaminasi kaldu. Oleh karena itu ia menyimpulkan bahwa kehidupan hanya dapat berasal dari makhluk hidup (omne vivum ex vivo).

Itu adalah contoh dari science yang baik. Fenomenanya dapat diobservasi dan diulangi. Dapat dilakukan eksperimen untuk menguji hipotesanya, dan hasil dari eksperimen tersebut dapat diulang dengan hasil yang sama. Nah, bagaimana jika metode ilmiah ini diterapkan pada evolusi? Teori evolusi mengusulkan bahwa alam semesta bermula dari Big Bang. Pernahkah ada yang mengobservasi kejadian ini? Adakah eksperimen yang dapat merekayasa ulang Big Bang, bahkan dalam skala kecil sekalipun? Atau pernahkah suatu ledakan apapun menghasilkan apa-apa selain kehancuran, kerusakan, dan ketidakteraturan? Kata mereka, Big Bang adalah suatu ledakan dari suatu titik mahapadat, bagaimana terbentuknya — tidak tahu, di mana — tidak tahu, kapan — tidak tahu, apa yang menyebabkan ledakan – tidak tahu, bagaimana ia menghasilkan alam semesta ini – belum jelas. Itu kedengarannya seperti suatu teori yang ilmiah, bukan? Dan ingat bahwa teori evolusi berusaha menjelaskan bagaimana pada awal mula kehidupan, dalam suatu “sup primordial,” beberapa molekul kimia yang sangat kompleks tiba-tiba memutuskan untuk bergabung membentuk makhluk hidup pertama, tanpa adanya seorang Pencipta. Ini adalah, pada intinya, kepercayaan bahwa kehidupan yang paling pertama berasal dari benda non-hidup, alias generasi spontan. Pembaca dapat melakukan penelitian mandiri di internet, dan akan mendapatkan bahwa biogenesis, sering disebut Hukum Biogenesis, merupakan salah satu prinsip dasar ilmiah yang paling terbukti. Sepanjang sejarah pengamatan manusia, prinsip ini terbukti benar, dan teori generasi spontan diakui anti ilmiah. Jadi, Pembaca dapat membayangkan, betapa teori evolusi, yang dapat melawan (atau membatalkan) salah satu hukum dasar ilmu pengetahuan. Ilmiahkah?big-bang

Lalu bagaimana dengan evolusi kera menjadi manusia? Teorinya adalah melalui mutasi dan seleksi alam yang berlangsung selama jutaan tahun, seekor kera perlahan-lahan berubah menjadi manusia. Apakah ini ilmiah? Mari kita uji. Pernahkah diobservasi seekor kera bermutasi menjadi sesuatu yang lain? Tidak. Atau hewan lain? Mungkin dalam film Hollywood, seperti X-Men atau Kura-Kura Ninja. Pernah dibuat eksperimen menggunakan lalat (karena siklus hidupnya pendek, sehingga eksperimennya dapat mencakup ratusan, bahkan ribuan generasi lalat) yang ditembaki radiasi agar mengalami mutasi. Hasilnya adalah lalat sayap pendek, lalat sayap berkerut, lalat tanpa mata, lalat dengan kaki di kepala, lalat mata kuning, lalat mata putih, lalat hitam pekat, dan lalat kuning. Satu kata kunci untuk semua hasil tersebut adalah, mereka semua masih lalat! Dan lalat yang cacat, pula. Dan dari semua lalat yang mengalami mutasi itu, mereka langsung mati atau tidak dapat kawin, sehingga tidak dapat meneruskan mutasinya kepada generasi selanjutnya. Hingga kini, belum ada usaha yang berhasi menghasilkan lalat super, lalat pintar, lalat setengah-kumbang, atau apapun juga selain lalat biasa. Sepanjang pengetahuan manusia, lalat ribuan tahun yang lalu masih sama dengan lalat zaman modern. Jadi dimana, pada sistem apa, dengan mekanisme apa, evolusi dapat diobservasi? Eksperimen apa yang telah membuktikan hipotesa evolusi? Lynn Margulis, dalam suatu simposium, pernah menantang para ilmuwan mikrobiologi yang hadir untuk memberikan satu bukti jelas bahwa serangkaian mutasi kecil dapat menghasilkan suatu spesies baru. Tidak ada yang berani menjawabnya, sekalipun Lynn Margulis bukan orang yang percaya Alkitab.

Oleh sebab itu, teori evolusi tidak lebih ilmiah daripada kesaksian Alkitab. Dan bahkan sebenarnya jauh lebih banyak data dan fakta ilmiah yang mendukung kesaksian Alkitab daripada evolusi. Hal itu akan sedikit disinggung di bawah ini. Memang Alkitab menuntut iman. Itu tidak disangkal. Namun jika melihat banyaknya kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dijawab oleh teori evolusi, maka mempercayai teori evolusi juga menuntut iman yang tidak kecil. Bahkan dapat diperdebatkan bahwa untuk percaya teori evolusi dibutuhkan iman yang lebih besar daripada percaya bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi.

Lalu bagaimana dengan banyaknya “bukti” evolusi? Bukankah fosil-fosil “membuktikan” evolusi? Memang benar ilmu pengetahuan zaman modern telah banyak berkontribusi bagi pengetahuan kita tentang zaman purba. Kita dapat mengobservasi fosil-fosil, formasi geologis, peredaran planet dan komet. Kita dapat mengamati kode genetik yang tersimpan dalam sel dan kita tahu tentang mutasi. Pertanyaannya adalah, apakah semua itu membuktikan evolusi?

Data-data dan fakta-fakta yang dapat diobservasi di lapangan disebut bukti/data empiris. Tetapi data, tidak dengan sendirinya membuktikan teori apa-apa. Data tersebut harus ditafsirkan. Contohnya, fosil, yang sering dicatut oleh evolusionis untuk “membuktikan” evolusi biologis. Adanya fosil suatu makhluk hidup dengan sendirinya hanya membuktikan bahwa dulu pernah hidup makhluk hidup itu. Ia tidak membuktikan usianya sekian juta tahun, itu adalah tafsiran. Ia tidak membuktikan bahwa makhluk itu pernah mengalami mutasi dari bentuk kehidupan yang lebih sederhana, itu adalah tafsiran. Data harus ditafsirkan agar dapat membentuk suatu hipotesa. Kemudian hipotesa diuji, dan apabila ada data lain yang bertentangan dengan hipotesa itu, dibuatlah hipotesa baru. Itu adalah metode ilmiah.

hyracotheriumTetapi menafsirkan arti dari suatu fosil haruslah bergantung pada data-data lain dan beberapa asumsi. Di sinilah si fosil, yang sebenarnya tidak membuktikan evolusi, dapat “dipelintir” agar seolah-olah membuktikannya. Para evolusionis menunjuk kepada beberapa fosil yang jika mereka susun, seolah menunjukkan perubahan dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Gambar di samping adalah diagram evolusi kuda. Diagram tersebut dengan rapi disusun untuk memberi kesan bahwa kuda modern (Equus) berasal dari Pliohippus, yang berasal dari Merychippus, yang berevolusi dari Mesochippus, dan ujung-ujungnya berasal dari Hyracotherium sekitar 50 juta tahun yang lalu. Tetapi kita perlu bertanya, dari mana datangnya kesimpulan itu? Jika hari ini dibentangkan di depan kita lima buah fosil ini, bagaimana sampai pada kesimpulan bahwa kelimanya merupakan suatu “garis keturunan?”

Data pertama yang dibutuhkan adalah usia fosil-fosil tersebut. Para evolusionis mengasumsikan usianya beberapa juta hingga puluhan juta tahun, suatu asumsi yang keliru tentunya. Lalu bagaimana mereka menetapkan usia masing-masing fosil? Paling sering, mereka merujuk pada tabel geologis, yang mendiagramkan lapisan-lapisan tanah. Masing-masing lapisan tanah diberi “tanggal,” misalnya zaman Cambrian, pre-Cambrian, Jurassic, dll. Lalu bagaimana lapisan-lapisan itu ditentukan zamannya? Berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan di lapisan tersebut. Misalnya lapisan tertentu mengandung banyak fosil Trilobit, karena Trilobit adalah makhluk zaman Cambrian (500-600 juta tahun yang lalu), maka lapisan itu pastilah lapisan Cambrian. Jadi, Mesohippus ditemukan di lapisan Eocene, yang berusia 40-30 juta tahun. Lapisan Eocene berusia 40-30 juta tahun karena ditemukan fosil Mesohippus di dalamnya. Ini adalah nalar yang berputar-putar! Kesimpulannya, usia fosil tersebut adalah murni asumsi, yang didasarkan pada asumsi lain, yaitu bahwa evolusi benar-benar terjadi. Mereka harus menetapkan usia yang fantastis karena jika ternyata Hyracotherium ternyata hidup sama-sama dengan Equus dan Pliohippus dan yang lain, maka runtuhlah teori evolusi kuda.

Sebenarnya, fakta-fakta fosil “kuda” di lapangan justru membantah evolusi. Karena Hyracotherium adalah yang paling tua, seharusnya kita menemukannya pada lapisan tanah yang paling dalam. Faktanya, fosil dari “proto-kuda” yang paling tua pernah ditemukan dekat dengan permukaan tanah! Pernah juga ditemukan fosil-fosil dari berbagai spesies pra-kuda, terkubur dalam kuburan yang sama! Itu artinya semua hewan tersebut hidup pada satu zaman yang sama. Lagi pula, belum pernah ditemukan satu set fosil yang lengkap di satu benua manapun. Sebaliknya, fosil-fosil nenek moyang kuda itu dikumpulkan dari berbagai benua dan disusun agar tampak mendukung evolusi. Dan parahnya, ketika para evolusionis menyatakan bahwa dalam evolusinya, ukuran kuda semakin besar. Tetapi mereka lupa bahwa ukuran kuda modern memiliki variasi yang sangat besar! Kuda terbesar hari ini adalah Clydesdale (hingga 183 cm) dan yang terkecil adalah Falabella (rata-rata 76 cm).

Lagipula, hanya dengan melihat dua fosil, misalnya Equus dan Pliohippus, tidak dapat disimpulkan bahwa keduanya berevolusi dari satu nenek moyang yang sama. Itu adalah asumsi yang didasarkan pada kerangka pemikiran evolusi. Apalagi tidak ada proses alami apapun yang dapat menjelaskan bagaimana caranya Pliohippus bisa pelan-pelan berubah menjadi Equus.

Pada kesimpulannya, teori evolusi bukanlah suatu teori ilmiah yang didukung oleh fakta-fakta. Justru sebaliknya, Alkitablah yang didukung oleh ilmu pengetahuan sejati. Mengenai segala hal ilmiah yang akhirnya terbukti oleh ilmu pengetahuan, akan ada artikel lain yang membahasnya. Memang untuk menerima kesaksian Alkitab dibutuhkan iman. Namun iman tersebut bukanlah iman yang buta, yang tak masuk akal. Sedangkan teori evolusi merupakan angan-angan yang dibungkus dalam kerudung ilmu pengetahuan.

Banyak orang berkata bahwa ilmu pengetahuan dan agama tidak dapat digabungkan. Ini tidak benar. Ilmu pengetahuan yang sejati pasti cocok dengan Alkitab, karena Alkitab ditulis oleh Sang Pencipta ilmu pengetahuan, Allah yang maha bijak dan maha tahu. Siapapun yang meragukan Alkitab dapat mencari kesalahannya tanpa takut dianiaya. Hingga hari ini belum ada yang pernah dapat membuktikan kesalahan Alkitab. Jika Pembaca menemukan kesalahan Alkitab, silahkan tanyakan pada Laboratorium Theologi GITS.

Andai kita sejenak melupakan masalah ilmu pengetahuan, dan melihatnya hanya dari sudut pandang iman. Orang Kristen harus sadar di pihak mana evolusi berdiri. Teori evolusi berdiri di seberang, berlawanan dengan Alkitab. Beberapa orang lain mencoba berkompromi dengan berusaha mencocokkan teori evolusi dengan Alkitab. Ini juga tidak benar. Sebab inti dari teori evolusi menyangkali Allah, dan yang lebih parah lagi adalah penyangkalan akan Firman Tuhan. Jika teori evolusi benar maka Kejadian pasal 1-11 salah, dan itu sama artinya dengan kehancuran seluruh Alkitab. Sederhana sekali. Percaya teori evolusi berarti tidak percaya Alkitab.

Pembaca sekalian patut menaruh perhatian yang besar pada masalah evolusi, sebab taruhannya adalah keselamatan generasi berikut. Jika teori evolusi diajarkan di sekolah-sekolah, universitas-universitas, maka anak-anak dan kaum muda akan tertipu oleh trik Iblis. Hasilnya mereka akan menolak Firman Tuhan. Jangan biarkan teori evolusi menjerumuskan generasi berikut ke neraka. Sikap Anda dapat membawa perbedaan!***

oleh dr. Andrew M. Liauw, M. Div.
Sumber: Jurnal Teologi PEDANG ROH Edisi 70 Januari-Maret 2012