Sumber Berkat Rohani

Sekolah Minggu pertama di Amerika didirikan pada bulan September 1799 di Pawtucket, Rhode Island, dan selama dua puluh lima tahun sekolah itu dijalankan seperti sekolah harian biasa setiap hari Minggu dengan penggunaan buku-buku ejaan sebagai perlengkapan murid-muridnya. Akhirnya, gembala-gembala jemaat mulai membayangkan potensi Sekolah-sekolah Minggu yang berorientasikan pada hal-hal rohani, dan rangkaian pelajaran dialihkan kepada Firman Allah. Sekolah Minggu menjadi alat yang efektif bagi penginjilan. Kita hanya bisa mengira-ngira, apa jadinya Kekristenan hari ini tanpa Sekolah-sekolah Minggu lokal!

Sekolah Minggu pertama di Philadelphia didirikan pada tahun 1815 dan yang pertama di Boston pada tahun 1816. Pada tahun 1824, “Latter Day Luminary,” sebuah majalah Baptist yang mempromosikan misi, melaporkan, “Sekolah Minggu yang diatur dengan benar adalah lawan terhebat dan yang paling berhasil melawan Pangeran Kegelapan. . . . Kiranya sekolah-sekolah ini disayangi, kiranya mereka bertambah-tambah; tidak berapa lama, tempat yang sunyi akan bergirang karena mereka, dan padang-gurun akan berbunga seperti mawar.”

Sebagaimana pertumbuhan Baptis dalam bidang lainnya, tidak ada “master plan” dan Sekolah-sekolah Minggu berkembang secara spontan. Literatur dibutuhkan baik untuk melatih guru-guru dan menyediakan bahan rohani untuk murid-murid. Pada akhirnya, perkumpulan-perkumpulan Sekolah Minggu bermunculan, tetapi perkumpulan-perkumpulan tersebut tidak memenuhi kebutuhan dari gereja-gereja Baptis, karena literatur yang dibutuhkan adalah yang mengajarkan ciri khas pengajaran Baptis. Salah seorang yang melihat kebutuhan ini adalah Ira M. Allen, agen dari Baptist General Tract Society. Pada tahun 1832 Allen menulis, “Sekarang ini, sebagian kebenaran Allah tidak turut dimasukkan dalam semua buku-buku Sekolah Minggu yang diterbitkan oleh American Union, yang menjadi bacaan utama bagi ratusan ribu para orang-orang muda di seluruh negeri. Dan kami, sebagai sebuah denominasi, tidak mempunyai satu buku pun untuk Sekolah-sekolah Minggu, yang berisikan pandangan-pandangan khas kami.”

Ketika anggota-anggota Triennial Convention mendapatkan tekanan yang semakin meningkat untuk menyediakan sesuatu untuk Sekolah-sekolah Minggu Baptis, dalam pertemuan tiap tiga tahun di Richmond, Virginia, pada tahun 1835 organisasi tersebut meminta Baptist General Tract Society untuk mengubah peraturan dasar mereka, supaya sebagai tambahan pekerjaan pencetakan traktat, mereka dapat “menerbitkan dan mendistribusikan buku-buku untuk penggunaan dalam keluarga dan Sekolah-sekolah Minggu.” The Hudson River Association (New York), pada tahun 1839, mendesak “kebutuhan darurat akan suatu organisasi Sekolah Minggu Baptis untuk melengkapi literatur untuk anak-anak yang sesuai dengan keyakinan-keyakinan Baptis.”

“Hal ini akhirnya tercapai pada tanggal 30 April, 1840, di New York City, ketika perwakilan dari lima belas negara-negara bagian, dari New Hampshire hingga Louisiana, mengambil suara untuk mengubah kebijakan dan nama dari organisasi pencetak traktat itu menjadi ‘The American Baptist Publication and Sunday School Society.'”

Untuk pertama kalinya, Sekolah-sekolah Minggu Baptis dapat mendapatkan bahan biografi, doktrinal, dan sejarah yang ditulis dari sudut pandang seorang Baptis. Tentu saja, hanya beberapa tahun kemudian, perpisahan terjadi antara kaum Baptis di Utara dan Selatan, dan dalam abad ini, perbedaan doktrinal telah menyebabkan munculnya banyak penerbitan-penerbitan Baptis yang menyediakan literatur untuk Sekolah-sekolah Minggu Baptis dalam perkumpulan-perkumpulan dengan perbedaan-perbedaan doktrin, etnis, dan budaya. Namun, kita bersukacita dalam penyebaran pengajaran-pengajaran kita melalui media cetak untuk penggunaan di seluruh dunia!

Nas: 2 Timotius 2:15