Kamp Penjara Korea Utara

Berikut ini disadur dari “North Korean Prison Camps Are Like Hitler’s Auschwitz,” Business Insider, 20 Feb. 2013.

Kamp-kamp penjara di Korea Utara adalah dunia kematian, siksaan, dan kerja paksa yang tertutup, di mana bayi-bayi dilahirkan sebagai budak, menurut dua orang yang berhasil lolos yang menyamakan horor kamp-kamp ini dengan suatu Holocaust (mengacu kepada penganiayaan Hitler kepada orang Yahudi) yang sedang berlangsung.

‘Orang-orang berpikir bahwa Holocaust terjadi di masa lampau, tetapi hal ini masih merupakan realita yang sangat jelas. Ini sedang terjadi di Korea Utara,” Shin Dong-hyuk memberitahu AFP melalui seorang penerjemah di sampingnya pada sebuah pertemuah hak asasi manusia di Jenewa. Shin sendiri menghabiskan 23 tahun pertamanya di sebuah kamp penjara di negara yang sangat menjaga rahasia tersebut. Di sana dia disiksa dan dikenakan kerja paksa sebelum dia meloloskan diri dengan spektakuler tujuh tahun lalu – dan memberikan kepada dunia jendela kisah asli tentang kehidupan di dalam kamp-kamp ini.

Kamp 14 – sebuah kamp kerja budak raksasa terdiri dari sejumlah desa, pabrik, pertanian dan tambang – adalah salah satu dari lima kamp penjara yang diketahui ada di Korea Utara, dan berisikan hingga 200.000 orang. Chol-Hwan Kang, kini 43 tahun, dikirim ke Kamp 15 dengan seluruh keluarganya ketika dia berumur 9 tahun, untuk melakukan penyesalan atas kecurigaan ketidaksetiaan kakeknya. Dia menghabiskan 10 tahun di sana sebelum keluarganya dilepaskan dan belakangan dia berhasil lari ke Cina dan terus ke Korea Selatan – rute yang sama yang ditempuh Shin.

Pada usia 13 tahun, Shin dipaksa untuk menyaksikan eksekusi atas ibu dan saudaranya. Shin, yang mengatakan bahwa ayah dan kakeknya dikirim ke kamp karena dua pamannya sepertinya membelot ke Selatan, mengatakan bahwa dia semestinya seumur hidup berada di kamp itu. Korea Utara memiliki sistem “bersalah karena ada hubungan” di mana hingga tiga generasi anggota keluarga dari seorang tertuduh bisa juga dihukum.

‘Setiap hari saya melihat penyiksaan, dan setiap hari di kamp saya melihat orang-orang mati karena malnutrisi dan kelaparan. Saya menyaksikan banyak teman mati dan saya sendiri hampir mati karena kekurangan gizi,” demikian tutur Kang.

Sumber: Way of Life