Injili: Neraka Merusak Karakter Allah

Edward Fudge, penulis dari The Fire that Consumes: A Biblical and Historical Study of the Doctrine of Final Punishment, mengatakan bahwa doktrin tentang penyiksaan kekal adalah “suatu skandal yang buruk melawan karakter Allah sendiri” (“Interview: Scholar Edward Fudge,” Christian Post, 23 Juni 2011).

Fudge, yang percaya bahwa orang-orang yang tidak diselamatkan akan dilenyapkan sama sekali (annihilasi), mengatakan bahwa Allah yang dapat melemparkan orang ke dalam api untuk menderita selamanya “tidak kedengaran seperti Allah yang saya kenal dan lihat dalam Yesus Kristus.”

Ini adalah pendapat yang berkembang pesat dalam lingkaran “injili.”

Rob Bell mengatakan bahwa Allah yang akan mengirim orang-orang terhilang ke dalam neraka yang kekal adalah “menakutkan dan membuat trauma dan membuat jijik” (Love Wins, Kindle location 1273-1287, 2098-2113). Brian McLaren setuju dengan pandangan tersebut. Demikian juga dengan penulis novel The Shack yang mengatakan bahwa Allah yang “menonton dari kejauhan dan menghakimi dosa” adalah “Zeus versi Kristen.”

Semua ini mengingatkan kita akan seorang modernis, G. Bromley Oxnam, yang menyebut Allah Perjanjian Lama yang membenci dosa sebagai “seorang bully yang kotor” dalam bukunya, tahun 1944, Preaching in a Revolutionary Age.

Setengah abad yang lalu, para pemimpin Injili menolak pemisahan (separasi) dan memutuskan untuk berasosiasi dengan para modernis dengan cara tinggal tetap dalam denominasi-denominasi dan sekolah-sekolah yang korup dan juga duduk di bawah kaki mereka untuk mendapatkan pendidikan theologi. “Teknik infiltrasi” ini tidak berhasil “menginjili” para modernis, tetapi yang jelas telah membuat para injili semakin “modernis.”

Sumber : graphe-ministry.org / wayoflife.org