Aparat Keamanan Cina Serbu Gereja

Cina terus berusaha menyingkirkan gereja di dalam negara nya. Sebuah laporan terbaru mengenai diskriminasi dan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan China terhadap kebebasan beragama kembali terjadi. Kali ini mereka menyasar ke sebuah kegiatan Sekolah Minggu dari gereja rumah di Urumqi, Xinjiang milik jemaat bernama Bao Yun yang sedang mengadakan Bible Camp pada 24 Juli lalu.

Laporan ini disampaikan oleh China Aid yang membeberkan sejumlah fakta terkait kekesaran tidak bertanggungjawab tersebut. Diskriminasi tersebut dimulai pada pagi hari ketika tujuh hingga delapan orang penyusup mengepung lokasi dimana Bible Camp itu berlangsung. Para penyusup menolah mengidentifikasi identitas mereka dan melarang siapapun (termasuk 28 anak sekolah minggu) untuk keluar dari lokasi tersebut.

Para penyusup itu kemudian mengambil gambar setiap siapapun yang berada di lokasi itu. Karena merasa terganggu, tiga orang pengajar sekolah minggu kemudian meminta kepada para penyusup itu untuk pergi dan berhenti mengambil gambar. Para penyusup pun pergi, namun selang beberapa waktu kemudian mereka kembali dengan pasukan kepolisian Yangmaogong dalam jumlah besar beserta para agen keamanan dari Departemen Perlindungan Keamanan Domestik.

Pasukan ini langsung merangsek kedalam rumah Bao Yun tersebut, mengepung dan mengeliling para pengajar sekolah minggu, anak-anak dan orangtua mereka. Kemudian menyatakan bahwa pertemuan itu adalah ilegal dan terlarang. Pasukan segera memaksa mereka untuk ikut ke kantor polisi. Beberapa anak-anak yang menolak ikut, mendapatkan perlakukan kasar dan dicekoki obat bius hingga terkapar di lantai. Mereka semua sadar ketika sampai di kantor polisi.

Pemilik rumah tempat Bible Camp berlangsung, Bao Yun berikut suaminya dan ketiga guru pengajar sekolah minggu ditahan. Seluruh barang-barang berharga dirumahnya hilang, berikut aliran listrik yang diputus secara sepihak oleh kepolisian dan juga intimidasi terhadap anak-anak sekolah yang mengalami traumatis seketika keluar dari kantor polisi. Kejadian ini membuat para orang tua sangat prihatin dan mempertanyakan keadilan dan kebijaksanaan dari pemerintah setempat terhadap kebebasan beragama.

Seluruh pekerja aktivis kemanusiaan dan HAM termasuk juga China Aid yang terus memonitor dan ikut membrikan bantuan hukum, mengutuk keras atas kejadian tersebut. Meminta kepada pemerintah China untuk membebaskan para pengajar sekolah minggu tersebut, mengembalikan harta benda yang dirampas dan pada umumnya mengenai kegiatan beribadah umat Kristen yang harus dilindungi dan tidak ditindas lagi.

Sumber: Jawaban.com, 14 Agustus 2012. “Aparat Keamanan China Kepung Bible Camp Sekolah Minggu”.