10 ALASAN MEMPERCAYAI ALKITAB

mengapa percaya alkitab?1. KEJUJURANNYA

Alkitab sungguh jujur. Ketika manusia menulis biografi tentang pahlawan-pahlawannya, seringkali ia akan menghilangkan atau memperlembut kesalahan-kesalahan mereka; tetapi Alkitab memperlihatkan kualitas ilahinya dengan menyatakan manusia sebagaimana adanya. Bahkan orang-orang yang terbaik dalam Alkitab sekalipun digambarkan lengkap dengan segala kesalahan mereka.

Kita diberitahu dengan jelas tentang pemberontakan Adam, kemabukan Nuh, perselingkuhan Daud, kesesatan Salomo, ngambeknya Yunus, penyangkalan Petrus akan tuannya, perselisihan Paulus dan Barnabas, ketidakpercayaan para murid akan kebangkitan Yesus Kristus, dan juga dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan gereja-gereja mula-mula. Alkitab ditulis oleh orang-orang Yahudi, tetapi dengan jujur membeberkan kesalahan-kesalahan orang-orang Yahudi: ketegaran dan ketidakpercayaan mereka yang menyebabkan mereka berkelana di padang gurun selama 40 tahun, kejatuhan mereka ke dalam penyembahan berhala pada masa hakim-hakim, pemberontakan yang menyebabkan mereka terbuang dari tanah perjanjian dan tersebar ke seluruh penjuru bumi selama dua milenium. Sungguh, kejujuran Alkitab membuktikan bahwa Ia adalah Firman Allah yang hidup.

Alkitab memperlihatkan bahwa sifat alamiah manusia cenderung memusuhi Allah. Alkitab memprediksikan masa depan yang penuh dengan masalah. Alkitab mengajarkan bahwa jalan ke Surga sempit dan jalan ke Neraka lebar. Jelaslah, Alkitab ini tidak ditulis untuk mereka yang hanya menginginkan jawaban sederhana, instan, ringan atau berita yang hanya akan menyenangkan telinga saja.

2. KETAHANANNYA

Ketika negara Israel modern muncul kembali setelah ribuan tahun tercerai-berai dan menghilang dari peta dunia, seorang gembala Beduin menemukan satu dari harta karun arkeologis yang paling penting di zaman ini. Dalam sebuah gua di tepi Barat Daya Laut Mati, di dalam sebuah buli-buli yang pecah ditemukan dokumen-dokumen yang telah disembunyikan selama dua ribu tahun. Temuan-temuan tambahan menghasilkan salinan-salinan naskah yang umurnya seribu tahun lebih tua dari salinan-salinan tertua yang diketemukan sebelumnya. Satu dari yang paling penting adalah salinan kitab Yesaya. Isinya ternyata sama dengan kitab Yesaya yang ada di Alkitab kita. Gulungan-gulungan naskah Laut Mati itu muncul dari debu bagaikan jabatan tangan yang bersifat simbolik untuk mengucapkan selamat datang kepada bangsa Israel yang baru kembali ke tanah airnya. Gulungan-gulungan itu menyingkirkan pendapat dari sebagian orang yang mengatakan bahwa Alkitab yang asli sudah hilang ditelan waktu dan sudah rusak.

Penulis sekaligus Filsuf asal Prancis yang sangat terkenal bernama Voltaire, seorang skeptis, yang sering mengekspresikan kebenciannya terhadap Alkitab dan kekristenan di dalam tulisannya. Kebenciannya terhadap firman Allah sangat membara karena firman Allah mengatakan bahwa pada suatu hari ia akan berdiri di depan Takhta Putih yang besar itu untuk dihakimi oleh Allah yang mahakuasa. Dengan penuh kebencian, Voltaire menulis suatu ramalan tentang masa depan Alkitab dari perpustakaannya di Paris lebih dari dua abad yang lalu: “Dalam waktu seratus tahun Alkitab lenyap dari bumi Eropa.” Akan tetapi, yang terjadi malah kebalikan dari ramalan Voltaire: The British and Foreign Bible Society membeli perpustakaannya, di mana ia menuliskan prediksinya yang keliru itu, dan tidak lama kemudian lantai sampai langit-langit perpustakaannya dipenuhi dengan ribuan Alkitab (David John Donnan, Treasury of the Christian World, New York: Harper Brothers, 1953).

3. PERNYATAANNYA MENGENAI DIRINYA SENDIRI

Apa yang dikatakan Alkitab tentang dirinya sendiri adalah hal yang penting untuk diketahui. Jika para penulis Alkitab sendiri tidak pernah mengklaim bahwa mereka berbicara bagi Allah, tentunya kita berbuat lancang jika kita membuat klaim itu bagi mereka. Mungkin kita juga akan menghadapi persoalan lain. Kita mungkin akan menghadapi sejumlah misteri yang tidak terpecahkan, yang terkandung di dalam tulisan yang bersifat historis dan etis. Dan kita tidak akan mempunyai sebuah buku yang telah mengilhami munculnya sinagoga dan gereja yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh dunia.

Sebuah kitab yang tidak mengklaim bahwa ia berbicara atas nama Allah tentunya tidak akan menjadi fondasi bagi iman ratusan juta orang Yahudi dan Kristen (2 Pet. 1:16-21). Namun, dengan didukung oleh bukti dan argumentasi yang cukup, para penulis Alkitab telah mengklaim bahwa mereka diilhami oleh Allah. Berhubung jutaan orang telah mempertaruhkan kehidupan mereka saat ini dan saat kekekalan pada isi Alkitab itu, jika Alkitab bukanlah buku yang baik, maka para penulisnya berbohong secara konsisten tentang sumber informasi mereka.

4. MUKJIZATNYA

Peristiwa keluarnya Israel dari Mesir memberikan dasar historis untuk mempercayai bahwa Allah telah menyatakan Diri-Nya sendiri kepada Israel. Seandainya Laut Merah tidak terbelah sebagaimana yang diceritakan Musa, Perjanjian Lama kehilangan otoritasnya untuk berbicara atas nama Allah. Demikian pula Perjanjian Baru juga bergantung pada mukjizat. Seandainya Yesus secara jasmani tidak bangkit dari kematian, maka iman Kristen didirikan di atas kebohongan, kata Paulus (1 Kor. 15:14-17). Untuk memperlihatkan kredibilitasnya, Perjanjian Baru menyebutkan saksi-saksinya, dan ini dilakukannya di dalam kerangka-waktu yang memungkinkan klaim-klaim itu diuji kebenarannya. (1 Kor. 15:1-8).

Banyak dari para saksi itu akhirnya mati sebagai martir, bukan untuk membela keyakinan moral atau anggapan-anggapan mereka, tetapi untuk klaim mereka bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Memang mati sebagai martir bukan hal aneh, namun tetaplah penting untuk menyadari apa yang menyebabkan mereka rela kehilangan nyawanya. Banyak orang rela mati untuk sesuatu yang mereka percaya sebagai kebenaran. Dan tidak ada yang rela mati untuk sesuatu yang mereka tahu sebagai kebohongan.

5. KESATUANNYA / KEUTUHANNYA

Empat puluh pengarang yang berbeda menulis 66 kitab dalam Alkitab selama lebih dari 1.600 tahun. Empat ratus tahun yang hening memisahkan 39 kitab Perjanjian Lama dari 27 kitab Perjanjian Baru. Namun demikian, dari Kejadian sampai Wahyu, semua kitab menceritakan satu cerita yang utuh. Bersama-sama mereka memberikan jawaban yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan terpenting yang dapat kita tanyakan: Dari mana kita berasal? Mengapa kita ada di sini? Ke mana kita akan menghabiskan masa kekekalan? Bagaimana kita dapat mengatasi rasa takut? Bagaimana kita dapat berhasil? Bagaimana kita bisa bangkit dari keadaan kita yang buruk dan tetap berpengharapan? Bagaimana kita dapat berdamai dengan Pencipta kita? Jawaban-jawaban Alkitab yang konsisten terhadap pertanyaan-pertanyaan ini memperlihatkan bahwa Alkitab bukanlah kumpulan buku yang berbeda, melainkan satu buku.

6. KEAKURATANNYA DARI SEGI SEJARAH DAN GEOGRAFI

Selama berabad-abad banyak orang meragukan keakuratan Alkitab dari segi sejarah dan geografi. Namun para arkeolog modern berulang-ulang telah menggali dan menemukan bukti mengenai orang-orang, tempat-tempat, dan kebudayaan-kebudayaan yang digambarkan dalam Alkitab. Dari waktu ke waktu, kebenaran Alkitab telah dibuktikan sebagai catatan yang lebih dapat diandalkan daripada spekulasi para ahli. Turis masa kini yang mengunjungi musium dan tempat-tempat yang dilukiskan di Alkitab mau tak mau sangat terkesan dengan latarbelakang geografis dan historis dari teks Alkitab yang ternyata riil.

7. REKOMENDASI DARI KRISTUS

Banyak orang telah mengatakan hal yang baik mengenai Alkitab, tetapi tidak ada yang memberi rekomendasi sekuat yang diberikan Yesus dari Nazaret. Ia merekomendasikan Alkitab bukan hanya dengan ucapan-Nya tetapi juga dengan kehidupan-Nya. Pada saat-saat pencobaan-Nya, pengajaran di hadapan orang banyak, dan melalui penderitaan-Nya, Yesus dengan jelas memperlihatkan bahwa Ia mempercayai Kitab Suci Perjanjian Lama lebih dari sekadar tradisi nasional (Mat. 4:1-11; 5:17-19; Lukas 24:44).

Yesus percaya bahwa Alkitab adalah buku tentang Diri-Nya sendiri. Kepada orang-orang senegara dengan-Nya Ia berkata, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh. 5:39-40).

8. KEAKURATAN NUBUATAN / RAMALANNYA

Dari zaman Musa, Alkitab telah meramalkan peristiwa-peristiwa yang tak seorang pun ingin mempercayainya. Sebelum Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Musa meramalkan bahwa Israel akan tidak setia, bahwa Israel akan kehilangan tanah yang Allah berikan kepadanya, dan bahwa Israel akan tercerai-berai ke seluruh dunia, dikumpulkan kembali, dan kemudian dibangun kembali (Ula 28-31; Yehezkiel 36:24). Orang Yahudi masih ada hari ini sebagai suatu bangsa modern, dengan memiliki negara mereka sendiri, yaitu Israel membuktikan Alkitab benar. Penggenapan dari nubuatan ini adalah salah satu bukti terbesar dari keakuratan Alkitab dan kesetiaan Allah..

Pusat dari ramalan atau Perjanjian Lama adalah janji tentang Mesias yang akan menyelamatkan umat Allah dari dosa-dosa mereka dan pada akhirnya membawa penghakiman dan kedamaian bagi seluruh dunia, juga terbukti.

Demikian pula, ketika Alkitab menubuatkan mengenai kejatuhan Tirus, dalam kitab Yehezkiel mengatakan bahwa batu, kayu, dan tanahnya akan dibuang ”ke dalam air” (Yehezkiel 26:4, 5, 12). Nubuat ini digenapi pada tahun 332 SM ketika Aleksander Agung memerintahkan pasukannya agar menggunakan puing-puing dari kota di daratan utama yang sudah ditaklukkan untuk membangun jalan penghubung ke bagian Tirus yang ada di pulau, yang kemudian kota Tirus ditaklukkan juga.

Nubuatan Alkitab yang juga dicatat dalam Daniel 8:5-8, 21, 22 dan 11:3, 4 memberikan banyak perincian yang mengesankan tentang ”raja Yunani” yang luar biasa hebat. Penguasa ini akan tersingkir pada puncak kekuasaannya, lalu kerajaannya dibagi menjadi empat, tetapi bukan di antara keturunannya. Lebih dari 200 tahun setelah nubuat ini dicatat, ternyata Aleksander Agung-lah yang menjadi raja itu. Menurut sejarah sekuler, ia tersingkir karena mati muda dan akhirnya imperiumnya dibagi-bagi di antara empat jenderalnya—bukan keturunannya.

Baru-baru ini, Arkeologi telah menemukan bukti keberadaan hampir semua raja-raja Israel, termasuk Daud dan Salomo, istana Salomo dan kandang-kandang kudanya di Megiddo, mengenai istana gading Ahab dan Izebel di Samaria, bait-bait Israel, tembok-tembok yang dibangun oleh Nehemia, dan seribu hal lainnya. Di antara kasus-kasus yang terbaru adalah penemuan Gat, kota asal Goliat, dan Shaaraim, sebuah kota di lembah Elah, tempat Daud bertempur melawan Goliat. Tempat-tempat ini disinggung dalam 1 Samuel 17:19, 52. Aren Maeir, pemimpin penggalian di Tel Tzafit (Gat), mengatakan bahwa nama-nama Filistin telah ditemukan yang mirip dengan nama “Goliat” dan bahwa mereka menemukan bukti Gat adalah kota besar pada zaman itu (“Archaeologists Uncover Goliath’s Hometown,” Arutz Sheva, 13 Juli 2010). Shaaraim memiliki arti “dua gerbang” dan gerbang yang kedua dari benteng kuno ini telah ditemukan baru-baru ini (“Digging Through the Bible,” Arutz Sheva, 20 Juli 2009).

9. KEBERLANGSUNGANNYA

Kitab-kitab Musa ditulis 500 tahun sebelum kitab-kitab Hindu yang paling awal. Musa menulis kitab Kejadian 2.000 tahun sebelum Muhammad menulis Quran. Selama masa yang panjang itu, tak ada buku yang dicintai atau dibenci seperti Alkitab. Tak ada buku yang secara konsisten telah dibeli, dipelajari, dan dikutip seperti Alkitab. Sementara jutaan judul-judul lain muncul dan tenggelam, Alkitab tetap merupakan buku yang menjadi ukuran bagi buku-buku lain. Sekalipun sering diabaikan oleh orang yang merasa tak nyaman dengan ajaran-ajarannya, Alkitab tetap merupakan buku utama dari peradaban Barat.

Guru besar Yale University, William Lyns Phelps, mengatakan, “Peradaban kita didirikan di atas fondasi Alkitab. Sebagian besar gagasan kita, kearifan kita, falsafah kita, sastra kita, seni kita, hukum kita berasal dari Alkitab dari pada berasal dari panduan buku-buku lain.” Ahli falsafah besar asal Inggris, John locke, yang tulisan politiknya memberi saham besar kepada demokrasi Amerika, pernah berkata, “Alkitab merupakan salah satu berkat paling besar yang Tuhan karuniakan kepada manusia.” (William J. Federer, America`s God and Country: Encyclopedia for Quatations)

10. KUASANYA UNTUK MENGUBAH HIDUP MANUSIA

Orang yang tidak percaya sering menunjuk kepada mereka yang mengatakan bahwa mereka percaya Alkitab, tetapi hidupnya tidak berubah. Tetapi sejarah juga ditandai oleh mereka yang kehidupannya menjadi lebih baik oleh karena buku ini. Sepuluh Perintah Allah telah menjadi sumber pengarahan moral bagi banyak orang yang tak terhitung jumlahnya. Mazmur-mazmur Daud telah memberikan kekuatan pada waktu kesulitan dan kehilangan. Khotbah Yesus di Bukit telah menjadi obat bagi jutaan orang untuk mengatasi kesombongan dan sikap legalisme. Prinsip-prinsip Alkitab telah menginspirasi secara positif semua bidang kehidupan manusia.

Uraian Paulus mengenai Kasih di 1 Korintus 13 telah banyak melunakkan hati yang sedang marah. Perubahan hidup dari orang-orang seperti Rasul Paulus, Agustinus, Martin Luther, John Newton, Leo Tolstoy, dan C.S. Lewis menunjukkan perubahan yang dapat dilakukan Alkitab. Bahkan satu bangsa atau suku seperti Celtic di Irlandia, Viking yang liar di Norwegia, atau Indian Auka di Equador telah diubah oleh Firman Allah dan kehidupan serta karya Yesus Kristus yang tak terbandingkan.

Benarlah apa yang dikatakan Ronald Reagen, Presiden AS ke-40, bahwa “Di dalam Alkitab terdapat semua jawaban untuk masalah yang pernah diketahui oleh manusia. Saya berharap bangsa Amerika akan membaca dan mempelajari Alkitab. Keyakinan kokoh saya ialah bahwa nilai abadi yang disajikan dalam halaman-halaman Alkiab mempunyai makna yang besar bagi masing-masing kita. Alkitab bisa menyentuh hati kita, memerintahkan pikiran kita, dan menyegarkan jiwa kita (Sumber: The Encyclopedia of Religius Quotations).

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda masih meragukan Alkitab. Alkitab, sama seperti dunia di sekitar kita, memang mengandung unsur-unsur misteri. Namun demikian, jika Alkitab benar-benar seperti yang dikatakannya, Anda tidak perlu memilah-milah sendiri bukti-bukti yang ada. Yesus justru menjanjikan pertolongan ilahi bagi mereka yang ingin mengenal kebenaran tentang diri-Nya dan ajaran-Nya. Sebagai tokoh utama dalam Alkitab, Yesus berkata, “Barangsiapa mau melakukan kehendak Allah, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri” (Yohanes 7:17).

Satu kunci penting untuk mengerti Alkitab adalah bahwa Alkitab tidak pernah bermaksud untuk menarik kita kepada dirinya sendiri. Setiap prinsip di dalam Alkitab memperlihatkan kebutuhan kita akan pengampunan yang disediakan Kristus bagi kita. Alkitab memperlihatkan mengapa kita perlu membiarkan Roh Kudus hidup melalui kita. Untuk hubungan yang seperti inilah Alkitab diberikan kepada kita.

Diperluas oleh Ps. Alki Tombuku

Judul asli: 10 Reasons to Believe in the Bible. © 2000-2004 RBC Ministries Asia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order