Tallit Dan Tzitzit

Tallit adalah syal yang dipakai oleh orang Yahudi untuk berdoa. Pada keempat ujungnya terdapat tali berpilin yang disebut jumbai atau tzi-tzit (band. Bil. 15:37-41). Jumbai ini bagi orang Yahudi melambangkan pengharapan mereka akan Mesias, ketaatan mereka pada hukum Tuhan, dan penghormatan mereka akan kekudusan Tuhan. Ketika orang Yahudi berdoa, mereka akan memegang jumbai ini dan meletakkannya di kepala mereka.

Menarik untuk dicermati, Lukas secara spesifik menyebut perempuan ini secara sengaja memilih menjamah jumbai jubah Yesus (ay. 44). Bukan bagian yang lain. Tentunya ia telah memperhitungkannya. Dorongan ini tampaknya bukan timbul begitu saja, namun dilandasi pengertian tertentu. Hidup di tengah-tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu, tak ayal perempuan ini tahu makna jumbai jubah yang dipakai Tuhan Yesus.

Dari sini kita mengerti, sebenarnya perempuan ini mengharapkan tiga hal terjadi dalam hidupnya. Pertama, sebagai orang najis, ia rindu ditahirkan dan diikat dengan kekudusan Tuhan. Kedua, ia tahu jika ada orang yang dapat menyelamatkan dan menyembuhkannya, Dia pasti Mesias. Dan ketiga, kesiapannya untuk menaati perintah Allah dan meninggalkan dosa. Iman yang benar akan kesembuhan ini yang menarik keluar kuasa Yesus. Yesus tidak perlu berkata, “Aku mau engkau sembuh” atau, “Dosamu sudah diampuni.” Yesus hanya meneguhkan iman perempuan itu (ay. 46). Apakah Anda memiliki dasar iman yang benar seperti perempuan ini?

Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. (Lukas 8:44)

Saat Iman Kita Terbangun Dengan Benar, Kita Akan Menjangkau Keajaibannya

Sumber: Renungan Harian