Sadrakh, Mesakh & Abednego Dari Babilonia

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; 3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Dan 3:16-18)

Amarah raja makin besar terhadap tiga pemuda ini. Mereka telah menolak untuk menyembah kepada berhala yang telah ia dirikan untuk bangsa nya, sebuah kejahatan yang patut mendapatkan hukuman mati dengan api. “Buat perapian jadi lebih panas!” ia memerintahkan. “Saya ingin perapian itu tujuh kali lebih panas daripada yang biasa nya.” Ia menyuruh orang-orang terkuat nya di dalam pasukan datang dan mengikat tangan mereka. Perapian itu berkobar, dan tembok nya memanas merah seolah-olah hampir meleleh. “Lemparkan mereka”, perintah sang raja.

Ketika mereka melakukan hal tersebut, panas perapian itu luar biasa, dan para prajurit terbakar. Para tahanan segera tidak nampak lagi ketika nyala api menyambar- nyambar dengan terang nya di dalam perapian.

Kemudian ketika ia sedang menyaksikan, Nebukadnezar tiba-tiba melompat takjub. Ia berkata,”Lihat! Ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu, mereka tidak terluka, dan ke empat itu rupa nya seperti anak dewa” (Dan 3:25)

Tiba-tiba Nebukadnezar mengetahui batasan nya di hadaan Allah yang sejati.

Ketika tiba waktu nya peperangan antara baik dan jahat, maka itu bukanlah sebuah pertandingan yang adil. Musuh sangat kuat. Setan harus mengirim iblis-iblis nya di seluruh dunia untuk melakukan kejahatan nya. Sebaliknya Allah sendiri hadir dimana-mana, hadir di segala tempat di segala waktu. Meskipun demikian, batasan musuh tidaklah selalu terlihat jelas ketika kita ada di bawah tekanan dari pihak oposisi. Pada waktu itu musuh nampak menakutkan, mengintimidasi, menaklukkan. Kita untuk sementara lupa akan kuasa Allah yang tidak terbatas.

Apakah engkau menujukan mata mu pada thermostat ketika engkau berada di perapian musuh? Atau engkau fokus pada kehadiran Allah dan mencari kekuatan untuk menahan rasa panas nya?