Richard Furman, Rasul Pendidikan di Selatan

Seperti halnya banyak pengkhotbah Baptis di masa awal, Richard Furman memulai kehidupannya di Utara di Aesopus, New York, pada tahun 1755, namun ketika ia masih bayi, orang tuanya pindah ke South Carolina dan menetap di High Hills di Santee. Di sanalah ia menjadi seorang Kristen, dan pada umur delapan belas, ia mulai berkhotbah dengan tingkat kejelasan yang luar biasa, disertai pengabdian dan tenaga seorang pemuda. Ia mendirikan banyak gereja yang bergabung dengan Charleston Association. Ia ditahbiskan pada tanggal 10 Mei 1774, dan walaupun ia menganut keyakinan Separate Baptist, ia akhirnya dipanggil menjadi gembala Regular Baptist Church di Charleston, South Carolina, tempat ia membawa sebuah semangat penginjilan yang berkobar-kobar selama tiga puluh delapan tahun.

1 Ia berumur dua puluh dua tahun ketika Revolusi Amerika terjadi, dan ia mendeklarasikan bahwa dirinya adalah seorang Whig yang keras (anggota partai politik di Amerika dulu yang berjuang untuk kemerdekaan) dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk kemajuan Amerika. Ketika pihak Inggris menyerbu South Carolina, ia terpaksa mundur ke North Carolina dan Virginia, dan setelah itu Cornwallis memasang harga untuk kepalanya.

Sementara ada di Virginia, ia menjadi teman dekat Patrick Henry, yang menghadiahi dia dengan buku-buku khusus yang selama ini disimpan oleh keturunannya (Furman).

2 Pada masa itu ketika para pelayan Baptis di Selatan yang mengenyam pendidikan dicurigai, terutama di kalangan Separate Baptist yang takut sekolah-sekolah akan melemahkan spiritualitas Baptis, menyimpangkan uang misi, dan ujung-ujungnya menghasilkan pelayan-pelayan sewaan, Richard Furman dikenal sebagai “Apostle of Education” [Rasul Pendidikan].

Ia memimpin asosiasi itu untuk membentuk sebuah Komite Umum pada tahun 1790, untuk mengatur dana pendidikan. Komite ini menyediakan dana untuk beasiswa belajar di kampus Baptis di Providence, Rhode Island, dan bagi anak-anak muda yang belajar di bawah asuhan gembala-gembala yang akan memimpin mereka dalam mempelajari theologi. Sebagai presiden pertama dari Triennial Convention pada tahun 1814, ia berusaha untuk memasukkan pendidikan Baptis sebagai bagian dari pekerjaan konvensi tersebut. Dalam pidatonya, ia berkata, “Sangat disesalkan bahwa perhatian tidak lagi diberikan kepada perkembangan dari pikiran-pikiran pemuda-pemuda saleh ini yang dipanggil ke dalam pelayanan Injil.”

3 Karena kepemimpinannya dalam bidang ini, kampus Baptis pertama di Selatan, yang terletak di Greenville, South Carolina, menggunakan namanya. Furman menjadi seorang tuan tanah yang makmur dari investasi-investasi yang ia lakukan. Ia juga memiliki budak-budak dan menyajikan dengan jelas argumen pembelaan kepemilikan budak yang seringkali dikutip di antara kaum Baptis di Selatan. Menggunakan sejarah dan logika, ia menulis sebuah pembelaan atas perbudakan secara mendetil pada tahun 1822, tetapi inti dari argumennya adalah bahwa” hak memiliki budak jelas dapat dilihat dalam Kitab Suci baik oleh perintah maupun oleh contoh.”

4 Tidak semua Baptis di Selatan mendukung perbudakan. Banyak yang berargumentasi untuk kemerdekaan para budak, beberapa bahkan melepaskan budak-budak mereka, dan yang lainnya pindah ke Utara. Masalah ini menyebabkan perpecahan yang lebih luas di antara kaum Baptis di Utara dan kaum Baptis di Selatan. Perpecahan final akhirnya muncul dengan meletusnya Perang Saudara Amerika. Walaupun ia mempertahankan perbudakan, Furman sepenuh hati mendukung pendidikan bagi para pengkhotbah Baptis.

Puji Tuhan untuk penghapusan institusi (perbudakan) yang begitu buruk dan mengerikan itu dari negara ini yang bangga akan reputasinya sebagai “tanah kebebasan dan rumah bagi para pemberani,” dan kiranya kita memuji Tuhan untuk pembela-pembela pendidikan Kristen yang bersemangat.