Mengapa Harus Berkata Benar?

Mengapa Harus Berkata Benar?

Dr. Joseph Stowell

By Dr. Joseph Stowell.

Berterus terang mengatakan kebenaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Budaya kita sekarang ini telah beralih kepada etika kepuasan diri sendiri, yang mana banyak kesalahan-kesalahan yang tidak hanya ditoleransi tetapi juga dianjurkan sebagai hal yang benar. Sebagai akibatnya, banyak dari kita yang merasa nyaman jika kita berbohong atau tidak berterus terang kepada orang lain.

Seorang penjual barang misalnya, berbohong untuk kepentingan perusahaan pembuat barang tersebut asalkan barang produksinya bisa terjual laris. Membesar-besarkan berita yang tidak benar tentang orang lain supaya seorang karyawan bisa naik jabatan, maka karyawan tersebut biasanya beralasan bahwa perkataan tidak benarnya tentang orang lain adalah sebuah “persaingan antar karyawan”. Pemikiran seperti ini sebenarnya sudah mengalihkan ketidak-benaran dari suatu larangan menjadi sesuatu yang lazim. Ironinya, pelecehan terhadap nilai-nilai etika yang benar pada kenyataannya menimbulkan suatu konsekwensi-konsekwensi yang sangat merugikan banyak pihak.

Kebenaran memiliki banyak nilai-nilai penting. Kebenaran adalah dasar untuk sebuah kepercayaan, integritas, iman, keamanan dan stabilitas. Pada waktu kebenaran diganti dengan kebohongan, maka nilai-nilai tersebut menjadi hancur dan menghilang dari kehidupan orang tersebut.

Di sisi lain, kebohongan adalah teman baik dari ketidak-percayaan, kecurigaan, keraguan, kekacauan, pertikaian, dendam, kebencian dan kemarahan. Kapanpun kebohongan menggantikan kebenaran, teman baik kebohongan akan menyingkirkan kebenaran.

Erosi kebenaran melemahkan semua hubungan tatkala kebohongan disuntikkan. Keluarga menjadi korban, Pemerintah menjadi penjahat, media informasi dipandang skeptis, dan hubungan bisnis mengenakan kain kafan kecurigaan.

Tidak ada satu hubungan apapun bisa bertahan atau berhasil jika dasar dari hubungan tersebut adalah kebohongan.

KONSEKWENSI-KONSEKWENSI ROHANI

Alkitab menekankan pada seriusnya konsekwensi-konsekwensi rohani sebagai akibat dari bermain-main dengan ketidak-benaran. Larangan berbohong telah tertulis di sepuluh hukum Tuhan (Kel. 20:16). Tuhan sangat membenci lidah dusta (Amsal 6:17). Semua pendusta akan mendapatkan bagian mereka di dalam lautan api dan belerang (Why. 21:8). Jadi, mengapa kebenaran itu sangat penting bagi Tuhan?

Pertama, kebenaran menghubungkan kita dengan Tuhan. Pusat perhatian Tuhan akan kebenaran ada dalam sifat-Nya sendiri. Mazmur 31:5 mengatakan, “Tuhan adalah benar”. Titus 1:2 mengatakan “Tuhan yang tidak berdusta”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alkitab lainnya yang menunjukkan bahwa kebenaran adalah karakter Tuhan. Oleh karena itu, komitmen tentang kebenaran sangat berhubungan erat dengan sifat-sifat Tuhan dan pengajarannya.

Kedua, kita diselamatkan (ditebus) supaya kita bisa hidup sesuai dengan gambaran/sifat-sifat-Nya. Tujuan kita hidup di dunia ini sebagai anak-anak Tuhan adalah untuk menjadi serupa dengan gambaran anakNya: Yesus Kristus (Roma 8:29).  Jika kita ikut serta dalam kebohongan, kita telah merusak tujuan mulia keselamatan kita dan kita telah menodai gambaran kemuliaan Tuhan dalam diri Kita.

Ketiga, mengatakan sesuatu yang benar sama dengan ketaatan kita pada kehendak Tuhan. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk mengatakan kebenaran tanpa berbohong dengan alasan apapun juga dan dengan resiko apapun. Amsal 13:5 berkata, “Orang benar membenci dusta”. Kolose 3:9 mengatakan, “Janganlah kamu saling mendustai”. Perintah larangan berbohong atau berdusta ini adalah mutlak, tidak bisa ditawar.

Marilah kita melihat 4 katagori peyelewengan-penyelewengan kebenaran yang harus kita mengerti dan waspadai:

1. MEMPERDAYAI

Ini adalah kecenderungan untuk membuat keputusan yang salah atau mungkin berbagi-bagi kesimpulan dan pendapat kita yang salah kepada orang lain yang mendengarkannya. Terlalu cepatnya kita membuat suatu keputusan/kesimpulan/pendapat bisa menjadi perangkap untuk diri kita sendiri tanpa kita sadari. Korbannya adalah diri kita sendiri dan tanpa kita sadari kita telah menyebarkan berita palsu yang sama kepada orang lain apakah secara langsung atau tidak.

Kita tidak selalu bisa mencegah orang lain berpendapat/berkesimpulan salah tentang diri kita, akan tetapi kita bisa menjadi lebih sadar akan asumsi anda tentang orang lain.

Memperdayai adalah dosa dari menyebarkan pendapat-pendapat yang salah; apakah dengan maksud menipu atau ditipu olehnya. Dan sering kali kita melakukannya tanpa menyadarinya, bukankah ini sangat menyedihkan? Ini bisa menanamkan benih-benih ketidakpercayaan, keraguan, dan kebingungan dan secara tidak langsung tanpa bisa diperbaiki dapat menghancurkan reputasi seseorang.

Kita harus belajar untuk menahan diri dari godaan untuk terlalu cepat berpendapat tanpa mengumpulkan data-data yang cukup tentang subjek tersebut. Kecerobohan kita tanpa detail dan tanpa memiliki bukti yang cukup secara cepat bisa membawa kita pada fitnah.

Bagaimanakah kita membentengi diri kita dari godaan untuk salah menilai dan menyebarkan informasi yang palsu? Kita harus mulai dengan:

a. Buah Roh Kesabaran dapat menahan keputusan sampai bukti-bukti yang diperlukan sudah cukup (Galatia 5:22)

b. Kasih adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah sampai fakta pembuktiannya ternyata berbeda (1 Korintus 13:6-7)

c. Iman yang mempercayakan situasi pada keadilan Tuhan, dimana Tuhan yang mahatahu berjanji untuk selalu bersikap adil kepada semua (1 Petrus 1:17).

d. Semangat kita untuk melindungi orang lain dengan menasehati orang-orang yang menuduh sembarangan untuk menahan emosinya sampai semua fakta terkumpul (1 Korintus 13:4)

e. Keterbukaan untuk langsung mencari (jika diperlukan) sumber dari semua yang tersangkut untuk memperjelas bukti (Matius 18:15).

2. PENIPUAN

Kita cenderung untuk menyamakan fakta dengan kebenaran, padahal kita tahu seringkali fakta bisa diatur atau direkayasa untuk menjadi “kebenaran”. Dahsyatnya suatu penipuan terjadi di Kejadian 3:1-6 dimana setan tidak hanya mengontrol pikiran Hawa, tetapi juga menyebabkan Adam jatuh ke dalam dosa, dan menjadikan semua manusia berdosa (Roma 5:12). Taktik Setan dimulai dengan pertanyaan: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kejadian 3:1). Seketika itu Setan mengatakan suatu informasi yang memang benar. Tetapi kata-kata Setan berikutnya memaparkan sepertinya betapa otoriter dan sangat pelitnya Tuhan. Bagi Hawa, yang setelah dipengaruhi perkataan Setan, ia mulai merasa bahwa melayani Tuhan sepertinya adalah perbudakan dan menyimpulkaan bahwa Tuhan menghalanginya memiliki kepenuhan hidup yang lebih baik.

Sebenarnya Tuhan mengatakan: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17). Kalau kita merenungi apa arti sebenarnya perkataan Tuhan ini, maka kita bisa merasakan kasih Tuhan yang begitu besar. Tuhan menyuruh menikmati semua hasil pohon yang ada di Eden, tetapi hanya satu pohon saja yang tidak boleh kita makan buahnya—jadi, Tuhan itu sebenarnya sangat pemberi dan penuh kasih.

Setan memutarbalikan kebenaran perkataan Tuhan sedemikian rupa sehingga Hawa lebih berpikir bahwa sebenarnya Tuhan tidak ingin mereka lebih baik. Setan membelokkan arti sebenarnya perkataan Tuhan untuk bisa mendapat perhatian Hawa dan tentunya, semua keturunannya: seluruh manusia yang pernah lahir di muka bumi ini. Dalam FirmanNya, Tuhan mengatakan hal seperti ini adalah tipu daya atau Kelicikan atau PENIPUAN (Kejadian 3:23 dan 2 Korintus 11:3). Setan menemukan bahwa ini adalah cara yang paling efektif untuk memperdaya semua manusia.

Penipuan telah menjadi alat atau cara yang banyak dipakai untuk memanipulasi, menyelamatkan kepentingan diri sendiri dan melindungi diri sendiri. Penipuan telah banyak menjadi “fakta” dalam kehidupan banyak orang di dunia ini misalnya:

a. Banyak jemaat gereja yang masih hidup dalam dosa dan berpura-pura saleh dalam gereja atau perkumpulan jemaat.

b. Perilaku pebisnis sesungguhnya banyak diungkapkan atau diterangkan dalam tulisan halus atau footnote yang biasanya dilewati atau tidak dibaca oleh pembeli pada waktu pembeli menandatangani kontrak.

c. Banyak pendeta yang dengan sengaja menanipulasi Firman Tuhan untuk kepentingan pribadi.

d. Para ahli atau pakar ilmu pengetahuan banyak menggunakan data statistik untuk menguatkan sisi lemah penemuan mereka.

Penipuan adalah kenyataan yang lazim diterima orang pada umumnya. Sesungguhnya penipuan adalah perusak kepercayaan antara hubungan sesama manusia. Amsal berkata: “Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil (Amsal 20:17)”.  Tipu daya ada di dalam hati orang yang merencanakan kejahatan (Amsal 12:20)”.

Memperdayai dan Penipuan merusak dan memutarbalikan kebenaran. Di lain sisi, kebohongan adalah memperkatakan fakta yang bukan sebenarnya.

3. DUSTA

Dusta adalah dasar dari semua strategi Setan untuk menarik perhatian manusia. Dalam Kejadian pasal 3, Setan bukan hanya menipu Hawa tentang kebaikan Tuhan, tetapi ia juga berdusta tentang Firman Tuhan. Setan berkata kepada Hawa, “Sekali-kali kamu tidak akan mati!” (Kejadian 3:4). Ini adalah perkataan yang jelas-jelas tidak benar. Tuhan mengatakan di Kejadian 2:17: “… pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Berdusta adalah pusat dari segala usaha Setan dalam mempengaruhi manusia.

Tidaklah mengejutkan kalau memutarbalikkan kebenaran masih tetap menjadi metode utama Setan dalam sistem operasinya sampai hari ini. Setan telah menyelimuti budaya kita dengan dusta-dustanya terutama tentang berkurangnya kesadaran manusia tentang konsekwensi dari perbuatan dosa. Sistem Setan mengatakan bahwa materi dan kekayaan bisa membuat kita bahagia. Setan berdusta tentang hal-hal umum misalnya: Kalau Tuhan itu baik, mengapa Tuhan mengijinkan orang tuamu bercerai? Atau Mengapa begitu banyak penderitaan di dunia ini?

Dusta-dusta Setan sangat banyak, beberapa diantaranya:

a. Berbuatlah sebaik mungkin, maka engkau akan masuk ke surga.

b. Keberadaan manusia adalah hasil dari proses evolusi.

c. Keberhasilan diukur dengan materi.

d. Kebebasan mengizinkan kita untuk melakukan apapun yang kita mau.

Dusta adalah kekuatan dari sistem Setan. Ia tidak hanya berdusta, tetapi ia juga mengingini kita untuk menjadi seperti dia. Pada waktu kita berdusta dan mulai menyukainya, maka kita hidup seperti Setan dan jauh dari Tuhan.

Ketidakbenaran adalah bahasa umum dalam sistem dunia sekarang ini. Yakobus memperingati kita untuk tidak bersahabat dengan dunia karena bisa merusak hubungan kita dengan Tuhan. Barang siapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. (Yakobus 4:4)

Dusta adalah bagian dari masa lalu kita sebelum kita bertobat dan percaya.  Dusta adalah buah dari kedagingan kita yang sudah seharusnya kita tinggalkan seiring dengan bertumbuhnya iman kerohanian kita. Kolose 3:9 berkata: “Janganlah kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambal khaliknya.”

Jadi mengapa kita masih suka berdusta? Karena Dusta adalah cara yang paling mudah dan cepat untuk mendapatkan keuntungan, keamanan dan kepentingan diri sendiri, sebagai contoh:

a. Kita berdusta untuk mendapat perhatian orang lain dan membuat mereka lebih menghargai kita.

b. Kita berdusta untuk menjadi lebih kaya materi atau bisa dipilih untuk menjadi seorang penguasa.

c. Kita berdusta untuk melindungi nama baik kita.

d. Kita berdusta untuk bebas dari hukuman karena kesalahan kita.

Kebanyakan dusta-dusta sangat berhubungan dengan kepuasan diri-sendiri. Dusta juga telah menjadi cara yang umum untuk membuat orang tersenyum dalam setiap hubungan sosial.

Terus terang saja, memang terkadang susah untuk mempraktekan kejujuran. Bagaimana jika anda dihadapi untuk berpendapat tentang seorang bayi yang baru lahir, kemerah-merahan dan keriput di rumah bersalin? Bagaimana jika anda ditanya soal model dasi atau baju atau topi yang baru? Dalam kasus-kasus seperti ini terkadang kita menggunakan sedikit dusta (ketidak-benaran). Tetapi kita perlu ingat bahwa sedikit atau banyak, dusta tetaplah dusta.

Firman Tuhan juga tidak mengatakan bahwa kita harus meng-expresikan kebenaran secara blak-blakan. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk mengatakan kebenaran dalam kasih (Efesus 4:15). Kebenaran harus disampaikan dengan rendah hati, lemah-lembut, pengertian, dan rasa hormat. Tidaklah benar untuk memuliakan Tuhan dengan membicarakan kebenaran di mana di sisi lain terjadi perpecahan atau ketidakpercayaan pendengar kita yang bisa menyebabkan mereka menjauhkan diri dari kebenaran hanya karena kita tidak sensitif terhadap kebutuhan iman mereka. Artinya jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi mereka yang belum bertobat dan percaya hanya karena ketidaksabaran kita untuk ber-empathy dengan keaadaan mereka.

Kita harus selalu berdoa untuk berhikmat sebelum berbicara dan seharusnyalah kita melatih diri kita untuk selalu bijaksana mengetahui situasi yang sebenarnya pada waktu kita mengatakan kebenaran Firman Tuhan (Yakobus 1:5).

Sebagai contoh dari pertanyaan tentang bayi yang baru lahir, kita bisa berkata bahwa semua bayi adalah sangat berharga di mata Tuhan (walaupun kenyataannya kita tidak suka bayi atau rupa bayi itu sendiri). Jawaban tentang baju, topi atau dasi baru bisa saja kita utamakan warna, design atau style-nya, tetapi jangan berkomentar tentang orang yang memakainya.

Amsal 15:23 berkata: “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya”. Kolose 4:6 berkata: “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawaban kepada setiap orang.”

4. SAKSI PALSU

Satu lagi dosa yang berlawanan dengan kebenaran adalah mengucapkan kesaksian palsu. Kebanyakan saksi-saksi palsu dimunculkan dalam sebuah perkara hanya untuk melemahkan lawan dan untuk keuntungan diri sendiri. Dalam usahanya untuk merebut sebuah kebun Raja Ahab: Iezebel memakai dua saksi palsu untuk berbohong mengenai Naboth: pemilik kebun tersebut. Sebagai akibatnya, seorang yang tidak bersalah akhirnya harus ditimpuki batu sampai mati. Akhirnya, Raja Ahab melalui kesaksian palsu dari Jezebel berhasil mendapatkan kebun taman tersebut ( 1Raja-raja 21:1-16).

Pada proses penyaliban Yesus, Ahli taurat membawa 2 saksi palsu untuk bersaksi terhadap Tuhan Yesus (Matius 26:60-61). Dosa perkataan-perkataan dusta dari para saksi palsu sangat ditentang Tuhan. Sesungguhnya, inilah yang menjadi dasar mengapa Allah menuliskan larangan bersaksi dusta dalam sepuluh perintah Tuhan (Keluaran 20:16).

Dosa saksi dusta ini  sangat melukai seseorang, terkadang menyebabkan luka dalam yang tak terobati, bisa juga menghancurkan reputasi dan keluarga korban. Dosa ini berasal dari lidah kita. Porsi lidah yang kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh ternyata bisa membunuh Naboth dan bisa pula menyalibkan Kristus. Jangan terkejut jika Amsal 19:5 berkata: “Seorang saksi palsu tidak akan luput dari hukuman, dan barangsiapa yang menyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.

HIDUPLAH DALAM KEBENARAN (Firman Tuhan)

Kebohongan, Penipuan, Dusta dan Kesaksian yang palsu adalah semua cara yang digunakan Setan dan malaikat-malaikat pengikutnya untuk menghalangi kemulaian  Tuhan dalam hidup kita. Dengan cara-cara inilah Setan menyesatkan dan menarik kita untuk masuk dalam jebakannya yang penuh dengan ketidakbenaran atau kepalsuan.

Ketidakbenaran atau kepalsuan adalah dosa yang sangat sering dipakai oleh Setan. Apakah itu menyembunyikan perselingkuhan atau menyetujui kebohongan, atau berakal bulus untuk melakukan penipuan yang tujuannya adalah kepentingan pribadi atau mengatakan suatu kesaksian palsu yang bersifat sangat egois. Menyepelekan kebenaran sama dengan mendukung, dan melestarikan dosa tanpa memikirkan konsekwensinya. Bisakah anda memikirkan satu dosa saja yang tidak berawal dari penyelewengan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan? Tentu saja tidak, karena penyelewengan atau pemalsuan nilai-nilai kebenaran adalah dasar dan sistem dari Setan dan pengikutnya.

Oliver Wendell pernah berkata: “Dosa memang mempunyai banyak cara, tetapi dusta adalah sebuah kantong besar yang berisi semua macam dosa.” Tinggalkanlah KEPALSUAN dan hiduplah dalam KEBENARAN FIRMAN TUHAN maka anda akan mengetahui dengan jelas dan pasti rencana Tuhan yang indah dalam hidup anda.

Judul Asli: Why Tell the Truth? Diterjemahkan Oleh Hendra Wijaya, MBA.

Josep Stowell adalah president of Moody Bible Institute, salah satu pembicara terkemuka dan penulis buku-buku rohani terlaris yang banyak memenangkan penghargaan. Ia juga melayani di RBC (Radio Bible Class) Ministries di Grand Rapids, Amerika serikat.

2 comments

  • Farid Teguh

    Apakah ada perbedaan antara “berkata benar” dan “menyatakan kesalahan orang lain” lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?

    • Eliyusu Zai

      salam Pak Farid Teguh.
      Secara teoritis, sebenarnya tidak ada perbedaan antara berkata benar dengan menyatakan kesalahan. sebab ketika kita menyatakan yang benar, maka secara otomatis kita juga menyatakan apa yang salahnya.
      Tetapi, karena kita adalah makhluk sosial dan selalu memiliki hubungan sosial dengan masyarakat maka kita perlu memakai sebuah bahasa yang halus dalam menyatakan kesalahan… adalah lebih indah jika kita berkata benar dan biarlah orang yang mendengar hal tersebut yang menyadari bahwa dirinya ternyata salah. namun, adakalanya kita harus secara terus terang menyatakan hal tersebut salah, terutama jikalau orang tersebut sudah memahami bahwa itu salah… salam kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order