APAKAH KEBENARAN ITU ?

apakah kebenaran itu?Apakah kebenaran itu? Pilatus bukan orang yang pertama yang menanyakan pertanyaan ini, sampai saat ini suara itu masih terdengar dimana-mana (Yoh. 18:37).

Pencarian Kebenaran merupakan hal yang membingungkan banyak orang, tetapi kebenaran merupakan hal yang terbaik di dalam dunia. Anehnya, kita sering bersikap ambivalen terhadap kebenaran. Kita mencari-cari kebenaran, namun kita takut terhadapnya. Di satu sisi kita ingin mengejar kebenaran kemanapun kebenaran membawa kita; di sisi yang lain kita melawan ketika kebenaran itu mulai membawa ke tempat yang tidak kita inginkan (Douglas Groothuis, Pudarnya kebenaran).

Di Zaman post/pasca-modern ini pemudaran kebenaran terjadi secara masif, meskipun kebenaran sejati itu tidak akan pernah memudar (Yes. 40:8; Mat. 24:35). Post-Modern secara sengaja menyatakan bahwa ide tentang kebenaran objektif / absolut harus ditinggalkan. Bagi para pemikir post-modern, ide tentang kebenaran telah  memudar dan terpeca-peca.

Post-modern menyangkal bahwa ada kebenaran yang objektif, absolut, dan universal. Menurut mereka kebenaran itu sifatnya relatif dan subjektif. Kebenaran dalam pandangan mereka adalah apa yang baik menurut individu, kelompok dan budaya. Kebenaran itu tergantung pada siapa yang mengatakannya. Artinya, kebenaran ada pada setiap orang, semua kelompok, dan ada dimana-mana.

Pernyatan di atas adalah serangan terbesar terhadap kekristenan. Para Relativisme suka sekali menggunakan cerita tentang enam orang buta dan gaja untuk menggambarkan posisi mereka, padahal ilustrasi tersebut tidak berbicara apapun tentang kebenaran. Apa sesunggunya kebenaran sejati itu? Mari kita mempelajarinya bersama-sama.

Etimologi / studi kata

Bagi orang Kristen, hal ini bukanlah suatu pilihan. Alkitab tanpa ragu mengklaim diri sebagai kebenaran. Kata kebenaran dalam bahasa Ibrani: emet dan Yunani: aletheia. Kedua kata ini berarti “kesetiaan”, dan “kesesuaian terhadap fakta”. Kata “emet dan “aletheia” menyatakan “apa yang sesuai dengan kenyataan”. Kata Emet dan aletheia bisa juga memiliki konotasi “hal yang autentik, bisa diandalkan, atau semata-mata benar”. Kebenaran tentang Allah adalah, Allah itu benar kepada firmanNya dan di dalam tindakanNya dan sikapNya; Allah adalah yang benar dan setia.

Apakah kebenaran itu?

Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus adalah kebenaran (Why 3:14; Yoh.14:6; 14:17; 15:26). FirmaNya juga disebut kebenaran (Yoh. 17:17; 2 Kor.11:10). Artinya, kebenaran tentang Allah yang harus kita ketahui telah diungkapkan dalam Alkitab. Alkitab adalah wahyu Tuhan, perkataan Allah yang tidak mungkin salah. Singkat kata, Allah dan firmanNya (Alkitab) adalah “benar”, “sesuai fakta”, “autentik”, “akurat”, dan “dapat dipercaya dan bertentangan dengan kesalahan.”

Tuhan menghendaki agar manusia mengetahui kebenaran (1Tim. 2:4). Bahkan Allah menjanjikan berkat rohani dan materi untuk mereka yang mencari kebenaran (Mat. 6:33). Kebenaran hanya dapat diketahui dan ditemukan melalui Alkitab.

Sifat-Sifat Kebenaran

1. Kebenaran diwahyukan oleh Allah.

Kebenaran tidak ditemukan oleh individu atau komunitas. Berbagai kepercayaan mungkin merupakan hasil dari temuan manusia atau kalompok, tetapi kebenaran berasal dari pernyataan Allah yang berpribadi dan bermoral, yang membuat diri-Nya diketahui (Roma 2:14-15).

Alkitab merupakan wahyu dari Allah yang transenden, kudus, dan komunikatif dan dengan demikian, memiliki dinamisme mental yang melampaui psikologi, sosiologi, dan politik dari pembacanya, meskipun firman Allah disampaikan melalui budaya dari konteks aslinya. Alkitab diilhami secara ilahi, “segala tulisan diilhamkan Allah untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim.3:16).

2. Kebenaran Allah adalah objektif, mutlak, dan bisa diketahui.

Kebenaran objektif dan mutlak merupakan kebenaran yang tidak tergantung pada peraaan, hasrat, dan kepercayaan subjektif suatu ciptaan manapun. Kebenaran Allah tidak tergantung pada pengalaman atau penafsiran individu atau kelompok manapun. Paulus menyatakan hal ini ketika dia membahas ketidak percayaan sejumlah orang Yahudi, Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong” (Roma 3:3-4).

Hal ini berarti kebenaran Allah tidak berubah-ubah. Kebenaran Allah adalah benar tanpa pengecualian. Kebenaran Allah juga tidak bersifat relatif, dapat berubah atau bisa diperbaiki. Cuaca bisa berubah, tetapi Allah tidak. Satu teks tentang kemutlakan kebenaran adalah pernyataan Yesus yang tidak bisa dikompromikan. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, Tidak ada seorang pun yang dating kapada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Tidak ada pengecualian dari klaim ini: hanya ada satu jalan kepada Bapa – Yesus sendiri.

Kebenaran Injil tidak tunduk kepada veto siapa pun atau kepada prosedur demokratis apa pun. Yesus tak diangkat menjadi Tuhan oleh manusia melainkan dipilih oleh Allah; Ia juga tak bisa diturunkan dari tahta-Nya oleh upaya, opini, atau pemberontakan manusia mana pun. Yesus adalah satu-satunya Tuhan, tanpa ada yang lain yang setara dengan Dia.

3. Kebenaran bersifat universal.

Bersifat universal berarti terterapkan di mana saja, meliputi apa pun dan tidak meluputkan apa pun. Pesan Injil dan hukum moral Allah tidak dikurung atau dibatasi oleh kondisi-kondisi budaya. Alkitab berkata, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12). Hal ini meliputi setiap orang dan tidak meluputkan satu orang pun. Keselamatan ditawarkan kepada seluruh manusia, bukan hanya pada satu kelompok orang tertentu. Jangkauan otoritas Kristus tidak terbatas.

4. Kebenaran Allah berlaku secara kekal dan penting, bukannya trendi.

Gaya sesaat, baik di dalam iklan, politik, atau olah raga, datang dan pergi dengan kecepatan yang semakin tinggi. Tampaknya tak ada satu hal pun yang mapan, berakar, atau stabil melintasi waktu. Yang melampaui semua hal yang hanya bertahan sesaat itu adalah “kebenaran Allah.” Firman Tuhan itu teguh dan berakar, melampaui kerapuhan selera yang terus berganti, pacuan hobi dan fluktuasi pasar. “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi Firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yes. 40:8). “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga” (Mzm. 119:89). “Aku, TUHAN, tidak berubah” (Mal. 3:6; Ibr, 13:8). Firman-Nya bertahan dan bisa diandalkan, dari zaman ke zaman.

Kebenaran Allah didasarkan pada keberadaan Allah yang kekal. Kebenaran-Nya ini tak memiliki tanggal kedaluwarsa dan tak memerlukan pembaharuan apapun. Selain itu, kebenaran Allah adalah kebenaran yang hidup, personal, dan dinamis – kebenaran yang melampaui keremeh-temehan yang berubah-ubah dari zaman kita, dan menyentuh keberadaan kita dalam tingkat terdalam, dengan mengikut sertakan kita di dalam drama yang kekal. Kebenaran ini mengubah kita, seperti diketahui dengan baik oleh Daud, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mzm. 119:11)

5. Kebenaran bersifat eksklusif, spesifik dan antitetis.

Bagi satu “ya” teologis terdapat jutaan “tidak.” Apa yang benar menyingkirkan semua hal yang bertentangan dengannya. Inilah alasan Allah menyatakan, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel. 20:3). Jika hanya ada satu Allah sejati, semua pihak yang mengklain sebagai allah adalah palsu.

Logika kebenaran adalah logika dari hukum (atau prinsip) nonkontradiksi. Misalnya, Jika hanya ada satu Allah, maka tidak mungkin ada lebih dari satu Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan atau dia bukan Tuhan. Tak ada pilihan tengah. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”(Mat.6:24).

6. Kebenaran Allah bersifat sistematis dan utuh.

Kebenaran itu satu, sebagaimana Allah itu satu. Semua kebenaran saling berhubungan, baik itu keberadaan-Nya, pengetahuan-Nya, dan ciptaan-Nya. Hanya ada satu dunia, dunia milik Allah: uni-verse, bukan  multi-verse.

Intelektual Kristen, Francis Schaeffer berkata, “Tidak ada gunanya mengatakan Dia adalah Alfa dan Omega, yang Awal dan Yang Akhir. Tuhan atas segalanya; jika Dia bukanlah Tuhan atas kehidupan intelektual saya yang seutuhnya.

Pentingnya Kebenaran

1. Kebenaran penting karena inti kepercayaan kita dipertaruhkan.

Teolog Kristen, Gresham Machen, berpendapat, “apabila doktrin dan kebenaran Alkitab ditinggalkan maka bukan kekristenan liberal yang kita dapatkan, melainkan suatu agama yang sama sekali berbeda, yakni agama palsu.” Barna Research Group, sebuah badan riset yang paling kredibel di dunia mendapati 49 persen pendeta Protestan menolak kepercayaan inti Alkitab (worldmag.com).

Pada tahun 2005, Barna Research mengadakan jajak pendapat dikalangan Kristen dengan tema “Belief: Heaven and Hell.” Hasilnya, 54 % orang Kristen percaya bahwa jika seseorang itu secara umum baik, atau melakukan perbuatan baik bagi orang lain selama hidup mereka, mereka akan mendapatkan tempat di surga, dan 39 % percaya sesuai dengan Alkitab bahwa seseorang harus bertobat dan percaya jika ia ingin ke sorga (georgebarna.com). Jika fenomena ini terus dibiarkan maka pada akhirnya kekristenan kata seorang atheis, Friedrich Nietzsche, “akan hilang sendirinya.”

2. Tanpa kebenaran, injil diselewengkan.

Melemahkan komitmen kita kepada kebenaran memungkinkan kita merusak injil tanpa menimbulkan protes siapa pun. Anda bisa membuktikannya dengan menghadiri gereja lain secara acak. Anda akan menemukan injil-injil murahan sedang dikhotbahkan di mimbar-mimbar gereja. Erwin Ludzer berkata, “Yesus sedang dihina oleh pujian yang samar-samar, dibicarakan dengan baik, tetapi difitnah (2 Kor. 11:4).

3. Menolak kebenaran mengakibatkan buta Alkitab.

Bahwa kebenaran sudah ditinggalkan terbukti dari meluasnya buta Alkitab. Semakin sedikit orang Kristen yang membaca seluruh isi Alkitab dari kejadian hingga wahyu. Dan semakin banyak orang Kristen yang tidak membawa Alkitab diacara-acara kebaktian.

4. Menolak kebenaran menyebabkan kebingungan etika.

Mengenai keluarga, George Barna pernah mengadakan riset Pada tahun 2007, persentase kelahiran yang terjadi di luar nikah di Amerika mencapai 40%. Ini adalah dua kali lipat dibandingkan dengan 1980 dan delapan kali lipat dari 1950. Di Islandia, 66% kelahiran terjadi pada wanita yang belum menikah; di Swedia, 55%; di Norwegia 54%; di Denmark 46%. Kemudian Barna Reaserch mengadakan penelitian lanjutan mengenai keluarga. Hasilnya, 60 % pernikahan yang diteguhkan dalam gereja berakhir perceraian.

Belum lagi setiap hari kita dikejutkan dengan berita-berita amoral dan immoral lainnya seperti penembakan brutal di sekolah, pernikahan sesama jenis, peodofilia, dan percabulan dikalangan anak-anak. Ada apa dengan semua ini? Para peneliti dan para ahli berkesimpulan bahwa semua ini adalah buah dar penolakan terhadap kebenaran Tuhan.

Lagi-lagi, ketika kebenaran Alkitab dikompromikan, hasilnya seperti ini. Firman Allah memperingatkan: “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Amsal 14:34).

5. Menolak kebenaran menuntun kepada ilah-ilah palsu.

Ketika Tuhan Alkitab ditolak, orang pun memilih ilah baru. Zaman pascamodern telah melantik toleransi sekuler dan relativisme sebagai ilahnya. Dulu teleransi berarti mendengarkan semua titik pandang dengan penuh hormat, bebas berdiskusi untuk sama-sama mencari kebenaran. tetapi pengakuan iman bagi toleransi, ilah baru itu adalah “tidak ada kebenaran absolut – semua orang memiliki kebenaran.”

Belilah kebenaran dan jangan menjualnya (Amsal 23:23a)

By Alki F. Tombuku

Sumber:

Douglas Groothuis, Pudarnya kebenaran (Momentum)

David Wells, Tiada Tempat untuk kebenaran (Momentum)

Charles Cholson, The faith (Pionir Jaya)

Norman Geisler, Ketika Alkitab dipertanyakan (Andi)

Will Metzger, Beritakan Kebenaran (Momentum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order