Kik, Martir dari Korea Utara

“Cari salibnya,” pemuda Korea bernama Kik mendengar seorang penduduk desa berkata.

Pesan beredar kepada mereka yang melarikan diri dari Korea Utara ke China bahwa mereka harus mencari sebuah bangunan yang ada salibnya. Ia akhirnya menemukannya dan di dalamnya, tersedia makanan dan pakaian. Ia juga menemukan hubungan baru dengan Yesus Kristus.

Anggota-anggota jemaat memuridkan Kik selama tiga bulan. Tetapi Kik tahu ia harus kembali ke Korea Utara untuk memberi tahu yang lain tentang Yesus.

Kik dan seorang pemuda percaya lainnya diberikan lima Alkitab dan makanan untuk perjalanan mereka. Namun, para penjaga perbatasan menangkap mereka tepat setelah mereka berhasil menyebrangi sungai kembali ke Korea Utara.

Para penjaga menemukan Alkitab yang dibawa oleh teman Kik. Penjaga itu kemudian memukuli teman Kik hingga mati dengan pentungan besi. Kemudian mereka beralih ke Kik, tetapi ia berhasil melarikan diri. Setelah beberapa bulan, ia mulai membagikan Kristus kepada orang-orang lain dan memulai sebuah gereja bawah tanah di Korea Utara.

Tidak lama, Kik menyadari ia  memerlukan lebih banyak Alkitab untuk pertumbuhan yang cepat dari jumlah orang-orang percaya di sana. Ia ingat bagaimana temannya telah memberikan nyawanya berusaha untuk membawa Firman Allah kembali ke negeri mereka. Ketika Kik memutuskan untuk kembali ke China untuk mendapatkan lebih banyak Alkitab, orang-orang percaya di sana khawatir akan keselamatannya.

Kik mengingat nasehat yang diberikan kepadanya beberapa waktu lalu. Ia dengan simple menjawab, “cari saja salibNya.”

Salib adalah sesuatu yang kontroversial. Banyak orang akan berbicara tentang agama, tetapi salib membuat mereka tidak nyaman dan bahkan menyerang mereka. Kik diberitahu untuk mencari salib untuk keamanannya. Bagaimanapun Kik tidak menyadari musuh-musuhnya mencari tanda yang sama dengan alasan yang bagus. Mereka tahu bahwa orang-orang Kristen bernaung di bawah tanda salib. Karena mereka menentang Kekristenan, salib menjadi musuh mereka. Musuh rohani kita melihat salib dengan rasa jijik yang amat sangat, rasa takut dan kebencian. Apakah engkau melihat kepada salib dengan intensitas yang sama yang terekspresikan dalam sukacita, harapan, dan ucapan syukur ? Musuhmu terpaku pada salib sebagai seorang musuh yang sedang merencanakan sebuah serangan. Apakah engkau berfokus pada melindungi, melayani dan mengasihi salib ?