Orang Percaya Dapat Menjadi Allah ?

Sebagai seorang Kristen baru pada tahun 1973, ketika saya sedang mencari sebuah gereja, saya menemukan Herbert W. Armstrong di radio dan memesan beberapa pamfletnya. Saya waktu itu mempelajari Alkitab dengan sepenuh hati dan berdoa dengan tulus kepada Allah agar memimpin saya ke dalam kebenaran dan tidak membiarkan saya tersandung ke dalam kesalahan. Saya mempercayai janji-janji seperti yang yang terdapat dalam Yohanes 7:17 dan 8:31-32, dan tidak lama sesudah itu saya menjadi mengerti bahwa Armstrong adalah seorang penyesat ulung. Salah satu kesesatannya adalah bahwa manusia bisa menjadi Allah.

“Satu-satunya nilai hidup manusia adalah pada roh manusia dan potensi untuk lahir dari Allah, lalu kemudian lahir menjadi Allah itu sendiri, seorang anak dalam keluarga Allah” (Armstrong, Mystery of the Ages, Worldwide Church of God, 1985, hal. 92).

Salah satu bentuk kesesatan ini diajarkan oleh Joseph Smith, pendiri dari Mormon, juga oleh sebagian kelompok Word-Faith Pentecostal, dan oleh sebagian “santo” kontemplatif mistik Roma, dan yang lainnya. Alkitab memang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam rupa Allah dan bahwa orang-orang percaya adalah anak-anak Allah (Yoh. 11:52; Rom. 8:21; Gal. 3:26), tetapi ini tidak berarti bahwa kita adalah allah-allah.

Istilah-istilah yang dipakai Alkitab haruslah ditafsirkan oleh Alkitab sendiri dan bukan oleh pemikiran manusia. Kesesatan bahwa manusia bisa menjadi Allah berasal dari kebohongan Iblis kepada Hawa (Kej. 3:5). Sebaliknya, perintah pertama dalam hukum Allah adalah bahwa hanya Allah yang boleh disembah (Kel. 20:3). Yesaya sangat jelas mengenai masalah ini: “” Bahkan di Yerusalem Baru sekalipun, Allah masih akan sebagai satu-satunya Allah dan orang-orang yang selamat adalah hamba-hambaNya (Wah. 22:3). Sebagaimana yang dikatakan dengan tepat oleh John Phillips dalam komentari-nya tentang Mikha: “Antara Allah Yehovah dan penghulu malaikat yang paling tinggi ‘ada jurang yang pasti,’ suatu jarak yang luar biasa yang memisahkan antara makhluk yang paling agung dengan sang Pencipta.”

Ditulis oleh: David Cloud

Sumber: Way of Life