Kaerus, Dewa Kesempatan

Dalam mitologi Yunani, Kaerus atau dewa kesempatan digambarkan sebagai dewa yang paling sibuk. Selalu berlari kencang, kakinya bersayap, badan dan kepalanya licin, hanya tersisa sedikit jambulnya. Orang yang bisa menangkap jambulnya akan dianugerahi kesenangan, dikabulkan apa saja permintaannya.

Sehubungan dengan kesempatan, ada orang bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan, orang kebanyakan yang menanti kesempatan, dan orang bijak yang menyongsong kesempatan. Ada pula orang yang secara cerdik menciptakan kesempatan. Ada banyak kesempatan yang tersedia, dan kita ditantang untuk mendayagunakannya. Keadaan buruk sekalipun dapat menjadi pintu kesempatan untuk berbuat baik.

Nah, bagaimana kita memaknai kesempatan ini? Ada orang yang seperti Esau, yang menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan. Ada pula orang yang memakai kesempatan untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya, kekuasaan sebesar-besarnya, ketenaran sehebat-hebatnya, dan kehormatan setinggi-tingginya sehingga orang mengaguminya sebagai orang yang memiliki segala-galanya. Sebaliknya, orang yang menghargai anugerah keselamatan Allah menggunakannya sebagai kesempatan untuk hidup tak bercacat dan bernoda di hadapan-Nya (ay. 2-6, 16-17), untuk melayani seorang akan yang lain (Gal. 5:13), untuk berbuat baik (Gal. 6:10), dan untuk memberitakan Injil keselamatan pada orang lain, baik atau tidak baik waktunya (2 Tim. 4:2). Bagaimanakah kita mendayagunakan kesempatan yang Allah anugerahkan?

Sebab kamu tahu bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata. (Ibrani 12:17)

Orang bodoh menggunakan kesempatannya untuk kedagingan; orang benar menggunakan kesempatannya untuk memuliakan Allah.

Baca juga renungan harian lainnya yang berjudul Pengalaman Ziklag dan Kasih Karunia Yang Luar Biasa.

Sumber: Renungan Harian