K E J U J U R A N

kejujuran

K E J U J U R A N

Oleh: Dr. Josh McDowell.

Amsal 11:11 “Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.”

Penyair Romawi abad pertama, Juneval, menulis, “Kejujuran dipuji-puji, meskipun yang berkata jujur akan mati kelaparan”. Kejujuran dipuji oleh setiap orang, oleh karena kejujuran merupakan kebajikan. Mengapa kejujuran merupakan kebajikan? Apa yang menjadikannya benar? Dari mana datangnya kejujuran?

Ide tantang kejujuran datangnya dari Tuhan. Kejujuran adalah sifat Tuhan. Tuhan adalah kebenaran, dan apa yang berlawanan dengan kebenaran adalah dosa. Tuhan memerintahkan agar kita menjunjung tinggi kejujuran. Jika ada orang yang mengaku mengenal Tuhan, kejujuran akan menjadi salah satu dari sifat orang tersebut.

Apa itu kejujuran?

Jujur didefinisikan sebagai (1) Hati yang lurus; tidak berbohong atau berkata apa adanya, (2) Tidak curang atau mengikuti aturan yang berlaku (3) Tulus iklas; tidak munafik atau bermuka dua. Jadi, jujur adalah sikap moral yang sejati, yang berasal dari hati yang bersih, lalu diterjemahkan ke dalam tutur kata dan perbuatan. Kejujuran tidak datang dari luar, melaikan datang dari dalam diri manusia ketika seseorang mengakui kebenaran Allah.

Dalam Alkitab, Tuhan telah menetapkan dengan sangat jelas, bahwa berdusta, menipu, dan mencuri itu salah (baca: Kel. 20:15-16; Im. 19:11-13). Tuhan mengulangi ketetapanNya ini sepanjang sejarah. Tuhan menghukum mati Akhan yang tidak jujur (Yosua 7:11), Tuhan juga menghukum mati Ananias dan Safira yang berbohong (KPR 5:3-4). Siapa saja yang tidak jujur melawan Tuhan karena hal itu melanggar ketetapanNya.

Prinsip-Prinsip Kejujuran

Perintah negatif Tuhan yang melarang orang berdusta, mencuri, dan menipu mencerminkan prinsip yang positif. Seperti payung, prinsip ini berlaku untuk melindungi semua orang yang tetap tinggal di dalam batas-batas.

Tentu saja, prinsip ini adalah kejujuran, kwalitas tulus, terus terang dan dapat dipercaya. Kejujuran tidak akan berbohong. Alkitab mengatakan, “Karena itu saudara-saudara semuanya, jangan lagi berdusta. Berkatalah benar yang satu dengan yang lainnya” (Efesus 4:25). Berkata dusta adalah kekejian bagi Tuhan (Amsal 12:22).

Kejujuran tidak akan menipu. Paulus memperingatkan, “Yang mencuri, yang kikir/serakah, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah (1Kor. 6:10). Kejujuran tidak mendapatkan sesuatu dengan cara curang atau mengelabui orang.

Kejujuran tidak akan mencuri. Merupakan tujuan orang yang jujur untuk “tidak mencuri … tetapi tetapi menunjukan bahwa mereka memperoloh hasil melalui kerja keras mereka (Efesus 4:28). Kejujuran tidak menginginkan apalagi mengambil apa yang bukan haknya. Oleh sebab itu hukum ke sepuluh “jangan mengingini barang milik orang lain” bertujuan melindungi kita dari perbuatan mencuri.

Kejujuran itu benar karena Tuhan itu jujur. Kebenaran bukan sesuatu yang dilakukan Tuhan, bukan juga sesuatu yang dimilikiNya; ini adalah bagian dari apa diri-Nya. Dia adalah Allah yang tidak akan mungkin berdusta (Titus 1:2). Kalau Tuhan mengucapkan janji, Alkitab mengatakan, Anda boleh mengandalkannya, sebab “Allah tidak mungkin berdusta” (Ibrani 6:18).

Walaupun kejujuran mungkin akan mengemis di bumi, seperti yang dikatakan Juvenal, ada satu standar kebenaran yang abadi dan universal, yang tidak akan goyah atau berubah; Alkitab mengatakan, “Tuhan selalu benar, walaupun setiap orang berbohong (Roma 3:4).

Karena Tuhan itu benar, berdusta merupakan pelanggaran terhadap sifat-Nya. Karena Tuhan itu benar, menipu merupakan perlawanan terhadap diriNya. Karena Tuhan itu benar, mencuri adalah penghinaan terhadap diriNya. Dengan demikian maka merupakan sifatNya yang menetapkan kejujuran sebagai hal yang bermoral, dan ketidakjujuran, penipuan, dan pencurian ditetapkan sebagai kejahatan.

kejujuranKejujuran ditetapkan Tuhan untuk melindungi semua orang. Batasan yang Tuhan buat untuk menjaga agar kita bahagia, sejahtera dan aman. Tuhan tahu betapa bahayanya jika kita melanggar batas. Tuhan sangat tahu bahwa kita akan sengsara jika kita keluar dari ketetapan Allah.

1. Standar Tuhan tentang kejujuran melindungi dari rasa bersalah.

 Hosea berkata kepada bangsanya, “Orang-orang yang hatinya curang itu sekarang harus menanggung akibat dosanya” (Hosea 10:2). Rasa bersalah termasuk emosi yang paling kuat, dan ini akan melekat pada hati orang yang tidak jujur seperti ular sanca, mencekik kehidupan dari korbannya. Pemazmur Daud mengakui, “Aku tenggelam dalam banjir kesalahanku, beban dosaku terlalu berat bagiku (Mazmur 38:4). Beban rasa bersalah mencegah orang yang tidak jujur mendapatkan kesenangan, kepuasan, dan pemenuhan maksimum. Pria atau wanita muda yang mengindahkan standar Tuhan tentang kejujuran akan dilindungi dari beban rasa bersalah. kalau Anda jujur, Anda tidak selalu harus menoleh-noleh. Tentu saja, hati nurani seseorang bisa gelap karena sering berbuat salah (1Timotius 4:2). Tetapi kendati begitu, akibatnya selalu merusak (Amsal 14:12).

Standar Tuhan tentang kejujuran memberikan hati nurani yang jernih, dan hubungan yang tidak terputus dengan Tuhan. “Tuhan, siapa yang boleh menumpang di kemahmu?”Tanya pemazmur daud,. “Siapa yang boleh tinggal di bukit-Mu yang suci? Orang yang hidup tanpa cela dan melakukan yang baik, dan dengan jujur mengatakan yang benar” (Mazmur 15:1-2). Ketidakjujuran tidak bisa membantu, melainkan merusak jalan seseorang dengan Tuhan; tetapi pria atau wanita yang “tidak bercela pikiran dan perbuatannya” akan menuai imbalan”di berkati  dan diselamatkan Tuhan (Mazmur 24:4-5)

2. Standar Tuhan tentang kejujuran melindungi dari rasa malu.

Standar Tuhan tentang kejujuran memberikan rasa keberhasilan yang tidak akan dinikmati oleh hati yang tidak jujur. Salomo mengatakan, “Kekayaan yang diperoleh dengan tidak jujur cepat hilang dan membawa orang ke liang kubur” (Amsal 21:6), bukan hanya karena hal itu menjerat orang tersebut dalam daur ketidakjujuran, tetapi juga karena imbalannya berumur pendek, segera menguap seperti kabut.

3. Standar Tuhan tentang kejujuran melindungi dari jebakan dalam daur penipuan.

Setiap kebohongan melahirkan kebohongan lainnya, setiap penipuan menimbulkan penipuan lainnya. Seperti orang yang memojokkan dirinya, hati yang tidak jujur segera terjerat oleh penipuannya sendiri. Kepatuhan kepada standar Tuhan tentang kejujuran menyelamatkan seseorang dari kemungkinan terjerat dalam jaring penipuannya sendiri. Standar Tuhan tentang kejujuran memberikan reputasi integritas. Alkitab mengatakan, “Nama baik lebih berharga daripada harta yang banyak; dikasihi orang lebih baik daripada diberi perak dan emas (Amsal 22:1)

4. Standar Tuhan tentang kejujuran melindungi dari hubungan yang rusak.

Tidak ada apa pun yang akan menghancurkan hubungan lebih cepat daripada penipuan dan ketidakjujuran. Tuhan tahu itu- Dialah yang menciptakan hubungan. Landasan itu sendiri dibangun di atas kepercayaan, dan kepercayaan tidak akan bisa lestari dalam suasana penipuan. Standar Tuhan tentang kejujuran memberikan kepercayaan dalam hubungan. Salomo menulis, “Banyak orang mengaku dirinya adalah kawan, tetapi yang betul-betul setia sukar ditemukan. Anak-anak beruntung jika mempunyai ayah yang baik dan hidup lurus” (Amsal 20:6-7) Raja yang bijaksana ini juga memuji-muji pentingnya kepercayaan dalam nyanyiannya untuk istrinya yang saleh: “Istri yang cakap sukar ditemukan; ia lebih berharga daripada intan berlian. Suaminya tidak akan kekurangan apa-apa, karena menaruh kepercayaan kepadanya”(Amsal 31:10-11). Sebagaimana yang sudah kami katakan, unsur kepercayaan mutlak harus ada dalam menjalin hubungan yang sukses dan berumur panjang.  Ini menunjang sumpah perkawinan dan perjanjian bisnis dengan unsur yang menyakinkan  dan memperkuat. Landasan kepercayaan yang kuat akan meningkatkan dan memperkaya mutu hubungan kita, memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak bisa dicapai dengan ketidakjujuran.

kejujuranMenerapkan Kebenaran Tentang Kejujuran

Bagaimana kejujuran diterapkan secara praktis dalam keseharian hidup kita? Bagaimana memperkuat nilai-nilai kejujuran dalam keluarga, suami-istri dan anak-anak?

• Lakukanlah permainan “bagaimana seandainya”  dalam perjalanan dengan keluarga atau kelompok Anda. Renungkanlah secara pribadi atau ajaklah pasangan Anda dan anak-anak Anda untuk membayangkan betapa dunia akan berbeda seandainya setiap orang di bunia memiliki kejujuran mutlak. Sadarilah bahwa kejujuran sangat melindungi dan memenuhi kebutuhan kita. Dan ketahuilah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang tulus, penuh kebenaran, dan bahwa kalau kita jujur maka kita menghormati-Nya sebagai Tuhan yang tulus

• Manfaatkan perjalanan berbelanja untuk memperkuat standar kejujuran Tuhan. Poin kedua ini cocok diterapkan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, dimana kita tidak perlu membayar ke kasir jika kita membeli Koran, Minuman, dan lainnya. Kita tinggal memasukkan uang talenan ke sebuah mesin, dan apa yang kita inginkan akan keluar sendirinya. Bahkan banyak di AS dan Eropa toko-toko yang tidak dijaga orang. Jika kita ingin membeli sesuatu di toko itu, kita tinggal meninggalkan uang dalam kotak sesuai dengan harganya. Sangat jelas, dibutuhkan kejujuran di sini, apakah kita meninggalkan uang sesuai harga barang, mengambil kelebihan uang sesuai, tidak lebih dari semestinya? Sangat baik mengajarkan nilai-nilai kejujuran kepada orang lain termasuk diri sendiri dengan cara berbelanja seperti ini.

• Berikan “bonus kejujuran.” Kalau Anda ingin melihat anak-anak Anda memegang kejujuran sebagai nilai yang harus dijunjung maka Anda sebaiknya memergoki anak Anda saat melakukan kejujuran, lalu kemudian berikan imbalan sebagai penghargaan anda kepada mereka yang jujur.

• Gunakan televisi, berita, dan kejadian sehari-hari untuk mengajarkan kejujuran. Siaran berita adalah ilustrasi praktis untuk mendiskusikan kejujuran. Bicarakan satu kasus berita yang berkaitan dengan kejujuran (contoh: ketidakjujuran Gayus), kemudian diskusikan konsekuensi-konsekuensi atas perbuatan-perbuatan tersebut.

Dr. Josh McDowell adalah salah satu apologet terkemuka di dunia dan seorang penulis buku-buku terlaris di dunia. Beberapa bukunya yang memenangkan penghargaan di antaranya: Evidence That Demands a VerdictThe Resurrection Factor, dan He Walked Among Us.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order