John Gano, Sang Pengkhotbah

john_gano
John Gano

Seorang Pengkhotbah Efektif untuk Masa-Masa Penting

Nas: Hagai 2

John Gano adalah keturunan langsung dari kaum Hugenot dari Perancis. Kakek buyutnya yang bernama Francis harus melarikan diri dari ancaman penganiayaan yang didasarkan pada suatu maklumat yang membatalkan Maklumat Nantes. Francis Gano menetap di New Rochele, New York. Putranya, Stephen, membesarkan lima orang anak, salah satunya adalah ayah John, yang bernama Daniel. Daniel dan istrinya, Sarah Britton, adalah orang-orang yang sangat saleh. Daniel adalah seorang Presbiterian, sedangkan istrinya adalah seorang Baptis. John yang adalah anak kelima dan putra ketiga dari perkawinan ini, dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1727. Sebagai seorang pemuda John memeluk iman Baptis dari ibunya.

Sesudah melaksanakan suatu pelayanan khotbah keliling ke seluruh wilayah Selatan, John Gano menerima panggilan untuk memimpin sebuah gereja tunas di kawasan ”Jersey Settlement” di negara bagian North Carolina. Jemaat ini bertumbuh menjadi besar dan pelayanannya sangat berguna bagi seluruh bagian negeri itu. Setelah pecah perang dengan orang-orang Indian Cherokee, ia pindah ke New Jersey.

Pada tanggal 19 Juni 1762, First Baptist Church di New York City diresmikan oleh Benjamin Miller dan John Gano.”¹ John Gano dengan segera diangkat sebagai gembalanya. Ia juga menerima tugas penggembalaan sebuah gereja Baptis di Philadelphia, dan selama beberapa tahun ia menjadi gembala dari semua orang Baptis di dua kota terbesar di benua Amerika itu. Di bawah pelayanannya gereja di New York bertumbuh luar biasa, sehingga mereka harus memperbesar gedung kebaktian mereka pada tahun 1763. Ia memiliki bakat berkhotbah yang baik sekali, dan banyak orang berkumpul untuk mendengarkan ia menguraikan firman Allah secara terperinci. Selama perang kemerdekaan berlangsung, jemaat ini tercerai berai dan catatan gereja ditangguhkan. Tidak ada baptisan yang tercatat sejak tanggal 24 April 1776 sampai 4 September 1784.”²

Pasukan Inggris menduduki kota ini sampai lebih dari tujuh tahun, dan Gano bergabung dengan pasukan Revolusioner selama waktu itu sebagai gembala tentara. Tidak ada kota di Amerika yang pernah diduduki musuh selama itu dan menderita begitu banyak seperti kota New York. Penduduknya mengungsi ke wilayah-wilayah lain, sementara kaum Tory (loyalis Inggris-pen) menjadikan kota ini sebagai kota perlindungan mereka. Wabah penyakit pes dan dua kebakaran besar melanda kota ini, dan para serdadu membuat kerusakan sebanyak yang bisa mereka lakukan.

Pada awal perang, terdapat sembilan belas gereja di kota itu, tetapi setelah selesai perang, hanya sembilan gereja yang dapat digunakan untuk kebaktian. Bekas tempat pertemuan Baptis yang telah digunakan sebagai kandang kuda, dapat dikatakan telah menjadi sebuah reruntuhan. Ketika Gano kembali ke kota itu, ia hanya menemukan kehampaan, kehancuran, dan abu belaka. Ia berhasil mengumpulkan tiga puluh tujuh anggota dari sekitar dua ratus domba-dombanya yang semula. Banyak di antara mereka yang telah mati, dan yang lainnya tercerai berai ke seluruh bagian negara baru itu.

Segera sesudah gedung itu dibersihkan dengan baik, ia mengumpulkan jemaatnya dan berkhotbah kepada mereka dari Hagai 2:4, ”Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang?” Hari-hari kemakmuran spiritual segera kembali di bawah pelayanannya, dan berlangsung sampai ia membaptiskan petobat yang terakhir pada tanggal 5 April 1788, dan kemudian pindah menuju Kentucky.

Selama masa dua puluh lima tahun pelayanan penggembalaannya, ia telah membaptis 297 orang dan menerima 23 orang melalui surat keterangan ke dalam gereja. Armitage berkata, ”Ia adalah seorang yang paling luar biasa di Amerika dalam hal semua sumber daya kekuatan alamiah bawaan sejak lahir, penilaian yang dapat dipercaya, kecerdasan, kecerdikan, daya ingat yang kuat, semangat, dan kesalehan pada saat yang tepat ketika jiwa manusia dicobai.”³

EWT


¹ J.H. Spencer, A History of Kentucky Baptists from 1769 to 1883 (Cincinnati: J.R. Baumes, 1886), hal. 1:124.
² Thomas Armitage, The History of the Baptists (1890; reprint ed., Watertown. Wis.: Maranatha Baptist Press, 1976), 2:755.
³ Ibid, hal. 754-56.


Renungan Tambahan

[1]. Sumber daya kekuatan, bakat, kecerdasan intelektual semuanya adalah pemberian Tuhan. Sudah seharusnya dan sepatutnya dipakai untuk melayani Dia. Sudahkah saudara memakai karunia yang Tuhan berikan seperti John Gano dengan efektif? Ingat kepada yang banyak diberi dan kepadanya banyak dituntut.

[2] Semangat yang tidak pernah patah membuat orang mampu melewati tantangan. Demikianlah hal yang dilakukan oleh John Gano, meskipun pelayanannya mengalami pasang surut tetapi ia tidak malu, sebaliknya ia semangat dan berjuang untuk memulai pelayanannya dari awal. Bagaimana dengan saudara, apakah anda masih malu, ragu dan takut berkarya untuk Tuhan?