Bahaya Sikap Suka Mengeluh

new-rules-of-handling-customer-complaints-pop_6443By Ps. Dr. James Macdonald

Mengeluh Merupakan Dosa.

Ya, mengeluh termasuk sebagai dosa. Secara hurufiah kata dosa berarti “tidak tepat ke sasaran”, gagal melakukan standar kekudusan dan tuntutan adil Tuhan. Jadi dengan menghubungkan sikap mengeluh dengan dosa maka keluhan-keluhan yang dibuat termasuk dalam kategori berbahaya.

Pertama, jika Anda mengeluh, anda menyakiti diri Anda sendiri. Ketika Anda mengeluh, Anda memilih respon yang mendatangkan kerugian, bukan kebaikan. Keluhan yang kita katakan  mungkin membawa pada kemarahan, kepahitan, dan bahkan depresi. Tuhan mencintai Anda. Ia tidak ingin Anda menyakiti diri sendiri. Apa yang menyakiti Anda juga menyakitiNya, jadi mengeluh melukai kedua belah pihak. Lebih dari itu, ketika Anda mengeluh, bukan saja Anda menyakiti diri sendiri tapi menyakiti Tuhan secara tidak langsung. Secara tidak langsung Tuhan dipengaruhi ketika mendengar keluhan dan sikap buruk  Anda. Karena dengan mengeluh berarti Anda mempertanyakan kuasaNya. Selain itu, kita juga menyakiti orang-orang di sekitar kita. Keluhan kita mempengaruhi orang lain dengan pikiran yang buruk. Tidak seorang pun menyukai orang yang selalu berpikiran negatif. Bila keluarga atau teman-teman Anda mendengar Anda mengeluh terus-menerus, berarti Anda menyakiti mereka. Tak ada keraguan lagi, sikap yang suka mengeluh merupakan dosa.

Definisi Mengeluh

Mengeluh adalah mengungkapkan ketidakpuasan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak salah dan kita tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya.

Pertama, mengeluh merujuk kepada sesuatu yang terjadi salah, maka kita mengungkapkan ketidakpuasan, dan itu bukan sikap mengeluh. Kalau ada orang yang melakukan protes terhadap klinik aborsi, bukan berarti mengeluh. Kalau ada suami atau istri Anda berkata, ”kita perlu meluangkan waktu lebih banyak dengan anak-anak, “ itu bukan dosa. Mengeluh berarti mengomel terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak salah.

Kedua, mengeluh berarti Anda tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya. Saya hanya memilih untuk mengomel tapi tidak berbuat apapun untuk memperbaiki situasi tersebut. Itulah yang disebut mengeluh. Kalau Anda tidak mendoakan, memprotes, memberikan suara Anda, memberi sumbangan, atau menulis kepada seorang pemimpin mengenai isu aborsi tapi hanya mengomel mengenai isu tersebut, itulah mengeluh. Jika Anda hanya mengomel tentang suami Anda yang menurut anda  kurang meluangkan waktunya dengan anak-anak, maka itu berarti Anda mengeluh. Jika Anda berbicara denga suami Anda mengenai hal itu dan bersama-sama mencari solusi yang membangun, itu bukan mengeluh. Berdasarkan definisi yang sudah kita baca, kita temukan bahwa mengeluh melibatkan keadaan. Perhatikan bahwa mengeluh tidak melibatkan orang-orang, sebaliknya, krtikan melibatkan orang-orang. Mengeluh melibatkan keadaan

Ketiga, mengeluh melibatkan pengungkapan ketidakpuasan. Nah, yang ini sedikit sulit. Ada orang yang dengan bangga mengatakan bahwa mereka dapat menguasai mulut mereka. Mereka berkata : “Saya tidak pernah mengeluh. ”Tunggu sebentar. Bila Anda termasuk pribadi yang ekstrovert (terbuka)  yang sering mengucapkan  perkataan  yang menyakiti orang lain, maka Anda harus meminta kepada mereka yang memiliki kepribadian introvert (tertutup) untuk mengoreksi diri Anda. Sehingga Anda bisa mempelajari  bahwa Anda tidak sehebat yang Anda kira hanya karena Anda dapat menguasai mulut Anda. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1 samuel 16:7). Jadi mengeluh bukan hanya merupakan ungkapan frustasi, tapi juga ungkapan kekecewaan terhadap apa yang kita pikirkan.

Mengungkapkan ketidakpuasan terhadap keadaan yang  tidak salah dengan kata-kata atau pikiran  tanpa melakukan apapun untuk memperbaikinya,  itulah mengeluh. Dalam jangka waktu  pendek, akibat mengeluh adalah memisahkan kita dengan Tuhan. Dalam jangka waktu panjang,  mengeluh akan menjadi gaya hidup, dan kita akan menghabiskan hidup kita dalam kehidupan yang kering.

Tuhan benci Jika Kita Mengeluh.

Perhatikan respon Tuhan terhadap mereka yang suka mengeluh: “…dan ketika Tuhan mendengarnya bangkitlah murkaNya kemudian menyalah api Tuhan diantara mereka dan merajalela tepi tempat perkemahan (Bilangan 11:1). Murka Tuhan bangkit. Sekali lagi, hal ini terjadi bukan karena satu kejadian saja tapi karena umat Israel sering membangkitkan murka Tuhan.  Ayat 10 menyampaikan bahwa “ketika Musa mendengar bangsa itu yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka Tuhan dengan sangat. Mengapa Tuhan murka? Apa karena bangsa Israel menangis? Bukan, Ia murka dengan apa yang menyebabkan mereka menangis. Mereka merindukan hal-hal yang Tuhan tidak ingin berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka telah lama mengeluh sehingga mereka kehilangan perspektif dan mulai mengikuti keinginan hati mereka.

Perenungan:

Sekarang kita renungkan langkah-langkah dalam bagian ini.

  1. Apakah saya suka mengeluh? Sulit menilai diri sendiri, apakah kita suka mengeluh. Sering kita berkata  ah, saya hanya mengeluarkan  unek-unek. Tetapi ketika orang lain mengeluh, dengan cepat kita mengenali dan memberi nasehat Apakah Anda merasa sebagai orang yang menerima dan bersyukur atau menolak dan mengeluh?
  2. Apakah dalam hubungan saya dengan Tuhan, saya menuai akibat dari sikap saya yang suka mengeluh? Bayangkan sekarang, Tuhan berbisik di hati Anda, aku mendengar. Aku mendengar semua yang engkau katakan. Aku mendengar semua yang ada dalam pikiranmu. Bukankah hal itu akan memberi arti baru dalam hidupmu? Jika sukacita dan kehadiran Tuhan tidak Anda rasakan dalam hidup Anda.. jika hati Anda terasa kering, itu karena sikap-sikap Anda.
  3. Apakah saya mau bertobat? Apakah saya mau berpaling dari sikap saya yang suka mengeluh, mengakui kesalahan, dan memohon agar Tuhan mau mengubah sikap saya? Kematiannya membuka jalan agar kita diampuni dan disucikan sehingga dapat memulai hidup baru dengan sikap hidup yang baru pula. Kita hanya perlu bertobat, sejalan dengan Tuhan dan mengakui bahwa sikap suka mengeluh adalah dosa dan berpaling dari sikap buruk tersebut serta memohon ampun kepadaNya.