Akibat-Akibat Buruk dari Gosip

images (19)

By: Dr. Richard L. Strauss, Ph.D.

Salomo menulis, “Hidup dan mati dikuasai lidah” (Amsal 18:21). Itu merupakan pernyataan yang luar biasa! Dan sangat penting untuk kita pikirkan. Yakobus berpikir lidah penuh dengan racun mematikan (Yakobus 3:8). Suatu pemikiran yang menakutkan!

Gossip.. Semakin digosok, semakin sip. Betulkah? Suatu penyelidikan Alkitab bisa menolong kita menemukan penangkal bagi racun atau virus mematikan, yang bernama gosip.

Dari Mana Datangnya Gosip

Walau kata ini tidak menonjol dalam Alkitab, tapi ide gosip nyata diseluruh Alkitab. Hal ini terdapat talebearers, orang yang membisikan informasi merugikan tentang orang lain. Ini juga termasuk, backbiters, orang yang bicara tentang kesalahan orang lain dibelakang orang itu. Ini juga berbicara tentang tukang fitnah, orang yang bicara melawan orang lain, sering dengan keinginan untuk menyakiti mereka. Ini bicara tentang orang yang jahat atau penfitnah. Kita bisa menyimpulkan semua ini dengan satu kata, gossip. Ini suatu kata yang sangat buruk.

Gosip membicarakan kesalahan orang lain dimana mereka tidak bisa melakukan apapun terhadap orang itu, orang yang bukan bagian dari masalah ataupun bagian dari solusi. Dan bicara tentang mereka kepada yang lain adalah gosip, apakah itu rumor atau fakta, benar atau salah. Tuhan berkata, “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah” (Yakobus 4:11). Perintah ini tidak mengatakan apapun tentang benar atau salah. Ini berarti sama sekali tidak dibenarkan bicara menjelekan orang lain walaupun ceritannya benar.

Gosip didaftar bersamaan dengan dosa terkeji yang pernah ada. Dengarkan Paulus mengurutkan dosa yang memuakan: “penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,” (Roma 1:29,30). Tetapi, ironi gossip tetap menjadi salah satu favorit orang Kriten dari dulu. Kenapa?

Kita semua ingin orang lain berpikir hal yang baik tentang kita. Jika kita jujur, kita mau mengakui bahwa pengakuan itu berkaitan dengan tingkat penerimaan kita: “Apakah mereka mengetahui siapa saya? Apakah mereka menyukai saya? Apakah mereka menghormati saya? Semakin rendah harga diri kita, semakin khawatir kita terhadap hal seperti itu, tapi kita semua pernah memikirkannya. Itulah alasan kita bergosip. Kita ingin membuat diri kita lebih baik dan mendapat penerimaan yang lebih besar.

Jika seseorang melukai kita, membuat mereka jadi buruk bagi kita merupakan cara adil untuk membalas, menyeimbangkan skor dan memperbaiki harga diri. Itu juga bisa menjadi cara efektif untuk memenangkan orang kesisi kita dalam konflik. Kita berpikir bahwa lebih banyak orang berpihak pada kita menjadikan kita lebih berharga.

Ada alasan lain kita bergosip. Disatu sisi, kita mungkin memiliki teladan yang buruk. Kita tumbuh mendengar orangtua kita bergosip dan kita menjadi percaya bahwa hal itu merupakan hal yang diterima jadi bagian hidup. Kemungkinan lain lagi adalah kita tidak mengembangkan pemikiran kita sehingga tidak ada hal lain yang bisa dibicarakan selain orang lain.

Gosip adalah percakapan yang bodoh, terutama menjelekan orang lain. Gosip mereka berkaitan dengan kemalasan dan kecenderungan mereka mencampuri urusan orang lain. Jika mereka menginvestasikan waktu dan tenaga mereka kedalam kegiatan rohani seperti membaca Alkitab,  memberitakan Injil, melayani anak, mereka tidak punya waktu untuk membicarakan orang lain. Tapi penyebab gosip tidak seburuk kerusakan yang diakibatkannya.

Empat Akibat Buruk Dari Gosip

Pertama, hal ini merusak hubungan persahabatan. “Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib” (Amsal 16:28). “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangki perkara, menceraikan sahabat yang karib” (Amsal 17:9). Kadang gosip dilakukan dengan sengaja dan jahat oleh seseorang yang iri yang sakit hati terhadap teman yang dimiliki orang lain. Jika dia bisa menggali informasi hina apapun, dia bisa menggunakannya untuk memisahkan mereka dan masuk kedalam cela. Dia melihat lebih mudah memenangkan teman dengan menunjukan kebaikan dan ketidakegoisan kepada yang lain. “Saya tidak bermaksud bicara tentang dia, tapi …” “Saya tidak ingin kamu berpikir saya bergosip, tapi …” Dan itulah pisaunya!

Mungkin tidak ada maksud jahat, tapi hasilnya tetap sama. Anda mungkin mendengar tentang percakapan dimana Ellen berkata, “Suzie mengatakan pada saya rahasia kamu dimana saya disuruh tidak mengatakannya padamu.” Jane menjawab, “Mulut ember! Saya menyuruhnya untuk tidak mengatakannya padamu.” Ellen menjawab, “Saya mengatakan padanya kalau saya tidak akan mengatakan ini padamu.” Persahabatan ini sudah hancur. Mereka tidak bisa saling percaya lagi. “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara” (Amsal 11:13).

Kedua, gossip melukai orang. “Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati” (Amsal 18:8). Apa yang anda rasakan saat menemukan orang lain sedang membicarakan hal yang tidak baik tentang anda? Mereka mungkin menikmatinya seperti gula, tapi itu melukai anda bukan? Dan sakitnya mencapai kelubuk hati. Walau kita tahu Tuhan ingin kita mengampuni mereka, kita biasanya bimbang, khawatir, jengkel karena itu, merasa bersalah dan marah terhadap mereka. Kadang itu mulai mempengaruhi kemampuan anda berfungsi secara baik. Dan itu memerlukan waktu lama untuk sembuh. Pikir lagi jika disaat berikut anda merasa ingin membagikan sesuatu tentang orang lain. Apakah hal itu juga kalau dikatakan tentang anda bisa anda terima, walaupun itu benar sekalipun?

Ketiga, Gosip menghasut kemarahan. “Angin utara membawa hujan, bicara secara rahasia muka marah” (Amsal 25:23). Beberapa orang yang paling pemarah yang pernah saya ajak bicara menjadi korban gosip. Mereka jadi murka. Hasil dari kemarahan mereka adalah dosa, dan mereka perlu menyelesaikannya. Tapi orang yang mengatakannya harus tetap mempertanggung jawabkan ketidaktaatannya terhadap Firman Tuhan.

Apakah anda pernah melihat selang air yang tak terkendali? Itu terlempar-lempar, menabrak benda-benda dan membasahi orang didekatnya. Orang-orang itu kemudian tidak begitu senang dengan anda bukankah begitu? Lidah yang terlempar-lempar, menyemburkan gossip, memiliki akibat yang lebih buruk. Suami dan istri telah membuat keluarga dan teman marah terhadap saudaranya melalui pembicaraan tentang kesalahan. Seseorang yang sudah mendengar kekotoran itu tidak bisa melupakannya dan menerima gossip yang dinyatakan. Kemarahan hidup terus.

Keempat, Itu menyebabkan perselisihan. “Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran” (Amsal 26:20). Kita semua mengetahui banyak gereja yang hancur karena perselisihan. Tapi ada satu hal dimana perselisihan bisa tidak muncul jika orang berhenti bergosip. “Apakah kamu tahu apa katanya? Sini saya katakan apa pendapat saya tentangnya. Pembicaraan yang bodoh. Tapi ini seperti kayu yang sedang terbakar. Itu membuat orang tergerak, dan mereka membuat orang lain juga tergerak, dan yang mulanya hanya api kecil menjadi amukan api.

Yakobus memberitahu kita dimana api kecil itu datang. Dia berkata, “Itu dinyalakan oleh api neraka” (Yak. 3:6). Dan setan pasti tertawa melihatnya. Gosip adalah permainannya. Iblis menamakannya “fitnah”. Dan dia disebut “pendakwa saudara-saudara kita” (Wahyu 12:10). Tapi Tuhan membenci hal ini. Dia mengatakan bahwa orang yang menyebarkan perselisihan diantara saudara merupakan kejijikan bagiNya (Amsal 6:16-19). Lalu bagaimana?

Bagaimana Melawan Keinginan Untuk bergosip

Usulan pertama untuk menghilangkan gossip dari pembicaraan kita adalah mentaati perintah Kristus dan berhadapan langsung dengan orang itu. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Matius 18:15). Tuhan ingin kita menegur mereka yang bersalah. Jika seseorang melakukan sesuatu yang menyerang kita, bersalah, mengambil kesempatan atau mengagalkan kita dengan cara apapun, atau jika kita mengetahui ada dosa yang serius yang telah dilakukan, kita harus bicara langsung pada orang itu. Jangan kepada orang lain! Hanya kepada dia. Jika hal itu kecil, mungkin kita langsung mengampuninya dan melupakannya. Tapi jika itu penting, kita harus bicara langsung padanya lebih dulu. Dan jika tidak begitu penting sampai harus bicara langsung padanya, maka jelas hal ini tidak bisa dikatakan pada orang lain.

Saya pernah bertanya pada beberapa orang apakah mereka pernah menegur orang yang menyerang mereka, “Ya, dan tidak ada bedanya.” Jadi mereka merasa dibenarkan untuk mengatakan pada orang lain. Tapi ada langkah kedua yang Tuhan berikan, dan bukannya menyebarkan hal itu diantara teman kita. “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan” (ayat 16). Apakah anda melakukan itu?

Kemudian ada langkah berikutnya lagi. “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” (ayat 17). Apakah anda sudah melakukannya? Dalam prosedur ini tidak pernah dikatakan, “OK, sekarang kamu bisa menyebarkannya kesemua temanmu.” Itu bukan pilihan yang Alkitabiah! Dan hal yang konsisten dengan Alkitab dalam menyelesaikan masalah.

Usulan kedua dalam menghilangkan gossip adalah menolak mendengarnya. “Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut” (Amsal 20:19). Jika kita semua mau mengikuti saran ini, gossip tidak bisa menancapkan racunnya. Sangat sulit untuk tidak mendengar saat seseorang memberikan kita informasi kelas tinggi dan sangat rahasia. Itu membuat kita merasa penting karena mereka memilih mengatakannya pada kita. Natur dosa kita yang lama mendorong kita untuk melakukannya dan menyimpannya agar suatu hari bisa digunakan untuk meningkatkan derajat kita. Tapi baik pendengar maupun yang mengatakan sama bersalahnya. Orang bicara karena ada yang mendengar. Jika tidak ada yang mendengar, gossip akan hilan.

Usulan ketiga untuk mengatasi gossip adalah lebih terbuka terhadap kelemahan anda. Kita senang menyimpan kelemahan kita untuk menjaga image. Jika kita tidak sedang rukun dengan pasangan, atau salah satu anak lari dari rumah, atau kita kesulitan dalam pekerjaan, kita tidak ingin orang lain mengetahuinya karena itu bisa menghancurkan reputasi kita sebagai orang Kristen yang baik. Tapi rahasia kita tidak hanya menghalangi penyembuhan yang bisa dilakukan anggota Tubuh yang lain, tapi juga menyediakan tempat bagi rumor. Jika kita secara terbuka membagikan masalah dan secara pribadi meminta dukungan doa dari orang percaya lainnya, kita akan sangat tertolong, dan misteri yang merupakan makanan gossip akan lenyap. Tidak ada alasan untuk gossip jika semua orang sudah mengetahuinya.

Usulan keempat adalah belajar mengasihi. Kita belajar hal itu dari kasih Tuhan kepada kita (1 Yoh. 4:19). Dan saat kita sudah belajar, kita tidak akan bergosip lagi. “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran” (Amsal 10:12). Hal ini disinggung Petrus saat berkata, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:8). Hal terburuk dari gossip adalah itu sama sekali tidak mengasihi. Kita tidak menunjukan kasih pada orang yang kita bicarakan. Kita menghancurkannya dihadapan orang lain, dimana kasih seharunya membangun (1 Kor. 8:1). Sebelum kita membuka mulut kita lebih dulu bertanya, “Apakah ini akan membangun orang lain? Apakah ini akan membangun kepercayaan? Apakah ini akan membangun kasih?” Jika tidak, lebih baik tidak dikatakan. Ada banyak hal yang sudah saya katakan, yang saya harap bisa saya tarik kembali. Tapi sudah terlambat! Perkataan yang tidak dipikir, tidak kasih tidak bisa ditarik kembali. Belajarlah mengasihi!

Ada satu usulan lagi, yang paling jelas dan penting, tapi kurang digunakan. Minta Tuhan menolong menjaga lidah anda. Pemazmur berkata. “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku” (Maz 19:14). “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Maz 141:3). Tuhan senang menolong orang yang dengan rendah hati mengakui kebutuhan mereka dan meminta pertolonganNya. Maukah anda mencobanya? Dia akan menolong anda menaklukan kebiasaan gossip anda.

By: Dr. Richard L. Strauss, P.hD

Richard L. Strauss authored nine books, and served as pastor of churches in Fort Worth, TX, Huntsville, AL. He was pastor of Emmanuel Faith Community Church in Escondido, CA from 1972 to 1993 when the Lord called him home.

Richard, was a 1954 graduate of Wheaton College, and received his Th.M. (1958) and Th.D. (1962) degrees from Dallas Theological Seminary.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order