Tapanuli Gempa, Kebaktian Di Tenda

Dikutip dari detikNews 19 Juni 2011, Gempa yang melanda Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Sumut), menyebabkan delapan gereja di daerah tersebut mengalami kerusakan. Akibatnya, pelaksanaan kebaktian pada Minggu 19 Juni 2011terpaksa dilaksanakan di tenda-tenda darurat.

Pelaksanaan kebaktian di tenda darurat tersebut, antara lain oleh Jemaat Gereja Kristen Hurian Batak (GKHB) di Desa Sigompulon, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara. Ratusan jemaat dari tiga desa melaksanakan ibadah kebaktian dengan sarana seadanya, namun tetap hikmat. Di dalam khotbahnya, Pendeta Tamba Samosir mengingatkan jemaat agar tetap bersabar memaknai gempa sebagai ujian dari Tuhan. “Gempa ini adalah ujian dari Tuhan. Sebagai hamba-Nya, kita harus saling tolong-menolong meringakan beban sesama korban gempa,” kata pendeta Samosir.

Posko Penanggulangan Bencana Alam Tapanuli Utara menyebutkan, akibat gempa berkekuatan 5,5 SR yang terjadi pada Selasa 14 Juni 2011 menyebabkan delapan unit gereja mengalami kerusakan. Lokasinya tersebar di beberapa desa di wilayah yang paling parah dilanda gempa di Kecamatan Pahae Jae dan Pahae Julu. Data terakhir yang diperoleh menunjukkan, secara keseluruhan gempa tersebut merusak 1.941 bangunan rumah penduduk, 21 gedung sekolah, 8 gereja, 5 mesjid, 1 kantor kepala desa, 1 bangunan BRI, 1 kantor lurah, 1 kantor polsek, 1 klinik, 4 pasar tradisional, 1 bangunan Mandi Cuci Kakus (MCK) dan 1 jembatan.

Kebaktian tidak dibatasi oleh gedung gereja, sebab ibadah yang benar adalah di dalam roh dan kebenaran.