Tanda-Tanda Orang Kristen Yang Sedang Undur (bagian pertama)

Sebuah Mahakarya dari salah satu tokoh kebangunan rohani terbesar, Richard Owen Roberts, yang telah membawa jutaan orang kepada pertobatan yang sejati dan telah membawa pembaharuan besar dalam pelayanan kebangunan rohani.

images (2)Richard Owen Roberts: Orang-orang Kristen yang sedang undur dapat ditemukan di mana-mana. Mereka ada di dalam gereja dan di luar gereja. Mereka ada di bangku gereja dan di mimbar. Mereka mengajar sekolah minggu. Mereka mengetahui kegiatan-kegiatan di gereja. Jumlah mereka sebanyak orang-orang Kristen sejati. Pengaruh mereka pun mengimbangi pengaruh orang Kristen sejati. Walaupun tidak semua orang yang sedang undur mempunyai ciri-ciri yang sama, tanda-tanda kemunduran itu dapat dengan mudah terlihat dari kehidupan mereka. Tanda-tanda tersebut perlu kita perhatikan:

1. Bila doa tidak lagi menjadi bagian yang terpenting dalam kehidupan seorang Kristen, ia sedang undur.

Sangat menyedihkan bahwa ada banyak orang Kristen tidak mendisiplin diri untuk berdoa secara khusus, secara teratur setiap hari pada waktu yang mereka sudah tentukan. Bagaimana kita dapat menjadi orang Kristen tetapi jarang berdoa? Orang yang sedang undur kemungkinan masih berdoa, tetapi sekadar hanya untuk melakukan kewajiban saja; mereka berdoa tanpa kesungguhan; doa mereka tidak tercetus dari dalam lubuk hati. Mereka “mengucapkan” doanya setiap hari tetapi sesungguhnya mereka tidak berdoa. Yang mereka lakukan itu tidak dapat disebut doa. Kalimat-kalimat bernada rohani yang diucapkannya itu, ataupun kepala dan badan yang di bungkukkan, dan istilah-istilah tertentu yang diucapkan secara berulang-ulang, tidak dapat dinamakan doa.

Kalau hati kita tidak dengan tulus dan dengan sepenuh hati berbicara kepada Tuhan, kita tidak dapat di katakan sedang berdoa. Berdoa dengan “membaca doa” walau kata-katanya begitu indah, tidak menjamin si pelakunya sedang betul-betul berdoa. Kalau hati kita kontak dengan Tuhan dalam satu jalinan hubungan, maka apa yang kita ucapkan baru dapat dinamakan doa. Jarang berdoa dan mengucapkan doa sebagai formalitas belaka sudah jelas merupakan tanda kemunduran rohani.

2. Bila seorang tidak lagi mempelajari atau menekuni Alkitab, dan sudah cukup puas dengan dengan apa yang sudah diketahuinya tentang Alkitab, itu tandanya ia sedang undur.

Hampir semua orang yang sedang undur kelihatannya puas dengan pengetahuannya tentang Alkitab. Mereka tidak giat ataupun  tekun mempelajari  Alkitab. Mereka tidak merasa perlu menggali harta rohani dari firman Allah. Mereka sudah merasa puas dengan apa yang diajarkan oleh pembimbingnya atau gembalanya sewaktu mereka masih bayi rohani. Mereka tidak tertarik untuk secara pribadi merenungkan ayat-ayat Alkitab. Mereka puas dengan ajaran-ajaran Alkitab yang mereka peroleh sebelum mereka dibaptis. Kalaupun mereka memperoleh pengertian rohani yang baru atau yang lebih mendalam, biasanya mereka memperolehnya dari orang lain, bukan dari hasil saat teduh mereka sendiri. Hal itu berarti bahwa orang yang sedang undur adalah orang yang tidak membaca Alkitabnya lagi. Tetapi memang di antara orang-orang yang sedang undur itu ada yang masih tetap setia membaca Alkitab. Namun mereka melakukannya sebagai suatu kebiasaan belaka. Mereka membacanya dengan sikap “sudah puas” dengan apa yang diketahuinya tentang ayat-ayat yang sedang dibacanya.

3. Bila pengetahuan Alkitab yang dimilikinya diperlakukannya sebagai pengetahuan belaka, tidak diterapkan ke dalam kehidupannya sehari-hari, itu tandanya ia sedang undur.

Tidak semua orang yang sedang undur menutup diri sama sekali terhadap penggalian pengertian rohani dan ayat-ayat Alkitab. Ada hamba-hamba Tuhan yang tetap menimba pengertian yang baru setiap minggu, tetapi  sebetulnya mereka sedang undur. Kita dapat saja terus memperoleh pengertian baru dari firman Tuhan tanpa mengalami perubahan dalam jiwa kita. Kalau kebenaran-kebenaran firman Tuhan tidak menyerap ke dalam hati kita dan tidak mengubah kehidupan kita, maka penegetian dan pengetahuan kita yang bertamah itu tidk ada gunanaya bagi jiwa kita. Allah memberi kita Alkitab bukan sekedar memberi kita informasi, tetapi untuk mengubah kita. Kalau pengertian dan pengetahuan kita tentang FirmannNya itu tidak kita terapkan ke dalam kehidupan kita, maka bertambahnya pengetahuan kita tentang ayat-ayat Alkitab hampir tidak ada manfaatnya atau tidak  berguna sama sekali.

Demikian juga, orang yang sedang undur itu dapat saja mendengarkan khotbah alkitabiah dalam setiap kebaktian; ia pun menyimak setiap kata dengan penuh perhatian, mala ia juga memberi salam kepada pendeta dan menyatakan rasa terimakasihnya atas pengertian rohani yang disingkapkannya itu. Tetapi kalau ia tidak membuka hati agar firman itu mengubah dirinya menjadi semakin berkenan di hadapan Tuhan, maka setiap kali ia mendengarkan khotbah alkitabiah keadaannya yang sedang undur itu akan menjadi semakin parah.

4. Bila pikiran seseorang tidak lagi terpusat pada perkara-perkara rohani yang bernilai kekal, itu merupakan tanda peringatan bagi orang yang sedang undur.

 Pada waktu seseorang memulai kehidupan barunya bersama Kristus, pikirannya terpusat pada hal-hal rohani. Namun kalau selang beberapa waktu kemudian pikirannya semakin terarah pada hal-hal duniawi, itu merupakan tanda permulaan kemunduran rohani.

Pada awal kemunduran itu, pikiran-pikiran tentang hal-hal rohani masih dapat sering muncul tetapi tidak lagi sekuat seperti sebelumnya. Dan sementara keinginan diri sendiri semakin memuhi hatinya, tidak tersisa tempat lagi di hatinya bagi perkara perkara rohani. Pada mulanya mungkin ia menyadari adalanya perubahan pola pikiran pada dirinya, tetapi sewaktu kemunduran rohani semakin bertambah parah, ia semakin tidak dapat merasakan terjadinya perubahan itu. Akhirnya teguran yang bijaksana sekalipun akan membuatnya marah; ia akan membenarkan dirinya atas keadaannya yang menjauh dari Tuhan.

5. Kalau kebaktian-kebaktian di gereja tidak lagi menggugah hatinya, ada kemungkinan ia sedang undur keadaanya.

Orang yang baru mengalami kelahiran baru pada mulanya menikamti setiap kebaktian di gereja; hatinya bersukacita dalam beribadah. Pembacaan firman Tuhan menjadi begitu nyaman terdengar di telinganya dan menyukakan hatinya. Dengan penuh perhatian ia mendengarkan khotbah, dan betul-betul mengucap syukur atas si pengkotbah yang dipakai Tuhan menyampaikan firman-Nya. Ia tidak puas kalau hanya menghadari kebaktian seminggu sekali pada hari minggu saja. Para penatua gereja akan terheran-heran melihat dia hadir setiap kali ada acara apa saja di gereja. Selang berapa lama, kemunduran rohani mulai mewarnai hidupnya. Ia berfikir, “kok khotbahnya jadi tidak menarik? Kok jadi membosankan? Kok lagu-lagunya sekarang jadi loyo?” Firman Tuhan yang didengarnya pun tidak lagi menggugah hatinya. Orang yang sedang undur itu sekarang segan sekali beribadah di gereja. Sapaan yang ramah dan hangat dari pendeta/hamba Tuhan atau orang-orang lainnya menjadi sesuatu yang merisikan dia. Daripada diajak berbincang-bincang oleh diaken yang penuh semangat itu, ia berkeputusan untuk cepat-cepat keluar dari gedung gereja dan pulang dengan jiwa yang masih lapar. Melihat tidak ada gunanya hadir di gereja, ia tidak lagi hadir dalam kebaktian atau ia mencari gereja lain yang lebih cocok bagi orang-orang yang sedang undur.

6. Bila diskusi tentang hal-hal rohani menjadi sesuatu yang mengancam kenyamanan dirinya, itu tandanya ia sedang undur.

Orang yang hatinya terpaut erat pada Yesus Kristus senang berbincang-bincang tentang Dia. Setiap ada kesempatan dan dimanapun tempatnya, ia selalu siap bercakap-cakap tentang hal-hal rohani. Namun sewaktu kemunduran rohani mulai mewarnai hidupnya, ia menganggap bahwa tempat yang tepat untuk berbincang-bincang tentang hal-hal rohani hanyalah di gereja. Selang berapa lama kemudian ia tidak merasa betah membicarakan hal-hal rohani dalam kumpulan orang yang berbeda-beda keyakinannya. Akhirnya ia sama sekali menghindar bila ada diskusi rohani. Ia menjadi tidak suka dan merasa kikuk, jika ada yang menanyakan dia tentang kehidupan kristennya, tentang kesejahteraan jiwanya. Karena takut terhadap orang-orang di sekelilingnya yang bukan Kristen, orang yang sedang undur itu cenderung melecehkan teman sekerjanya yang berani secara terang-terangan berbicara tentang hal-hal rohani ditempat kerjanya. Orang yang sedang undur itu cenderung hanyut lebih jauh lagi sampai-sampai ia mnegatakan: ”Ada dua hal yang saya tidak mau perbincangkan, yaitu: agama dan politik.” Perhatikan ini: Kalau diskusi tentang hal-hal rohani yang penting itu merupakan sesuatu yang membuat kita risi, tidak dapat diragukan lagi, kita temasuk orang kristen yang sedang undur. Mengapa? Karena orang yang rohninya menyala-nyala terhadap Kristus akan senang kalau mendapat kesempatan untuk mendengar Dia dijunjung tinggi, disanjung, dalam percakapan yang bersifat pribadi atau dalam pembicaraan di hadapan umum.

To be continue…………!

Oleh: Richard Owen Roberts, diadaptasi dari buku “Bangkitlah Dari Kesuaman Rohani.” Buku ini adalah salah satu buku Roberts yang terbaik yang membawa kebangunan rohani besar diabad 20 sampai saat ini. Buku ini terus dicetak dan dibaca karena isinya yang sangat alkitabiah, praktis dan mendalam.

Owen RobertsRichard Owen Roberts adalah Pemimpin dan pendiri International Awakening Ministries – Sebuah pelayanan kebangunan rohani yang berskalah internasional, yang telah membawa jutaan orang pada pertobatan sejati dan melahirkan pemimpin-pemimpin besar. Ia berasal dari New York, dan mengembalakan gereja di Idaho, Oregon, Washington dan di California, Amerika Serikat.

Richard Owen Roberts dijuluki bapak kebangunan rohani sejati abad 20 setelah D.L. Moody. Dengan penuh kuasa Roh Kudus dan dengan piawai mengupas kebenaran Alkitab, Ia dipakai Tuhan untuk membawa banyak orang pada kebangunan rohani yang benar. Ia dengan keras menentang praktik kebangunan rohani modern yang angkal dan palsu yang berkembang dewasa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order