Tanda-Tanda Orang Kristen Yang Sedang Undur (Bagian Kedua)

images (30) 7. Bila kegiatan olah raga, rekreasi, dan acara hiburan lainnya menjadi sesuatu yang mendominasi   hidup saudara, sudah dapat dipastikan bahwa saudara sedang undur.

Ada pengkhotbah yang lebih mementingkan agar kebaktian hari minggu berakhir tepat pada tengah hari daripada memikirkan pesan-pesan alkitabiah apa yang diperlukan oleh jemaatnya. Ia segan bila harus “mengacaukan” rencana jemaatnya yang sudah siap berpiknik atau berekreasi pada tengah hari itu. Sama halnya dengan pengkhotbah itu sendiri yang tidak suka kalau ada yang “mengacaukan” acara santainya pada hari Sabtu malam.

Kita diselamatkan bukan untuk berekreasi, tetapi untuk melayani. Bila pertandingan olahraga sama pentingnya bagi saudara seperti pertumbuhan rohani, itu tandanya saudara sedang undur. Bila saudara diminta memilih antara gereja dan rekreasi, lalu saudara memilih rekreasi, itu tandanya saudara sedang undur. Bila saudara lebih banyak memanfaatkan waktu untuk berolahraga dan rekreasi daripada untuk berdoa dan meresapi firman Tuhan, sudah dapat dibayangkan bagaimana kehidupan kerohanian saudara. Sudah jelas kehidupan kerohanian saudara tidak saja sedang undur, tetapi sedang merosot ke tingkat yang sangat menyedihkan.

8. Bila saudara melakukan perbuatan dosa, termasuk yang saudara lakukan di alam pikiran saudara, tetapi hati nurani saudaranya tidak gelisah dibuatnya, maka sudah pasti saudara sedang undur.

Sebelum seseorang bertobat, sudah lazim kalau hati nuraninya tidak peka terhadap perbuatan dosa. Orang belum “lahir baru” mempunyai hati nurani yang bebal sifatnya. Tidak aneh kalau ia tidak mencucurkan air mata atas perbuatan dosanya. Tetapi bagaimana kalau orang Kristen yang sudah lahir baru, yang sudah menjadi ciptaan baru di dalam Yesus Kristus, yang sudah meninggalkan kehidupan lamanya, yang sudah menjalani kehidupan baru, tetapi memperlihatkan ciri-ciri yang sama seperti orang yang belum lahir baru? Hanya ada satu jawaban: ia sedang undur.

Bila seorang Kristen hidup dalam satu persekutuan yang erat dengan Yesus Kristus, ia memiliki kepekaan terhadap mana yang benar dan mana yang salah. Bukankah kepekaan tersebut merupakan ciri Yesus tatkala Ia hidup di dunia ini? Tetapi bila ia tidak lagi hidup dalam satu persekutuan yang erat dengan Dia, maka kepekaan itu akan lenyap.

Ciri orang yang sedang undur: tidak peduli terhadap dosanya sendiri. Apa yang tadinya memuakkan, sekarang tidak dipusingkan lagi. Dosa-dosa yang tadinya dihindari, seakan-akan dirangkulnya dengan enaknya. Semakin ia penuh dengan keinginan dirinya sendiri, semakin ia leluasa melakukan perbuatan dosa yang membuat posisinya nyaman dan menyenangkan. Ia merasa bebas melakukan apa saja sekehendak hatinya. Ia yang tadinya mual terhadap perbuatan-perbuatan dosa, malah menceburkan diri ke dalam lumpur dosa tanpa merasa terusik hati nuraninya, apalagi sedih.

9. Bila keinginan untuk mejalani hidup kudus tidak lagi menguasai hidup dan pikiran saudara, maka saudara sedang undur.

Bagi orang yang sedang undur, hidup dalam kekudusan adalah sesuatu yang terlalu tinggi untuk dicapai dan tidak begitu penting. Tidak demikian halnya dengan orang kristen yang sungguh-sungguh mananggapi panggilan:….”Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:16). Dengan meresapi kebenaran kata-kata, “sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14), ia mempunyai sasaran alkitabiah untuk hidup kudus. Setiap kali ia jatuh ke dalam dosa, walau dalam hal kecil saja, hatinya pilu; ia lalu mengakui kesalahannya itu kepada Tuhan sambil memohon pertolongan Tuhan supaya lain kali ia tidak mengulangi kesalahn yang sama.

Tidak demikian halnya dengan orang yang sedang undur. Ia jemu berjuang untuk hidup kudus, maka ia membiarkan keinginan dirinya sendiri memenuhi hati dan pikirannya sampai-sampai keinginan untuk hidup kudus hilang tidak berbekas. Ia tidak memiliki keinginan itu lagi. Bila ia tadinya bertekad untuk hidup kudus, kini ia merasa lebih baik mati daripada harus hidup kudus. Keinginan untuk hidup kudus telah sirna. Ia malah puas dengan keadaannya yang sekarang ini. Ia tidak lagi merasa lapar atau haus akan firman Tuhan; juga tidak merasa sedih atas kekurangannya itu.

10. Kalau hal menimbun harta mendominasi pikiran saudara, jelaslah saudara sedang undur.

Kalau seorang Kristen perhatiannya sebagian besar tertuju pada perkara uang, mobil, rumah, tanah, saham, emas, intan, nyatalah ia sedang berada dalam proses kemunduran rohani. Alkitab tidak menyalahkan orang yang memilki banyak uang atau harta benda, juga tidak melarang pemakaiannya. Tetapi dengan tegas Alkitab melarang orang mencintai uang atau melekatkan hatinya pada benda-benda lainnya. Kehidupan orang percaya diibaratkan sebagai  kehidupan orang musafir yang sedang mengembara di dunia yang penuh dengan benda-benda itu yang bersifat sementara. Ia tidak melekatkan hatinya pada benda-benda itu yang pada suatu saat akan lenyap, tetapi ia melekatkan hatinya pada “perkara-perkara yang dari atas”. Ia mengumpulkan harta di surga dimana tidak ada ngengat dan karat tidak dapat merusaknya, dan dimana tidak ada pencuri yang dapat mencurinya.

Orang yang sedang undur tidak mau hidup seperti itu. Ia tidak akan tahan melihat harta yang bergemerlapan di sekelilingnya; ia berpikir bahwa ia harus menimbun harta sebanyak mungkin bagi dirinya sendiri. Ia tidak lagi memikirkan kehidupan kekal—itu terlalu jauh dan tidak terbayangkan baginya dibandingkan dengan saat sekarang ini. Kalau saudara mendapati diri saudara mengejar perkara-perkara duniawi yang mengelilingi saudara saat ini, hati-hatilah, itu menunjukkan bahwa saudara sedang undur.

11. Kalau saudara sudah terbiasa menyanyikan lagu-lagu rohani tanpa menjiwai kata-katanya,    yakinlah saudara sedang undur.

Betapa banyaknya lagu rohani yang dinyanyikan bagi Tuhan, tetapi sama sekali tidak nyaman kedengarannya di telinga Tuhan. Ada orang Kristen yang dengan enaknya menyanyi “kucinta pada-Mu Yesus, milikku; kubuang dosaku sebab kasih-Mu,” padahal tidak ada niat untuk membuang dosa dan tidak ada kasih kepada Yesus. Atau menyanyi “Aku berserah, aku berserah,” padahal pada kenyataannya ia tidak berserah. Atau menyanyi “semakin manis setiap hari,” tetapi pada kenyataannya setiap tahun hatinya semakin penuh kepahitan. Perhatikan doa ini yang dinaikkan minggu demi minggu: “jadilah kehendak-Mu di bumu seperti di surga.” Namun orang-orang yang berdoa seperti itu ternyata tidak melakukan kehendak Tuhan. Dan sudah pasti mereka tidak mendorong orang lain untuk melakukan kehendaknya.

Sanggup menyuarakan ucapan-ucapan yang mengandung makna rohani, sanggup menyanyikan lagu-lagu rohani, sanggup berdoa, sanggup bersaksi, tetapi tidak melakukannya dari dalam lubuk hati merupakan tanda kemunduran rohani. Setiap orang kristen yang jujur pasti pernah mengalami betapa sulitnya menundukkan diri di bawah kehendak Tuhan. Di saat-saat seperti itu ia terdiam, terbungkam. Sebaliknya, orang yang sedang undur dengan enaknya bertingkah sebagai seorang munafik. Dengan leluasa ia mengucapkan kata-kata rohani, namun lain di mulut, lain di hati. Ia merasa enak saja dalam keadaannya yang sedang undur.

12. Kalau saudara tidak berkeberatan mendengar nama Tuhan disebut dengan sembarangan, hal-hal rohani dipermainkan, dan tidak marah dibuatnya serta tidak mengambil tindakan apa-apa, saudara sedang undur.

Orang Kristen sejati tidak hanya menghormati nama Tuhan. Tetapi juga akan merasa pedih sekali bila mendengar nama Tuhan disebut secara sembarangan oleh orang lain. Ia tidak betah berada di tengah-tengah para pencemaooh. Orang yang betul-betul mengasihi Tuhan dengan dengan segenap hati dan pikirannya akan terusik bila mendengar hal-hal rohani ditertawakan dan diremehkan. Orang yang hidup dalam persekutuan yang erat dengan Kristus pasti akan menentang perbuatan-perbuatan kegelapan seperti itu.

       Orang yang sedang undur betah-betah saja bergaul dengan para pencemooh. Kata-kata mereka yang kotor, yang mengandung hinaan itu tidak membuat hatinya pilu dan pedih. Menegur supaya mereka tidak bicara sembarangan seperti itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Orang yang sedang undur tetap dapat tinggal di tempatnya sekalipun nada pembicaraan orang-orang di sekelilingnya sudah menjurus ke arah hujatan.

To be continue…………!

 

Oleh: Richard Owen Roberts, diadaptasi dari buku “Bangkitlah Dari Kesuaman Rohani.” Buku ini adalah salah satu buku Roberts yang terbaik yang membawa kebangunan rohani besar diabad 20 sampai saat ini. Buku ini terus dicetak dan dibaca karena isinya yang sangat alkitabiah, praktis dan mendalam.

Owen RobertsRichard Owen Roberts adalah Pemimpin dan pendiri International Awakening Ministries – Sebuah pelayanan kebangunan rohani yang berskalah internasional, yang telah membawa jutaan orang pada pertobatan sejati dan melahirkan pemimpin-pemimpin besar. Ia berasal dari New York, dan mengembalakan gereja di Idaho, Oregon, Washington dan di California, Amerika Serikat.

Richard Owen Roberts dijuluki bapak kebangunan rohani sejati abad 20 setelah D.L. Moody. Dengan penuh kuasa Roh Kudus dan dengan piawai mengupas kebenaran Alkitab, Ia dipakai Tuhan untuk membawa banyak orang pada kebangunan rohani yang benar. Ia dengan keras menentang praktik kebangunan rohani modern yang angkal dan palsu yang berkembang dewasa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order