Pengkhotbah atau Badut ?

Saat ini ketimbang mempelajari Firman Tuhan dari seorang pelayan Tuhan yang serius mengajar, orang-orang lebih menyukai mendengarkan khotbah-khotbah yang lucu, humoris dan menghibur. Mimbar gereja yang awalnya adalah tempat mengajar diubah menjadi panggung cerita komedi. Namun, bedanya terdapat sedikit Firman Tuhan di dalamnya sebagai intrik dari para pebisnis rohani ini bahwa mereka memberitakan Firman Tuhan.

Sebenarnya bagi para jemaat Tuhan sejati para pengkhotbah yang membuat lelucon sekedar untuk ‘menghangatkan jemaat’ adalah salah satu hal yang paling menjengkelkan dalam gereja-gereja. Jika saja seorang pengkhotbah memulai khotbahnya dengan membuat lelucon selama 15 menit dan di sana hadir 30 orang, sebenarnya ia telah menghabiskan 15 menit dari waktu 30 orang pada hari itu.

Itu berarti 450 menit dari waktu kita dan waktu Tuhan yang telah dia sia-siakan. Tujuh setengah jam dia habiskan menceritakan lelucon yang konyol dan bukan menggunakan menit-menit yang berharga itu untuk menyampaikan Firman Allah kepada orang-orang yang membutuhkan di zaman yang kacau ini.

Seorang hamba Tuhan bernama Cloud menyatakan, “tidak ada sedikitpun petunjuk dalam Alkitab bahwa adalah baik untuk menjadikan mimbar sebagai forum menceritakan lelucon. Kita tidak bisa membayangkan Yohanes Pembaptis atau Tuhan Yesus atau Rasul Paulus melakukan hal seperti itu. Perintah yang serius kepada para pengkhotbah adalah nyatakanlah apa yang salah, tegorlah, nasihatilah.”

Sumber : graphe-ministry.org/wayoflife.org