Peneliti : Neanderthal Dapat Membuat Api Sendiri

Para peneliti yang menyelidiki alat-alat yang dipakai oleh Neanderthal, telah menemukan bahwa mereka bisa memulai api dengan menggunakan batu api.

Arkeolog, Andrew Sorensen, dari Universitas Leiden di Belanda, mengatakan, “Saya mengenali pola pemakaian seperti ini dari pekerjaan eksperimental saya dulu. … Mampu membuat api mereka sendiri memberikan para Neanderthal lebih banyak fleksibilitas dalam kehidupan mereka. Ini adalah keahlian yang telah kita duga, tetapi yang tadinya tidak kita pastikan mereka miliki”. (“Neanderthals could start their own fires”, UPI, 19 Juli 2018).

Ini adalah penemuan terakhir yang mematahkan klaim-klaim terdahulu kaum Darwinis bahwa Neanderthal adalah manusia gua yang hanya bisa menggeram satu terhadap yang lain.

Pada tahun 1907, Ernst Haeckel, murid utama Charles Darwin di Jerman, menggambarkan Neanderthal sebagai pra-manusia, dan menaruh mereka di antara Pithecanthropus (Java Man) dan Homo Australis, yang dia sebut “ras terendah dari manusia belakangan”.

Paleontologis terkenal Perancis, Marcellin Boule, percaya bahwa Neanderthal adalah suatu cabang manusia-kera yang menjadi punah tanpa menjadi manusia modern. Dia percaya bahwa Neanderthal berjalan dengan bungkuk, dengan lutut yang tertekuk dan mengesot, dan memiliki hanya bahasa yang paling sederhana (Fossil Men, 1957, hal. 251).

Pada tahun 1930, Frederick Blaschke membuat model sebuah keluarga Neanderthal dalam setting gua, didasarkan pada interpretasi Boule. Mereka bungkuk, setengah berpakaian, memegang tulang-tulang, dan memiliki ekspresi wajah yang sangat bodoh. Model ini ditaruh sebagai ekshibit permanen di Field Museum of Natural History di Chicago, dan disalin di banyak sekali buku teks, ensiklopedia, jurnal, majalah-majalah populer dan koran-koran, dan museum-museum. Ini adalah pandangan yang berkuasa selama hampir setengah abad, tetapi ini bukan sains; ini adalah pembentukan mitos didasarkan pada asumsi dan spekulasi.

Sejak tahun 1960an, Neanderthal telah perlahan-lahan semakin di-manusiawi-kan. Neanderthal bahkan telah diklasifikasikan ulang menjadi Homo sapiens neanderthalensis, suatu tipe manusia modern. Sekarang diakui bahwa Neanderthal memiliki budaya yang maju (mereka mempedulikan kaum yang sakit dan lanjut usia, menguburkan orang-orang mereka yang mati, memegang agama), membuat obat-obatan, menggunakan berbagai jenis alat, menggunakan pelekat, membuat tindik atau jarum dari tulang, membangun rumah-rumah berdinding, membuat tempat perapian untuk memasak dan kehangatan, membuat ornamen-ornamen dan patung-patung dari tulang, gigi, gading, dan kayu halus, dan memainkan suling dengan sistem musik tujuh not yang didapatkan juga dalam sistem musik Barat (Marvin Lubenow, Bones of Contention, hal. 239-244, 254-257).

Apakah para evolusionis telah meminta maaf karena kesalahan yang telah mereka sebarkan di dunia? Tentu tidak sama sekali. Faktanya, barulah setelah dua dekade penuh, Chicago Field Museum mengoreksi ekshibit Neanderthal mereka yang berpengaruh namun sangat salah tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Melvin Lubenow di Bones of Contention, “Barulah pada pertengahan 1970an, Field Museum tersebut menurunkan ekshibit mereka yang lama yang menggambarkan Neanderthal yang mirip kera, dan menggantinya dengan Neanderthal yang tegak, yang terlihat hari ini. Apa yang mereka lakukan dengan ekshibit yang lama? Apakah mereka membuangnya ke tong sampah, tempat yang pantas untuknya? Tidak. Mereka memindahkan ekshibit lama ke lantai dua, dan menaruhnya persis di samping kerangka dinosaurus Apatosaurus yang besar, dan di sana jauh lebih banyak lagi orang – terutama anak-anak – akan melihat ekshibit lama tersebut. Mereka memberikan label pada ekshibit itu “Suatu pandangan alternatif tentang Neanderthal”. Ini bukan pandangan alternatif. Ini adalah pandangan yang salah. Dan para ilmuwan sering mengklaim bahwa sains memiliki mekanisme koreksi diri sendiri. Ternyata dalam kasus Neanderthal, tidak demikian…

Sumber : Way of Life
Penerjemah : Graphe International Theological Seminary
Gambar : Wikimedia