Mengapa Aku Mencintai Alkitab ?

mengapa mencintai alkitabBy Dr. Charles Swindoll.

Bukan rahasia lagi kalau aku mencintai Alkitab. Saya suka membacanya, mempelajarinya, merenungkannya, menghafalnya, dan saya sangat senang mengaplikasikannya. Salah satu sukacita terbesar saya dalam hidup adalah mengkomunikasikannya.

Alasan saya begitu mencintai Alkitab dikarenakan Alkitab adalah buku pengharapan. Ketika Anda mengenal orang-orang dalam Alkitab, Anda akan melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup mereka, dan Anda tahu bahwa akan selalu ada hari esok. Sebesar apa pun persoalan kita, sekuat apa pun pergumulan kita melawan dosa atau serusak seperti apa pun kehidupan karena dosa, kita dapat menemukan pengharapan dalam Alkitab. Firman Tuhan menawarkan hari esok yang berisikan harapan.

Salah satu cara terbaik untuk mengembangkan keintiman dengan Tuhan adalah menyediakan waktu khusus secara pribadi mempelajari Firman-Nya. Selama ini mungkin kita cenderung mengandalkan khotbah-khotbah indah dan guru Alkitab yang hebat untuk pertumbuhan kita. Namun pertumbuhan rohani yang nyata hanya bisa terjadi ketika kita berhubungan dengan Firman Tuhan secara pribadi. Guru Alkitab hanya sebatas mengajarkan caranya; kitalah yang harus mengambil langkah-langkah.

Saya menyarankan tiga cara bagaimana seseorang bertumbuh lebih dekat kepada Allah melalui waktu pribadi dalam Firman-Nya:

Pelajarilah Firman-Nya dengan hati

Dekatilah Alkitab dengan hati yang penuh antusias! Pemazmur melukiskan dalam benaknya betapa indahnya ajaran Tuhan itu, sehingga ia tidak sabar lagi untuk meminumnya; “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (Mazmur 119: 103)

Memasukanlah Firman itu ke dalam Hati

Saya telah hidup cukup lama untuk menyadari bahwa betapa saya sangat membutuhkan firman Tuhan dalam hidup saya. Sekarang, aku sudah cukup mengerti mengenali apa yang berbahaya. Aku cukup bijaksana untuk mengetahui mana yang bisa dipercayai. Aku membutuhkan ya dan tidak dari Tuhan. Aku membutuhkan terang-Nya untuk mengekspos kegelapan dalam diri  saya, perintah-Nya untuk menguatkan keyakinan saya. Hanya Firman-Nya yang dapat memberikan semua itu.

Simpanlah Firman itu dalam hati

Tradisi Yahudi mengatakan bahwa para ibu Yahudi abad pertama mengajarkan anak-anak mereka untuk berdoa, “Bapa, ke dalam tangan Anda kuserahkan hidupku” (Mazmur 31: 5). Pada jam terakhir menjelang kematian Yesus di kayu salib, Yesus mengcapkan doa yang sudah menjadi tradisi itu dan kemungkinan besar Yesus menghafalnya ketika Ia masih seorang anak kecil dalam bimbingan ibu Maria. Aku tidak tahu apakah ada disiplin yang dapat mengubah pikiran menjadi lebih baik daripada disiplin menghafalkan Firman. Betapa sangat penting kita menanamkan kebenaran Firman Tuhan ke dalam hati kita.

Jika aku diberi satu kesempatan untuk berbagi kepada semua umat Tuhan, saya akan mengatakan, “kembalilah kepada Firman Tuhan.” Alkitab adalah tempat peristirahatan terakhir bagi harapan kita, penderitaan kita, dan hal-hal yang mengejutkan kita. Tuhan menggunakan hidup untuk mengajarkan saya tentang arti Firman-Nya dan mengajar saya tentang makna kehidupan. Jika bukan karena buku ini, saya tidak akan pernah tahu bahwa Yesus mengasihi saya, dan itu juga berlaku bagi Anda. Itulah harapan yang sedalam-dalamnya, dan itu adalah kebenaran Firman Tuhan.

By Dr. Charles Swindoll, Why I Love the Bible @Insight for Living

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order