Memberi Tak Akan Membuat Seseorang Berkekurangan

Pada 1964, perekonomian Indonesia benar-benar sedang terpuruk. Namun, sepasang suami istri yang tidak berpunya tetap mengulurkan tangan untuk menolong orang yang lebih tidak mampu. Mereka menampung sebuah keluarga untuk tinggal bersama di rumah kontrakan yang sangat sederhana. Akibatnya, mereka sendiri harus tidur berdesak-desakan dengan kesepuluh anak mereka dalam sebuah kamar. Namun, Tuhan tetap memelihara kehidupan mereka. Bahkan kini, berpuluh tahun kemudian, anak-anak mereka telah memiliki kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik.

Dalam bacaan ini, Tuhan tidak menurunkan hujan ke tanah Israel selama tiga tahun enam bulan. Itu sebabnya air di sungai pun kering. Tak mengherankan jika si janda hanya memiliki sedikit tepung dan minyak untuk ia sendiri dan anaknya. Namun, ketika ia menaati firman Tuhan untuk memberi makanan kepada Nabi Elia, Tuhan tetap memelihara hidup sang janda dan anaknya selama masa kekeringan.

Beberapa di antara kita mungkin berpikir bahwa ia harus menunggu kaya dulu, baru ia akan dapat menolong orang lain. Akan tetapi, kenyataannya orang demikian tidak akan pernah merasa mampu untuk menolong orang lain sebab siapa pun cenderung selalu merasa tidak puas dan berkekurangan. Sebaliknya, hati yang mau memberi dan menolong orang lain, tidak pernah bergantung dari berapa banyak yang dimiliki. Namun, bersumber dari hati yang mengasihi Tuhan. Dan, setiap orang yang suka menolong tak perlu khawatir, sebab Tuhan pasti memelihara hidupnya hingga tidak berkekurangan

Jangan Takut Berbagi Berkat Kepada yang Membutuhkan
Karena Tuhan Senantiasa Memelihara Setiap Orang yang MengasihiNya.

Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan,
tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki. (Amsal 28:27)