Lima Belas Akibat Buruk Dari Khotbah yang Dangkal

15 akibat buruk dari khotbah yang dangkalOleh: Ps. Dr. John MacArthur.

Khotbah telah menjadi “bisnis rohani” besar yang digemari oleh para pencari pemuasan diri atas kekosongan perasaan dan telinga mereka. Tak ayal, banyak gereja telah menggantikan khotbah yang alkitabiah dengan banyolan atau lelucon (2 Tim. 4:3-4). Tak dapat disangkal, pengkhotbah-pengkhotbah demikian begitu laku keras. Melihat fenomena ini, Saya memeriksa apa yang terjadi ketika para pengkhotbah modern mengutamakan para pemburu kesenangan telinga dari pada khotbah yang sebenarnya.

Semua orang yang mengenal segala sesuatu tentang pelayanan saya tahu bahwa saya telah berkomitmen untuk berkhotbah ekspositori (Khotbah yang menguraikan secara rinci isi Alkitab). Ini adalah keyakinan saya yang tak tergoyahkan bahwa penyampaian Firman Tuhan harus selalu menjadi inti dan fokus pelayanan gereja (1 Timotius 4: 2). Dan khotbah Alkitab yang tepat harus sistematis, eksposisi, teologis, dan berpusat pada Kristus.

Khotbah demikian sangat jarang saat ini. Ada banyak komunikator berbakat dalam kekristenan modern, tetapi saat ini khotbah-khotbah cenderung pendek, dangkal, tema-tema khotbah yang membuai ego manusia dan berfokus pada masalah yang hambar seperti hubungan antar manusia, kehidupan yang “sukses”, masalah emosional, dan praktek-praktek duniawi lainnya – dan bukan tema-tema kebenaran yang Alkitabiah. Seperti mimbar modern yang terbuat dari kaca plastik, demikian juga halnya pesan-pesan khotbah tersebut ringan dan tanpa substansi, bermutu rendah dan dangkal, tidak bertahan dan tertanam di benak para pendengar.

Saya baru-baru menjadi tuan rumah (host) diskusi di Expositors’ Institute, sebuah seminar kelompok kecil tentang khotbah yang diselenggarakan oleh Shepherds’ Fellowship. Dalam persiapan untuk seminar itu, saya mengambil buku catatan kuning dan mulai mendaftar efek negatif dari jenis khotbah dangkal yang begitu marak dalam kekristenan modern ini.

Awalnya saya pikir saya mungkin bisa menyebutkan sekitar sepuluh, ternyata dengan cepat daftar saya berjumlah enam puluh satu point. Saya kemudian meringkasnya menjadi lima belas point penting. Berikut ini akibat-akibat buruk dari khotbah-khotbah yang dangkal yang memenuhi mimbar-mimbar gereja dewasa ini :

1. Merampas otoritas Allah atas jiwa.

Apakah seorang pengkhotbah berani menyatakan firman Tuhan atau tidak, pada akhirnya adalah soal otoritas. Siapa yang memiliki hak untuk berbicara dalam gereja? Pengkhotbah atau Tuhan? Segala sesuatu yang menggantikan pemberitaan Firman, di situ otoritas Allah telah dirampok. Betapa sering saya mendengarkan khotbah-khotbah yang berisikan pikiran dan filsafat dari pengkhotbah itu sendiri. Anda mungkin juga sering mendengar seorang pengkhotbah berkata: Saya ingin mengkhotbahkan apa yang ada di hati saya, yang muncul dipikiran saya, atau yang saya pelajari dari guru saya. Betapa sombongnya ia melakukannya! Bahkan, sulit untuk membayangkan ada sesuatu yang lebih kurang ajar yang bisa dilakukan oleh seseorang seperti yang dilakukan oleh seseorang berkhotbah Tuhan yang sejatinya dipanggil untuk menguraikan Firman Tuhan.

2. Melepaskan kepemilikan Kristus atas gereja-Nya.

Siapakah Kepala gereja? Apakah Kristus benar-benar sumber utama pengajaran dalam gereja? Jika demikian, lalu mengapa begitu banyak gereja tidak setia menyuarakan kebenaran Firman Tuhan? Ketika kita melihat pelayanan masa kini, kita melihat program dan metode yang merupakan buah dari rekayasa manusia dan pragmatisme lainnya. Para pakar pertumbuhan gereja pada dasarnya telah merebut kendali agenda gereja dari Kepala sejati, yakni: Tuhan Yesus Kristus.

Pengkhotbah masa kini yang mengabaikan firman Tuhan telah menghasilkan umat-umat yang suka berkelahi dan kadang-kadang saling membunuh. Ketika Yesus Kristus ditinggikan di antara umat-Nya, kuasa-Nya terwujud dalam gereja. Ketika gereja dipimpin oleh orang-orang yang suka berkompromi, pragmatis, yang mengubah injil sesuai budaya dan keinginan manusia, hasilnya adalah sebuah gereja tanpa kuasa ilahi dan gereja tanpa kebenaran.

3. Menghambat Pekerjaan Roh Kudus.

Dengan alat apa Roh Kudus melakukan pekerjaan-Nya? Dengan Firman Tuhan – Alkitab. Roh Kudus menggunakan Firman sebagai alat pembaruan (1 Pet. 1:23;. Yakobus 1:18). Roh Kudus juga menggunakan Alkitab sebagai sarana pengudusan (Yohanes 17:17). Bahkan, itu adalah satu-satunya alat yang Roh Kudus gunakan (Ef. 6:17). Jadi, ketika pengkhotbah mengabaikan Firman Allah, mereka telah menghalangi karya Roh Kudus. Alhasil, keristenan penuh dengan orang-orang Kristen yang lumpuh rohani atau berkerohanian dangkal dan palsu.

4. Mendemonstrasikan kesombongan dan ketidaktundukan.

Pendekatan utama “pelayanan” masa kini adalah Firman Allah sengaja dipermainkan, salib Kristus pelan-pelan ditolak, teguran Injil pelan-pelan ditanggalkan, dan “acara kebaktian” sengaja dirancang agar sesuai dengan keinginan orang-orang berdosa. Itu tidak lain adalah penolakan untuk tunduk kepada mandat Alkitab bagi gereja. Kelancangan pelayan-pelayan Tuhan yang mengikuti cara tersebut, bagi saya sungguh mengerikan.

5. Ini memisahkan pengkhotbah itu sendiri dari kasih karunia penguduskan yang terus-menerus dari Firman Tuhan.

Manfaat pribadi terbesar yang saya dapatkan dari berkhotbah adalah pekerjaan yang Roh Allah lakukan pada diri saya sendiri ketika saya belajar dan mempersiapkan diri setiap minggu dalam menyiapkan khotbah. Minggu demi minggu, tugas eksposisi yang teliti menjaga hati saya sendiri fokus dan lekat pada Alkitab, dan Firman Tuhan memelihara saya sementara saya mempersiapkan diri untuk menggembalakan domba-domba saya. Jadi saya secara pribadi diberkati dan diperkuat secara rohani melalui kegigihan dan ketekunan saya. Saya tidak akan pernah meninggalkan pelayanan mengkhotbahkan Alkitab, jika tidak ada tugas yang lebih penting dari itu. Mempersiapkan Khotbah yang benar bagi semua pengkhotbah merupakan anugerah, di mana Firman-Nya menyucikan, menguduskan dan melindungi para pengkhotbah dari kekeringan rohani.

6. Ini menutupi kebenaran sebenarnya dan melebihi pesan kita dan melumpuhkan penyembahan kita secara personal maupun kelompok.

Apa yang disampaikan kotbah-kotbah di beberapa gereja saat ini benar-benar tidak lebih baik daripada apa yang disampaikan oleh pengkhotbah-pengkhotbah di jaman kakek-nenek kita yang memberikan wejangan lima menit untuk anak-anak mereka sebelum melepas anak-anak mereka untuk bermain. Itu tidak berlebihan. Terlalu sederhanya, tidak memdalam, bahkan konyol. Dengn khotbah semacam itu tidak memungkinkan ibadah yang benar mendapat tempat, karena ibadah adalah pengalaman transenden. Ibadah seharusnya membawa kita pada suatu pengalaman rohani yang luar biasa bersama Tuhan dalam kebenaran. Jadi penyembahan yang benar hanya dapat terjadi jika kita memahami secara mendalam kebenaran rohani. Umat Tuhan hanya bisa mengalami pengalaman adikodrati / hadirat Tuhan sejauh mereka dibawa kepada kedalaman kebenaran Firman. Tidak ada cara bagi mereka untuk dapat memiliki pikiran luhur Allah kecuali kita telah tenggelamkan mereka kedalaman kebenaran murni Allah. Tapi khotbah saat ini sungguh tidak mendalam dan juga juga transenden. Tidak turun dan tidak naik. Hanya bertujuan untuk menghibur telinga (2 Timotius 4:3-4).

Penyembahan yang benar bukanlah sesuatu yang bisa dubuat-buat oleh seorang worship Leader dengan full band yang keras dan musik lebih sentimental. Semua itu hanya untuk memuaskan dan membangkitkan emosi orang. Tapi itu bukan ibadah yang sejati. Ibadah yang benar adalah respon dari hati atas kebenaran Allah (Yohanes 4:23). Anda sungguh dapat beribadah tanpa musik jika Anda telah melihat kemuliaan dan kedalaman apa yang Alkitab ajarkan.

7. Ini mencegah pengkhotbah dalam mengembangkan pikiran Kristus seutuhnya.

Pendeta atau pun gembala jemaat seharusnya di bawah penggembalaan Kristus. Terlalu banyak pengkhotbah masa kini yang jalan pikiran dibentuk oleh budaya, bukan pikiran Kristus. Mereka berpikir seperti dunia, tidak seperti Kristus. Terus terang, nuansa budaya duniawi begitu tidak relevan bagi saya. Saya hanya ingin tahu pikiran Kristus, dan membawa pikiran Kristus memengaruhi budaya dunia, tidak terkecuali dalam budaya apa pun. Apabila saya akan berdiri di atas mimbar dan menjadi wakil Yesus Kristus, saya ingin tahu bagaimana Ia berpikir – dan itu jugalah yang harus menjadi pesan saya kepada umat-Nya. Satu-satunya cara untuk mengetahui dan menyatakan pikiran Kristus adalah dengan setia belajar dan memberitakan Firman-Nya. Apa yang terjadi pada para pengkhotbah-pengkhotbah yang terobsesi pada “relevansi,” budaya, adalah bahwa mereka menjadi duniawi, bukan berorientasi pada Tuhan.

8. Terjadi krisis keteladanan rohani dan hilangnya kewajiban belajar Alkitab secara pribadi.

Apakah belajar Alkitab secara pribadi penting? Tentu saja. Tatapi teladan apakah yang ditunjukkan oleh pengkhotbah ketika dia mengabaikan Alkitab dalam khotbahnya sendiri? Mengapa umat akan berpikir mereka perlu mempelajari Alkitab jika pengkhotbahnya sendiri tidak melakukan studi serius dalam penyusunan khotbah-khotbahnya? Saat ini sudah ada gerakan  pemburuh “khotbah ricu “(ringan dan lucu) yang di dalamnya terdapat banyak pengkhotbah-pengkhotbah modern yang berusaha memangkas sebanyak mungkin referensi ayat-ayat Alkitab dari khotbah – dan meminta para pengkhotbah untuk tidak beralih ke suatu bagian Alkitab tertentu – karena hal semacam itu membuat “pemburu khotbah ricu” tidak nyaman. (Beberapa gereja demikian secara aktif menghimbau jemaat mereka agar tidak membawa Alkitab ke gereja supaya tidak dipusingkan oleh banyaknya ayat-ayat Alkitab”). Seolah-olah adalah berbahaya memberikan jemaat kita banyak ayat-ayat Alkitab dan mengajarkan banyak hal tentang kebenaran Alkitab kepada jemaat kita.

9. Ini mencegah pengkhotbah menjadi suara Tuhan pada setiap masalah saat ini.

Yeremia 8: 9 mengatakan, “Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, akan terkejut dan tertangkap. Sesungguhnya, mereka telah menolak firman TUHAN, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?” Ketika saya berbicara, saya ingin menjadi utusan Allah. Saya sama sekali tidak tertarik menafsirkan Alkitab seperti apa yang telah dikatakan oleh beberapa psikolog, atau guru bisnis, atau dosen tentang suatu masalah. Jemaat saya tidak perlu pendapat saya; mereka perlu mendengar apa yang dikatakan Tuhan. Jika kita memberitakan Firman Tuhan sebagaimana yang dikatakan Alkitab, perkataan itu tidak boleh bersayap, bermakna dua atau memiliki kepentingan lain.

10. Melahirkan jemaat yang lemah dan apatis atas sebagaimana gembala mereka terhadap kemuliaan Allah.

Khotbah yang “memanjakan perasaan” mendorong orang-orang yang telah mengkonsumsinya memiliki kesejahteraan mereka sendiri. Ketika Anda berkata ke orang bahwa pelayanan utama gereja adalah semata-mata untuk memperbaiki apa yang salah pada mereka dalam artian apapun yang salah dalam kehidupan ini, untuk memenuhi kebutuhan mereka, untuk membantu mereka mengatasi kekecewaan mereka, dan sebagainya. Pesan yang tengah Anda sampaikan mengenai masalah mereka menjadi lebih penting daripada kebesaran Tuhan dan kemuliaan Kristus. Sekali lagi ini merupakan sabotase atas pelayanan sebenarnya. Inilah fenomena yang terjadi, yaitu khotbah yang selalu berpusat pada keinginan manusia telah melahirkan generasi yang lemah, lembek, mudah busuk, dan penyakitan. Sebuah generasi Kristen yang apatis, masa bodoh, tidak peduli dan tidak kristis.

11. Merampas orang dari satu-satunya sumber penolong sejati mereka.

Umat yang duduk di bawah khotbah yang dangkal menjadi tergantung pada kepandaian dan kreativitas pembicara. Ketika pengkhotbah menekankan khotbah-khotbah mereka dengan lampu laser dan asap buatan, klip video dan drama live, pesan yang mereka sampaikan adalah bahwa tidak ada doa-doa dari jemaat-jemaat yang duduk di bangku gereja yang bisa menyaring dan mencerna bahan yang mendalam bagi diri mereka sendiri. Trik-trik semacam itu menciptakan semacam mekanisme penyaluran yang tidak dapat digunakan umat untuk melayani diri mereka sendiri. Jadi, mereka menjadi kursi malas yang di temani kentang-kentang rohani, yang datang hanya untuk dihibur, dan apa pun muatan rohani yang dangkal yang mereka dapatkan dari kinerja mingguan pengkhotbah semua akan mereka dapatkan. Mereka tidak memiliki kerinduan mempelajari Alkitab, karena khotbah yang mereka dengar tidak merangsang dan menumbuhkan itu. Mereka dibuat kagum oleh kreativitas sang pendeta dan disugesti oleh kata-kata manis pengkhotbah, dimanipulasi oleh musik, dan itu menjadi membentuk cara pandang  dan karakter kerohanian mereka.

12. Hal ini mendorong orang untuk menjadi acuh tak acuh terhadap Firman Tuhan dan otoritas ilahi.

Bisa ditebak, sebuah gereja di mana pemberitaan Alkitab diabaikan, mustahil untuk membuat orang untuk tunduk kepada otoritas Kitab Suci. Pengkhotbah yang selalu bertujuan pada pemenuhan “kebutuhan perasaan dan telinga pendengar” dan membuai kesombongan dari orang-orang duniawi tidak memiliki landasan saat menghadapi pria yang ingin menceraikan istrinya tanpa alasan. Pria itu akan berkata, “Anda tidak mengerti apa yang saya rasakan. Saya datang ke sini karena Anda berjanji untuk memenuhi “kebutuhan perasaan” saya. Dan saya kasih tahu, saya tidak merasa ingin terus hidup dengan wanita ini. “Anda tidak dapat menyuntikkan otoritas Alkitab ke dalamnya. Tentu saja Anda tidak akan bisa dengan mudah mengupayakan disiplin gereja. Itu adalah raksasa ciptaan khotbah yang dangkal. Tetapi jika Anda mencoba memerangi dosa dan menerapkan segala jenis prinsip yang berkuasa untuk menjaga gereja tetap murni, Anda harus memberitakan Firman Tuhan.

13. ini terletak pada orang-orang tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan, bukan apa yang Tuhan hendak Firmankan.

Dalam Yeremia 8:11, Allah mengutuk para nabi yang merawat luka orang dengan sekadarnya. Ayat itu sangat mengena bagi para pengkhotbah dangkal yang mengisi begitu banyak mimbar saat ini. Mereka menghilangkan kebenaran yang tegas tentang dosa dan penghakiman Allah. Mereka meredupkan bagian–bagian Alkitab yang berisikan teguran-teguran keras dari Kristus. Mereka berbohong kepada orang-orang tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan, menjanjikan mereka “pemenuhan” dan kesejahteraan duniawi – padahal apa yang benar-benar dibutuhkan orang adalah kebenaran Allah, wahyu Allah dan kekudusan Allah.

14. Ini melucuti kuasa mimbar.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun;..” (Ibr. 4:12). Segala sesuatu yang lain impoten, hanya memberikan kuasa ilusi. Rencana manusia adalah tidak lebih penting daripada Alkitab. Kemampuan pemain sandiwara untuk memikat orang seharusnya tidak memikat kita lebih dari kemampuan Alkitab untuk mengubah kehidupan.

15. Ini menempatkan tanggung jawab pada pengkhotbah untuk mengubah orang-orang dengan kepandaiannya.

Pengkhotbah-pengkhotbah yang mengikuti cara-cara pelayanan masa kini pasti berpikir bahwa mereka memiliki kekuatan atau kuasa untuk mengubah orang. Itu pun, adalah ekspresi kesombongan yang menakutkan. Kita pengkhotbah tidak bisa menyelamatkan orang-orang, dan kita tidak bisa menguduskan mereka. Kita tidak bisa mengubah orang-orang dengan wawasan kita, kepintaran kita, dengan cara menyenangkan mereka, atau dengan menarik keinginan manusia mereka dan harapan dan ambisi mereka. Hanya ada satu yang bisa mengubah orang-orang berdosa. Itulah Tuhan, dan Dia melakukannya dengan Roh-Nya melalui Firman-Nya – Alkitab.

Jadi, beritakanlah Firman, meskipun saat ini dianggap ketinggalan zaman untuk melakukannya (2 Tim 4: 2). Itulah satu-satunya cara agar pelayanan Anda benar-benar berbuah. Selain itu, ini menjamin bahwa Anda akan berbuah dalam pelayanan, karena Firman Allah tidak pernah kembali kepada-Nya dengan sia-sia; selalu melaksanakan apa yang Dia kehendaki, dan berhasil dalam apa yang Dia suruhkan kepadanya. (Yesaya. 55:11).

Diterjemahkan oleh Sidi Pintaka dari artikel Fifteen Evil Consequences of Plexiglas Preaching oleh Dr. John MacArthur: http://www.gty.org.

Dr. John MacArthur adalah salah satu teolog yang paling disegani di dunia karena ketegasannya dalam mengungkapkan kebenaran dan kedalamannya dalam memahami kebenaran Alkitab. Ia adalah seorang gembala jemaat di Grace Community Church,  Sun Valley, California, Amerika Serikat. Presiden dari The Master’s College and Seminary, dan pembicara terkemuka dalam konfrensi besar dan seminar yang dihadiri puluhan ribu pemimpin-pemimpin gereja. Ia juga adalah seorang penulis buku-buku rohani yang memenangkan banyak penghargaan dan best-seller, antara lain: The Gospel According to Jesus in 1988, John has written nearly 400 books and study guides, including Our Sufficiency in Christ, Strange Fire, Ashamed of the Gospel, The Murder of Jesus, A Tale of Two Sons, Twelve Ordinary Men, The Truth War, The Jesus You Can’t Ignore, Slave, One Perfect Life, and The MacArthur New Testament Commentary series. John’s titles have been translated into more than two dozen languages. The MacArthur Study Bible, the cornerstone resource of his ministry, is available in English (NKJ, NAS, and ESV), Spanish, Russian, German, French, Portuguese, Italian, and Arabic with a Chinese translation underway.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order