Kisah Perjalanan Sang Martir Adoniram Judson

Adoniram Judson

Adoniram dan Ann Judson berlayar dari Salem menuju India pada tanggal 19 Februari 1812. Perang ada di mana-mana. Napoleon dan pasukan Perancisnya telah dianggap sebagai ancaman bagi dunia, tetapi Napoleon baru saja mengalami bencana dari serbuan Rusia. Amerika Selatan tersadarkan kepada kekuatan Simon Bolivar yang berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan, dan Amerika Serikat sedang di ambang perang dengan Inggris. Namun, perang lainnya juga akan meletus di hati keluarga Judson ketika mereka memikirkan subjek baptisan selama empat bulan di atas kapal.

Di satu sisi mereka harus menghadapi perjalanan selama empat bulan dengan kapal yang bergoyang-goyang secara monoton dan mabuk laut, tetapi perang dalam hati dan pikiran mereka jauh lebih dahsyat! Rasa panas ketika melewati khatulistiwa dan cuaca hujan yang tidak bersahabat di sekitar Tanjung Harapan adalah sebuah ujian, namun tidak seperti konflik yang tengah terjadi dalam hati dua orang ini yang akan mengubah arah kaum Baptis di Amerika dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh dua orang manapun juga.

Ann cemas ketika ia melihat suaminya secara logika tertarik dengan keyakinan kaum Baptis. Tiga masalah besar muncul di pikiran Ann ketika ia memikirkan bencana seperti ini: disekolahkan di Sekolah Kongregasional oleh orang tuanya, dibesarkan di dalam Gereja Kongregasional, diutus oleh Dewan Kongregasional dan ditemani oleh teman-teman Kongregasional… dan meninggalkan itu semua? Di atas kapal mereka juga terdapat Reverend Tuan dan Ny. Samuel Newell, teman sepelayanan. Ann dan Hariett Newell adalah teman sekolah, dan sekarang masakan hubungan itu harus putus? Ann menulis, “Kami mengantisipasi kehilangan nama baik dan kasih sayang dan hormat dari banyak teman-teman Amerika kami. Tetapi kenyataan yang paling berat yang harus kami hadapi dalam perubahan ini, dan yang paling menyakitkan, adalah perpisahan yang akan terjadi antara kami dan teman-teman misionaris kami.”¹

Ujian yang kedua adalah bahwa mereka pasti tidak akan disupport lagi oleh Board of Commisioners. Lagipula, kaum Baptis tidak memiliki sebuah badan misi pun yang dapat mendukung mereka, dan faktanya, mereka adalah misionari-misionari masih baru. Siapa yang mau menempuh resiko dengan mensupport mereka? Ann menulis kepada orang tuanya, “Hal-hal ini sangat menguji kami, dan membuat hati kami berdarah karena menderita. Kami merasa kami tidak punya rumah dalam dunia ini, dan tidak punya teman, kecuali satu sama lain.”

Terakhir dari semuanya, Ann menyadari bahwa kaum Baptis dipandang rendah di Amerika. Karena jujur terhadap hati nurani yang tulus, kaum Baptis dianggap “aneh” oleh gereja-negara yang lebih mapan. Entah aktivitas-aktivitas mereka tersembunyi atau terlihat, kaum Baptis adalah objek celaan, dan bergabung dengan mereka pastilah akan “melukai dan mendukakan teman-teman Kristen mereka di Amerika.”

Keluarga Judson mendarat di Calcutta pada tanggal 17 Juni 1812.”² Ann telah mengancam bahwa meskipun Adoniram kelak akan menjadi seorang Baptis, dirinya tidak akan menjadi seorang Baptis. Selama dua bulan, misionari-misionari muda itu mempelajari subjek itu, dan pada tanggal 6 September, mereka dibaptis di Gereja Baptis di Calcutta.”³ Dengan harga yang besar, keluarga Judson mendahulukan keyakinan daripada kenyamanan, dan Allah menghadiahi mereka dengan buah yang hanya dapat dinyatakan dalam kekekalan. Mereka tidak dipimpin berdasarkan jumlah yang banyak, ataupun berdasarkan teman, tetapi oleh Allah dan firman-Nya. Betapa pelajaran yang penting bagi generasi kita.

                                            DLC

¹ Walter N. Wyeth, Ann H. Judson (Cincinnati: n.p. 1888), hal. 44.
² Walter Sinclair Stewart, Early Baptist Missionaries and Pioneers (Philadelphia: Judson Press, 1925), hal. 88.
³ G. Winfred Hervey, The Story of Baptist Missions in Foreign Lands (St. Louis: C.R. Barnes Publishing Co., 1892), hal. 113.

Renungan Tambahan DR. SUHENTO LIAUW, DRE., TH.D.:

  1. Adoniram Judson, dan isterinya Ann, adalah orang Gereja Congregation, yaitu Gereja kaum Puritan yang mempertahankan baptisan bayi. Tetapi karena mereka walau dibaptis saat bayi, saat dewasa mereka lahir baru, (ada kisahnya). Hati yang tulus dan cinta kebenaran membuat mereka selama empat bulan, di kapal dari Boston menuju Calcutta, menyelidiki Alkitab sungguh-sungguh. Mereka dapatkan bahwa Doktrin gereja Baptis lebih benar. Tetapi, harga yang harus dibayar untuk pindah sangat besar. Mungkin Anda yang membaca renungan ini juga menghadapi tantangan yang serupa. Tuhan melihat hatimu. Anda mencari kebenaran atau kenyamanan dalam bergereja?
  2. Bukti seseorang sungguh lahir baru, bukan sekedar menyebut diri Kristen ialah CINTA KEBENARAN, karena Tuhan sendiri adalah kebenaran. Seberapakah Anda cinta kebenaran? Lebih dari nyawa Anda? Itulah yang telah dibuktikan oleh banyak orang, di antara mereka ialah Adoniram & Ann Judson. Apakah Anda sungguh lahir baru? Apakah Anda sungguh cinta kebenaran? Sampaikanlah kepada Tuhan dengan bukti, jika ada pengajaran yang mengagetkan Anda, selidiki seperti Adoniram Judson dan istrinya. Banyak orang merasa tertusuk hatinya ketika membaca artikel saya dan berkata mengapa seolah semua gereja jadi salah. Selidikilah, Tuhan sendiri pesimis saat Dia datang masih akan mendapatkan iman, pasti maksudNya bukan sembarangan iman melainkan iman yang benar (Luk.18:8).
  3. Di renungan 13 Juni, Hans Mandemaker bersaudara dipenggal kepala mereka karena bertahan bahwa roti tidak menjadi daging Yesus, itu hanya lambang saja. Adakah riwayat hidup mereka mengusik Anda, kok ada ya orang yang rela dipenggal hanya untuk mempertahankan pendapat bahwa roti tidak berubah jadi daging Yesus? Saya sangat yakin, ketika seorang Kristen mencintai kebenaran dan mengejar kebenaran ia pasti akan semakin dekat kami, sebaliknya ketika seorang Kristen semakin jauh dari kami sangat mungkin karena dia membenci kebenaran yang kami pegang dan sangat menusuk hatinya. Tentu kami tetap mengasihinya.

Sumber: Ketaatan Berbuahkan Berkat. Amsal 16:7. Tiap-tiap Hari Menelusuri Sejarah Baptis