Orang Kulit Hitam Diselamatkan Ketika Bebas Mendengarkan Injil
Elias Camp Morris lahir dalam keluarga budak di Murray County, Georgia, pada tanggal 7 Mei 1855 . Pada akhir Perang Saudara, Elias Morris menemani orang tuanya pergi dari Georgia ke Tennessee. Keluarga itu kemudian pindah ke Alabama, dan Elias yang masih muda mempelajari bisnis pembuatan sepatu dan memperoleh pendidikan yang tersedia baginya. Meskipun dia tidak memiliki pelatihan bisnis, dia ditempatkan sebagai penanggung jawab sebuah toko sepatu, dan karunia pengorganisasian yang diberikan Tuhan kepadanya menjadikan bisnis itu usaha yang menguntungkan.
Pada usia yang ke sembilan belas tahun, Tn. Morris yang masih muda dibaptis berdasarkan pengakuan imannya, dan segera setelah itu dia diberi izin untuk berkhotbah. Dia memutuskan untuk pergi ke Barat dan menetap di Helena, Arkansas, stasiun misionaris dari Joanna P. Moore, seorang utusan dari Women’s American Baptist Home Mission Society. Dipanggil untuk menjadi Gembala Sidang dari Gereja Baptis Centennial di Helena, Morris sangat dihormati karena pelayanan pastoralnya dan ketertarikannya pada pengembangan diri budak-budak yang sudah bebas. Dia kemudian terpilih sebagai Presiden dari Negro Baptist State Convention di Arkansas. Untuk waktu yang singkat, dia melayani di bawah American Baptist Home Mission Society dan mendirikan Arkansas Baptist College.
Dari sudut pandang kita sekarang ini, sungguh menakjubkan ketika kita merenungkan kualitas kepemimpinan tinggi yang dimiliki oleh kebanyakan budak. Tetapi harus diingat bahwa ada pelayanan yang unik di antara para budak kulit hitam sebelum Perang Saudara. Organisasi gereja yang paling awal di antara mereka (Kaum Baptis berkulit hitam) adalah Gereja Baptis Afrika di Savannah, Georgia, yang didirikan pada tanggal 20 Januari 1788, di lumbung Brampton, berjarak tiga mil ke arah Barat Savannah, oleh Abraham Marshall (kulit putih) dan Jesse Peter (kulit hitam). Gembala pertamanya adalah George Lisle. Buah pertama dari permulaan ini adalah Andrew dan Hannah, Bryan dan Hagar. Keempatnya merupakan inti dari kaum Baptis kulit hitam di Amerika. Jumlah jemaat Gereja Baptis Afrika Pertama berlipat ganda hingga tahun 1802, ketika pada tanggal 26 Desember Gereja Baptis Kedua (kulit hitam) dibentuk dengan dua ratus anggota dan [pada] 2 Januari 1803, sebuah gereja lain dibentuk yang disebut Gereja Baptis Kulit Hitam Ogeechee, dengan 250 anggota.
Pada tahun 1805 Gereja Joy Baptist, Boston, Massachusetts, didirikan; pada tahun 1808, Gereja Baptis Abyssinian di New York City, dan pada tahun 1809, Gereja Baptis Afrika Pertama di Philadelphia, dibentuk, menjadi gereja-gereja pertama di Utara. Gereja Baptis Jalan Sembilan Belas diorganisir pada tahun 1839, dan adalah Gereja Baptis kulit hitam pertama di Distrik Columbia. Gereja Baptis Afrika Pertama, Philadelphia, Pennsylvania, diorganisir pada bulan Juni 1809, dengan lima belas anggota.
Setelah selesainya Perang Saudara, gereja-gereja Baptis kulit hitam mengikuti jejak rekan-rekan kulit putih mereka dan membentuk asosiasi-asosiasi. Pada tahun 1880, di Montgomery, Alabama, kaum Baptis kulit hitam membentuk Konvensi Misi Asing. Pada tahun 1888, Konvensi Nasional Baptis Amerika didirikan di St. Louis, Missouri. Pada tahun yang sama, Perhimpunan Pendidikan Nasional muncul sebagai hasil dari banyak orang Baptis kulit hitam yang tertarik untuk mendidik hamba-hamba Tuhan kulit hitam. Pada tahun 1895 di Atlanta, Georgia, Konvensi Misi Asing, Masyarakat Pendidikan Nasional, dan Konvensi Nasional Amerika dikonsolidasikan dengan Elias Camp Morris sebagai presiden.
Penghormatan berikut telah dikatakan tentang Gembala Morris oleh seorang penulis modern:
“Kemampuannya untuk berorganisasi diakui sepenuhnya di kalangan Baptis Arkansas. Pada tahun 1884, dia membentuk Arkansas Baptist College dan selama enam belas tahun menjabat sebagai ketua dewan pengawasnya. Awalnya, dia mengilhami kaum Baptis kulit hitam untuk mulai menerbitkan hal-hal yang mereka sendiri minati. Pemikirannya yang aktiflah yang melahirkan gagasan Dewan Persatuan Kaum Muda Baptis Nasional. Yang pasti, Rev. Elias Camp Morris adalah tokoh penuntun selama tahun-tahun formatif konvensi itu. Dia melayani sebagai Presiden Konvensi selama dua puluh tujuh tahun.” Organisator Baptis kulit hitam yang terkenal itu meninggal pada tanggal 5 September 1922 , di Little Rock, Arkansas.
Kekhasan Baptis sangat jelas di gereja-gereja Baptis kulit hitam awal. Seseorang mengamati bahwa Kitab Suci dianggap otoritas tertinggi, satu-satunya standar untuk memeriksa perilaku dan kepercayaan. Gereja-gereja Baptis kulit hitam bersikeras pada iman secara pribadi kepada Juruselamat, diikuti dengan pembaptisan dengan cara selam ke dalam air hanya untuk orang percaya. Mereka mempertahankan bahwa baptisan seperti itu merupakan prasyarat untuk menjadi anggota gereja. Gereja-gereja sepenuhnya mandiri dan hanya bertanggung jawab kepada Kristus, Kepala mereka. Mereka mengamati Perjamuan Tuhan sebagai peringatan dan memiliki dua tipe pejabat alkitabiah, yaitu Gembala dan Diaken.
Betapa tragis menyadari bahwa hari ini konvensi-konvensi gereja kulit hitam telah mengikuti jejak rekan-rekan kulit putih mereka, dan sebagian besar telah murtad. Betapa menyegarkannya di hari-hari terakhir abad ke-20 melihat Tuhan membangkitkan sejumlah Gembala Baptis Fundamentalis Independen kulit hitam yang telah kembali ke kemurnian alkitabiah. Mereka ini berusaha untuk mempengaruhi orang-orang sesuku mereka lagi dengan Injil kasih karunia Allah yang asli. Sebagai minoritas, tugas yang diemban mereka tidaklah mudah, dan gereja-gereja Baptis Fundamentalis dengan mayoritas jemaat kulit putih harus mempertimbangkan untuk membantu mereka secara finansial dalam pekerjaan ini. Amanat Agung tidak selalu memanggil seseorang untuk melintasi batas negara. Marilah kita berdoa untuk semangat kebangunan rohani di antara tetangga Baptis kulit hitam kita.
Dari Buku: This Day In Baptist History II
Judul asli: Dari Perbudakan menjadi Gereja
Kitab Suci : I Raja-raja 17:1-3; II Raja-raja 2:9-11
Renungan
- Pada cerita renungan hari ini kita disuguhkan catatan tentang perkembangan pelayanan gereja Baptis di kalangan orang-orang kulit hitam. Walau masih dalam suasana perbudakan, orang-orang Baptis sudah mulai melakukan penginjilan kepada para budak, dan banyak dari mereka yang diselamatkan. Budak yang cerdas dan rajin biasanya menabung dan kemudian membeli kemerdekaan mereka. Dan tuan kulit putih yang baik, terutama yang sungguh lahir baru, biasanya memperlakukan budak mereka sangat baik, sehingga membebaskan mereka. George Liele, seorang kulit hitam sesungguhnya adalah misionaris pertama abad modern yang pergi memberitakan Injil ke Jamaica. Ia ke Jamaica tahun 1782, sepuluh tahun lebih duluan dari William Carey ke India tahun 1792.
- Ada gereja yang percaya pada pengajaran yang amat salah, bahwa Tuhan sudah menetapkan (predestinated) jumlah orang masuk Sorga dan masuk Neraka. Menurut mereka, sekalipun kamu sangat rajin pergi memberitakan Injil, tetap tidak bisa menambah orang masuk Sorga. Pengajaran ini pernah menjangkiti gereja-gereja Baptis, sehingga ada kelompok Baptis yang menentang pengiriman misionaris ke berbagai wilayah. Dan pengajaran ini mewabahi kekristenan seluruh dunia sehingga semangat penginjilan dunia menurun dan lesu. Sampai hari ini masih banyak gereja Baptis yang belum berhasil melihat kesalahan pengajaran ini, dan masih banyak yang tetap memegang poin terakhirnya yaitu OSAS (Once Saved Always Saved).
- Ketika Perang Saudara di AS tahun 1860 sampai 1861 selesai, dan perbudakan di AS dihapus, maka gereja-gereja Baptis jemaat kulit hitam bermunculan. Bukan hanya ayat-ayat Alkitab secara tegas menyatakan bahwa penebusan Kristus itu untuk semua manusia (Yoh.1:29, 1Yoh.2:2, 2Pet.2:1). Bahkan fakta mempertontonkan kepada kita, ketika Injil TIDAK diberitakan ke sebuah suku atau sebuah wilayah, maka orang yang diselamatkan kurang, tetapi ketika Injil dengan GENCAR diberitakan kepada sebuah suku atau sebuah wilayah, maka banyak orang diselamatkan. Ini membuktikan bahwa pengajaran predestinasi bahwa jumlah orang ke Sorga dan Neraka sudah ditetapkan, adalah sebuah kesalahan total. Mari kita bergiat menginjil agar lebih banyak orang masuk Sorga.
Ditulis oleh : Dr. Suhento Liauw