Menghakimi Atau Tidak Menghakimi?

judgmentOleh: dr. Dr. Steven Enstein, Th.D.

Salah satu hal yang sering saya dengar dari orang-orang Kristen, ketika saya sedang berdiskusi Alkitab dengan mereka, terutama ketika saya menunjukkan kesalahan mereka, adalah seruan: “Jangan menghakimi!” Gereja-gereja yang mengaku Alkitabiah, sering dicap sebagai gereja yang “menghakimi gereja lain.” Tuduhan ini akhirnya menjadi sesuatu yang klise, dan menjadi jalan lari bagi mereka yang sudah merasa doktrin atau ajaran mereka tersudutkan oleh ayat-ayat Alkitab, atau yang tidak berminat sama sekali untuk menyelidiki kebenaran dari Kitab Suci. Demikianlah ketika kita mengatakan bahwa pengajaran tentang keselamatan gereja A salah, gerakan Kharismati sesat dengan teologia sukses yang mereka ajarkan, kita dituduh sebagai orang yang “sok menghakimi.” Atau ketika menunjukkan kepada seorang “karunia bahasa lidah sudah berhenti” maka kita diberitahu untuk “jangan menghakimi orang lain, sebab hanya Tuhan yang berhak menghakimi orang”

Karena hal ini muncul dengan begitu kerapnya, maka sungguh penting bagi setiap orang percaya untuk mengerti benar mengenai masalah “menghakimi” dalam Alkitab. Benarkah bahwa orang Kristen tidak boleh menghakimi? Apakah ini sama dengan tidak boleh menyatakan kesalahan orang lain? Kesalahpahaman mengenai masalah ini begitu besar, sehingga banyak orang yang akan kaget jika diberitahu:

1. Tuhan Menyuruh Orang Percaya untuk Menghakimi

Banyak orang Kristen tidak pernah membaca Yohanes 7:24, yang berisi perintah Yesus: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Walaupun Tuhan Yesus tidak merincikan tentang cara menghakimi yang benar, tetapi jelas sekali bahwa Tuhan mengizinkan, dan bahkan mengharapkan, bahwa orang percaya menghakimi dengan adil. Bertentangan dengan opini umum, orang percaya bukan tidak boleh menghakimi! Sebaliknya, ORANG PERCAYA DIHARAPKAN UNTUK MENGHAKIMI DENGAN ADIL.

2. Arti Kata “Menghakimi”

Di dalam benak banyak orang, kata “menghakimi” memiliki konotasi yang negatif. Bahkan, ada orang mengidentikkan “menghakimi” dengan “menghukum.” Seorang Kristen pernah bertanya kepada saya demikian: “Saya sudah percaya Yesus Kristus, lalu kenapa setelah saya mati, saya masih akan dihakimi lagi oleh Tuhan.” Pertanyaan ini muncul ketika saya menerangkan bahwa setelah Hari Pengangkatan (Rapture), akan ada Pengadilan Kristus (1 Kor. 3:10-15; 2 Kor. 5:10). Bapak tersebut menyamakan “penghakiman” dengan “penghukuman” sehingga merasa kaget akan “dihukum” lagi di Surga.

Persoalan menjadi jelas ketika kita mengerti arti kata “menghakimi” yang sesungguhnya. Untuk itu, kita harus menyelidiki kata apa yang dipakai oleh Roh Kudus dalam Kitab Suci bahasa asli (Yunani untuk Perjanjian Baru). Kata krino (Yunani) adalah kata utama yang diterjemahkan “menghakimi” dalam bahasa Indonesia. Kata krino ini muncul 114 kali dalam 98 ayat Perjanjian Baru, dan 88 kali diterjemahkan “judge” dalam King James Version. Selain diterjemahkan “judge” (menghakimi dalam bahasa Indonesia), krino terkadang diterjemahkan “memutuskan” (Luk. 12:57; Kis. 20:16; 25:25; 1 Kor. 2:2), “berpendapat” (Kis. 3:13; Luk. 7:43), “menganggap” (Roma 14:5), atau “mempertimbangkan” (1 Kor. 10:15). Jadi kita lihat bahwa “menghakimi” (krino) dapat memiliki beberapa konotasi arti.

Selain kata krino, ada juga turunan dari krino. Dua kata turunan krino yang paling signifikan adalah anakrino dan katakrino.1 Anakrino berasal dari gabungan krino dan preposisi ana, dipakai sebanyak 16 kali dalam Perjanjian Baru, Anakrino diterjemahkan “menghakimi” sebanyak tiga kali (1 Kor. 4:3 [2]; 4:4), dan paling sering diterjemahkan “memeriksa” atau “diperiksa” (Luk. 23:14; Kis. 4:9; 12:19; 24:8; 18:18; 1 Kor. 10:25, 27). Selain itu, anakrino juga diterjemahkan “menyelidiki” (Kis. 17:11; 1 Kor. 14:24), “menilai” (1 Kor. 2:14, 15 [2]), dan “mengeritik” (1 Kor. 9:3).

Katakrino (gabungan dari krino dan preposisi kata) dipakai 19 kali dalam Perjanjian Baru, dan LAI menerjemahkannya menjadi “menghukum” atau “memberi hukuman.” Hanya satu kali saja katakrino diterjemahkan “menghakimi” (Roma 2:1).

Jadi, dari riset kata di atas, kita mendapatkan bahwa kata “menghakimi” dalam Alkitab bahasa Indonesia berasal dari kata krino (sebagian besar) atau turunannya anakrino dan katakrino (sebagian kecil). Kita mengetahui pula bahwa kata krino dan turunannya memiliki rentang arti yang cukup luas, antara lain “memutuskan,” “berpendapat,” “menganggap,” “mempertimbangkan,” “memeriksa,” “menilai,” dan “menghukum.” Semua definisi ini memiliki persamaan dan berpusar pada satu poros inti. Dapat disimpulkan bahwa kata krino, memiliki pengertian dasar “memutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.” Itulah inti dari “menghakimi,” yaitu membuat penilaian akan sesuatu. Pengertian ini muncul dalam berbagai bentuk, apakah “menilai,” “memeriksa,” atau “mempertimbangkan.” Semua ini adalah krino. Ketika Paulus mengajarkan bahwa “manusia rohani menilai segala sesuatu,” (1 Kor. 2:15) ia sama saja berkata bahwa “MANUSIA ROHANI MENGHAKIMI SEGALA SESUATU.”

Orang-orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi,” sama sekali tidak mengerti arti kata “menghakimi.” Kita bisa bertanya balik, apa maksud anda “tidak boleh menghakimi.” Apakah orang Kristen tidak boleh punya penilaian tentang apapun juga? Apakah orang Kristen tidak boleh berpendapat? Apakah orang Kristen tidak boleh memeriksa? Mereka yang dengan buta berkata “jangan menghakimi” sama saja berkata: “orang Kristen tidak boleh menilai apa-apa,” atau “orang Kristen tidak boleh memiliki pendapat tentang apapun.” Ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu hal, maka ia sudah melakukan penghakiman! Adalah sesuatu yang sangat konyol, jika ada yang secara universal melarang untuk “menghakimi.”

Sekali lagi kita lihat, kata “penghakiman” sebenarnya berbeda dengan kata “penghukuman.” Walaupun demikian, dalam konteks tertentu, “penghakiman” dapat disamakan dengan “penghukuman.” Misalnya, pernyataan bahwa Allah akan “menghakimi” dunia. Menghakimi di sini dapat disamakan dengan “menghukum,” karena Allah akan menilai dunia, dan mendapatkannya jahat, dan tentu akan menghukumnya.

Jadi, apakah seseorang senang dihakimi atau tidak, tergantung kepada status dirinya. Orang percaya akan menghadap takhta pengadilan Kristus suatu hari, untuk dihakimi Tuhan mengenai pekerjaannya (bukan masalah keselamatan). Orang yang sudah bekerja sekuat tenaga bagi Tuhan sesuai FirmanNya, akan mendapat sukacita pada hari itu, ketika Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, atau yang “melayani” bertentangan dengan Firman Tuhan, justru akan malu pada hari itu. Jadi, penghakiman tidaklah selalu hal yang buruk! Itu tergantung pada orang atau hal yang dihakimi atau dinilai!

3. Alkitab Melarang Menghakimi Hanya Dalam Konteks Tertentu

Ayat yang paling sering disalahgunakan dalam hal “menghakimi” adalah Matius 7:1, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Terlalu banyak orang, yang tanpa pengertian dan sekedar membeo, memakai ayat ini untuk bersembunyi dari kebenaran, seolah-olah ayat ini memberi mereka hak untuk mengabaikan teguran-teguran dan nasihat-nasihat yang menyatakan kesalahan mereka.

Dalam menafsir Alkitab, salah satu prinsip yang paling penting adalah bahwa penafsir harus selalu memperhatikan konteks. Apakah Matius 7:1 melarang segala jenis penghakiman? Prinsip lain dalam penafsiran Alkitab adalah bahwa Alkitab konsisten secara internal. Tidak ada ayat-ayat yang bertentangan. Oleh karena itu, jika Tuhan memerintahkan, mengharapkan, dan mengizinkan orang percaya untuk menghakimi di bagian Firman Tuhan lain, maka ayat ini tidak mungkin melarang semua jenis penghakiman. Dan setelah meneliti konteks Matius 7:1-5, maka jelaslah bahwa dalam perikop ini TUHAN MELARANG PENGHAKIMAN YANG MUNAFIK. Hal ini terlihat jelas dari nasihat Tuhan: “keluarkanlah dahulu balok dari matamu.” Tuhan tidak ingin orang yang hanya ingin mengorek kesalahan orang lain sebagai suatu serangan, padahal dirinya melakukan kesalahan yang sama dan yang lebih besar lagi.

Prinsip yang sama (internal consistency dan konteks) dapat kita terapkan pada perikop-perikop lain yang melarang orang percaya untuk menghakimi. Sekilas Paulus sepertinya tidak mau orang Korintus menghakimi sebelum kedatangan kedua Kristus (1 Kor. 4:5). “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Tetapi, jika kita cocokkan dengan pernyataan Paulus lainnya tentang menghakimi, dan kita lihat lebih teliti ayat ini lebih cermat lagi, kita dapatkan bahwa di sini Paulus mengajarkan untuk TIDAK MENGHAKIMI HAL-HAL YANG TERSEMBUNYI. Maksudnya, orang percaya janganlah sok menghakimi hal-hal yang tidak mungkin ia ketahui, melainkan hanya ia duga-duga saja, yaitu hati orang lain. Banyak orang sok menghakimi hati dan motivasi orang lain yang terdalam. Sikap seperti ini tidak benar. Kita bisa menilai kelakuan orang, karena memang terlihat; tetapi mengenai hal-hal yang berada dalam hati seseorang yang tidak ia nyatakan, jangan kita terburu-buru untuk memastikannya.

Prinsip ini dipraktekkan sendiri oleh Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 4:5, dia mengatakan “jangan menghakimi.” Tetapi tidak lama kemudian masih dalam surat yang sama kepada jemaat Korintus, Paulus berkomentar tentang seorang anggota jemaat di sana yang berbuat dosa zinah: “Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku sama seperti aku hadir telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu” (1 Kor. 5:3). Kata “menjatuhkan hukuman” dalam bahasa Yunaninya berasal dari kata krino, kata yang persis sama diterjemahkan “menghakimi” di 1 Kor. 4:5. Bagaimana ini? Apakah Paulus sedemikian tidak konsisten? Baru saja dia mengajarkan “jangan menghakimi” (1 Kor. 4:5), kenapa malah dia sendiri “menghakimi” (menjatuhkan hukuman, 1 Kor. 5:3)? Jawabannya sederhana. Dalam 1 Kor. 4:5, Paulus mengajar orang percaya untuk tidak menghakimi hati orang (sesuatu yang tidak dapat diketahui dari luar), tetapi dalam 5:3, Paulus menghakimi perbuatan orang yang memang nyata. Ada anggota jemaat Korintus yang melakukan zinah (1 Kor. 5:1-2), dan ini adalah yang hal yang nyata, yang dapat segera dibandingkan dengan pengajaran Alkitab. Rupanya untuk hal seperti ini Paulus tidak segan-segan menghakimi, bahkan memberi hukuman!

Jadi prinsip ini harus diulang lagi. Untuk hal yang tidak dapat diketahui, misalnya isi hati orang, janganlah menghakimi. Kalau kita melihat seseorang memberi persembahan, janganlah kita menghakimi hatinya, “ah, pasti dia tidak tulus.” Itu adalah penghakiman yang dilarang, karena kita tidak bisa tahu hati orang tersebut. Tunggulah hingga Tuhan datang kembali. “Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati” (1 Kor. 4:5). Tetapi, kalau ada seseorang mencuri uang persembahan gereja, apakah kita boleh berkata, “itu salah”? Jelas! Bukan hanya boleh, bahkan harus ditegur dan bila perlu dikenakan disiplin jemaat. Itu karena hal ini bukan barang tersembunyi, melainkan barang yang jelas dan dapat langsung dicek dan diperbandingkan dengan Firman Tuhan. Prinsip yang sama berlaku untuk doktrin. Ketika ada pengajaran yang salah, yang tidak sesuai Firman Tuhan, bolehkah kita menyerukan: “itu salah,” atau “itu sesat”? Jelas! Bukan hanya boleh, malah harus ditegur. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). 1 Korintus 4:5 tidak dapat dipakai untuk melarang orang Kristen menyelidiki doktrin yang diajarkan seseorang dan menyatakannya benar atau salah!

Sayangnya, ketika ditegur mengenai doktrin yang salah, banyak orang lari ke Roma 14:4-14. Mereka bersembunyi dibalik kalimat: “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (ay. 13). Mereka tidak mau menyelidiki lebih lanjut, “menghakimi” seperti apa yang dilarang oleh Paulus. Mereka tidak mau peduli bahwa Tuhan tidak mungkin melarang orang percaya untuk saling bersaksi tentang kebenaran, saling menegur kesalahan sesamanya.

Pada kenyataannya, dalam Roma 14, PAULUS TIDAK INGIN ORANG PERCAYA SALING MENGHAKIMI DALAM HAL-HAL YANG TIDAK DIATUR OLEH ALKITAB. Paulus memberi contoh 2 hal, yaitu dalam hal makanan dan hari-hari raya. Alkitab tidak mengatur bahwa orang percaya harus makan suatu jenis makanan, atau tidak boleh makan makanan lain. Alkitab mengatakan bahwa semua makanan halal, tetapi tidak mengharuskan orang untuk makan semua makanan. Oleh karena itu, orang percaya jangan saling menghakimi jika ada sesamanya yang memilih untuk makan sesuatu atau jika ia memilih untuk tidak makan sesuatu. Mengenai hari-hari raya, Alkitab juga tidak melarang atau menganjurkan orang percaya untuk ikut dalam berbagai hari raya. Kita melihat aplikasinya dalam kebebasan orang percaya untuk ikut atau tidak ikut merayakan hari Ibu, hari Bapa, bahkan hari Natal. Tentu untuk hari-hari yang mengandung makna menentang Tuhan (misal hari Homoseksual), orang Kristen tidak boleh ikut mendukung, karena melanggar prinsip-prinsip Alkitab lainnya.

Yang terakhir, kita lihat dalam Yohanes 7:24, bahwa ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH MENGHAKIMI HANYA DARI SUDUT LAHIRIAH, MELAINKAN SECARA ADIL. Ini berarti penghakiman kita haruslah didasarkan pada Firman Tuhan yang maha adil.

4. Orang Kristen Perlu Melakukan Penghakiman

Jika kita mengerti bahwa arti dasar kata “menghakimi” adalah “memutuskan atau membuat penilaian tentang suatu hal,” maka jelaslah bahwa bukan saja orang percaya boleh menghakimi, bahkan ORANG PERCAYA HARUS MENGHAKIMI. Dalam hal-hal apa saja orang percaya harus menghakimi?

Orang percaya harus menghakimi pengajaran. Tuhan menyuruh kita untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu (Mat. 7:15). Bagaimanakah kita dapat waspada terhadap mereka, jika kita tidak menilai mereka? Paulus berkata, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17). Bagaimana kita dapat waspada dan menghindari orang-orang ini jika kita tidak menghakimi mereka? Alkitab mengharuskan setiap orang hamba Tuhan yang setia untuk “menyatakan kesalahan,” dan “menegor” (2 Tim. 4:2). Ini tidak dapat dilakukan tanpa menghakimi. Sangat penting sekali untuk memperhatikan juga di sini, bahwa Tuhan ingin agar orang yang mengenal kebenaran, memberitahukan kesalahan orang lain yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya, setiap orang Kristen yang ditegur kesalahannya, tidak marah, melainkan merenung, dan menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui kebenarannya. Ketahuilah, bahwa orang yang menegur anda, sebenarnya sangat mengasihi anda. Bahkan ia rela mengambil resiko dibenci oleh anda, agar anda bisa sampai kepada kebenaran.

Selain itu, orang percaya harus menghakimi perbuatan anggota-anggota gereja. Salah satu fungsi gereja adalah untuk menjadi tempat orang-orang percaya bertumbuh. Dalam proses pertumbuhan, ada proses pendisiplinan. Anggota-anggota gereja yang berbuat dosa, harus ditertibkan. Hal ini diajarkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 5. Ada anggota jemaat Korintus yang berbuat zinah, dan Paulus menekankan bahwa orang itu harus dikeluarkan dari jemaat. “Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 1 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:12-13).
Masih banyak lagi hal-hal lain yang harus dihakimi/dinilai oleh orang percaya, karena “manusia rohani menilai segala sesuatu” (1 Kor. 2:15). Jangankan penghakiman berbagai hal di dunia ini, orang percaya bahkan akan menghakimi dunia dan malaikat (1 Kor. 6:2-3). Sungguh aneh jika ada orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi.” Saya harap, dengan pembahasan singkat Firman Tuhan ini, anda dapat menentukan, MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

Kedua kata ini termasuk golongan compound verb, yaitu kata kerja yang menggabungkan kata kerja dasar dengan preposisi. Selain anakrino dan katakrino, ada beberapa turunan krino lainnya, yaitu egkrino, epikrino, dan sugkrino, tetapi ketiga kata ini hanya muncul total 4 kali dalam PB.

2 comments

  • e

    Terima kasih atas ulasan topik yang bagus ini, kar’na sebelumnya sy juga punya pemahaman yg keliru / dangkal tentang topik ini. Tuhan Yesus Memberkati anda dan semoga di tambah-tambah kan hikmat utk lebih banyak dipakai utk menyingkap kan kebenaran firman Nya dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sy menyadari bahwa betapa penting nya pengetahuan bahasa itu, kar’na dgn tdk memahami dgn benar akan membuat arah pengertian kita menjauh dari inti kebenaran.

  • Eliyusu Zai

    sama-sama Pak. Aminn…
    semoga semua artikel dalam website ini sungguh bermanfaat dan memberkati Bapak dan mendorong bapak untuk terus mencari kebenaran yang Hakiki. Tuhan Yesus Memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order