Mark Dever: Pertobatan Palsu Adalah Bunuh Diri Gereja-Gereja

Berbicara di Konferensi Together for the Gospel 2012, Mark Dever memperingatkan gereja-gereja yang tidak berhati-hati menerima para “petobat,” bahwa mereka sedang melakukan bunuh diri. Konferensi tersebut dipimpin oleh orang-orang Injili konservatif, seperti Dever, Al Mohler, dan John Piper, yang peduli dengan isu-isu seperti “kepemimpinan laki-laki” dan “pentingnya disiplin gereja.”

Dever, gembala sidang senior di Gereja Baptis Capitol Hill, mengatakan bahwa “ribuan, jika bukan jutaan, anggota gereja yang duduk di bangku-bangku gereja Amerika, bukanlah orang-orang Kristen yang sungguh sudah lahir baru” (“False Conversions,” Associated Baptist Press, 11 April 2012).

“Masalah yang saya maksudkan bukanlah segelintir orang yang terkadang berbuat sesuatu yang munafik dalam dosa mereka,” kata Dever. “Saya sedang membicarakan sistem yang menghasilkan pengakuan-pengakuan palsu sehingga bukan hanya satu orang. Tetapi seluruh jemaat sudah menjadi seperti Israel kuno, yang dicirikan bukan oleh kekudusan tetapi oleh keduniawian.”

Ini adalah gambaran yang sempurna dari gereja Southern Baptist di mana saya tumbuh besar tahun 1950an dan 60an, tetapi juga menjadi peringatan bagi gereja Baptis Independen manapun hari ini. Alasan gereja-gereja menjadi penuh orang “Kristen KTP” termasuk dipakainya program penginjilan yang asal cepat (quick-prayerism), tidak adanya sikap hati-hati dalam menerima anggota gereja, gagal memberitakan seluruh maksud Allah, tidak adanya seruan yang tajam untuk menjadi murid yang baik, dan ditelantarkannya disiplin gereja.

Apa yang Dever, bersama dengan teman-teman “Injili”nya tidak katakan dalam konferensi-konferensi seperti ini, adalah bahwa musik rock “Kristen” mereka sendiri, yang sensual dan mistik, dan juga penolakan mereka akan separasi dan definisi palsu mereka tentang “legalisme” dan amillennialisme mereka, juga merupakan bunuh diri bagi kehidupan rohani sebuah gereja, sama seperti sikap tidak hati-hati mengenai pertobatan. Pendekatan alegoris mereka terhadap penafsiran nubuat bukanlah hal kecil, melainkan merusak filosofi Alkitabiah.

Sumber