Penganiayaan terhadap Komunitas Kristen di Sudan di Tengah Konflik Perang
Sejak pecahnya perang internal antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) pada April 2023, kondisi keamanan di Sudan terus memburuk. Kekacauan yang meluas telah membuka peluang bagi meningkatnya penganiayaan terhadap komunitas Kristen, terutama mereka yang berasal dari Sudan Selatan dan kelompok gereja yang secara historis menjadi minoritas rentan di negara tersebut.
Arrestasi dan Intimidasi terhadap Umat Kristen
Pada 16 Agustus 2025, lima orang Kristen Sudan Selatan—termasuk Pendeta Peter Perpeny dari Presbyterian Church of Sudan—ditangkap saat sedang mengadakan doa pemakaman di El Haj Yousif, Khartoum Utara. Acara yang awalnya dimaksudkan sebagai momen duka yang tenang berubah menjadi peristiwa penuh ketakutan ketika aparat melakukan penangkapan tanpa alasan jelas. Salah satu perempuan dalam kelompok itu bahkan diminta membayar denda hampir seribu dolar agar tidak tetap ditahan.
Sejak insiden tersebut, komunitas Kristen di Khartoum semakin takut untuk beribadah atau bahkan meninggalkan rumah. Gereja dan pertemuan doa yang dulunya menjadi tempat penghiburan kini dipandang sebagai risiko besar. Kekhawatiran ini meningkat karena kasus-kasus serupa sebelumnya, seperti penangkapan 19 Kristen di Madani serta penyiksaan terhadap tujuh Kristen di Shendi pada awal 2025, yang semuanya diduga dilakukan tanpa proses hukum yang adil.
Upaya Perebutan Paksa Properti Gereja
Sementara itu, di Omdurman, serangan terhadap institusi Kristen juga terus berlangsung. Pada 3 September 2025, tiga orang Muslim yang mewakili kepentingan bisnis Islamis memaksa masuk ke Evangelical School of Sudan—milik Sudan Presbyterian Evangelical Church (SPEC). Mereka mengancam ratusan pengungsi Kristen yang sedang berlindung di kompleks sekolah tersebut dan merusak kantor kepala sekolah.
Upaya perebutan paksa ini bukan yang pertama. Sejak masa kekuasaan Omar al-Bashir, fasilitas sekolah ini berulang kali diserang oleh kelompok yang sama. Pada 2017, seorang penatua gereja, Younan Abdullah Kambu, tewas setelah ditusuk saat berusaha melindungi jemaat perempuan dari serangan serupa.
Dampak Konflik RSF–SAF terhadap Komunitas Kristen
Konflik antara RSF dan SAF yang berakar dari perselisihan politik pasca-kudeta 2021 terus menempatkan warga sipil dalam bahaya, termasuk minoritas Kristen. Kedua pihak, yang memiliki latar belakang ideologis Islamis, kerap menuduh pengungsi Kristen mendukung faksi lawan. Laporan dari berbagai lembaga internasional menunjukkan peningkatan kasus pembunuhan, kekerasan seksual, serta penjarahan terhadap rumah dan gereja.
Pada Open Doors World Watch List 2025, Sudan berada di peringkat No. 5 sebagai salah satu negara paling berbahaya bagi umat Kristen—naik dari peringkat 8 pada tahun sebelumnya. Perang yang berlangsung telah menghancurkan struktur hukum dan keamanan, memungkinkan ekstremis serta otoritas lokal melakukan tindakan diskriminatif, termasuk seruan online untuk menangkap warga Kristen Sudan Selatan.
Kondisi Sudan Saat Ini
Kedua laporan ini menggambarkan pola penganiayaan yang berlapis: penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan, kriminalisasi kegiatan keagamaan, perebutan properti gereja, serta ancaman dari kelompok ekstremis. Konflik berkepanjangan antara RSF dan SAF bukan hanya menyebabkan kehancuran nasional tetapi juga memperburuk kerentanan kelompok minoritas, menjadikan kehidupan beriman sebagai risiko besar.
Di tengah ketakutan dan tekanan, komunitas Kristen di Sudan tetap bertahan, sebagian beribadah dalam diam, sebagian bersembunyi—namun tetap menjaga iman mereka.
Sumber
International Christian Concern. (2025, October 20). The cost of faith in Sudan. https://persecution.org/2025/10/20/the-cost-of-faith-in-sudan/
Morning Star News. (2025, September 30). Muslims attempt to seize Christian school in Sudan. Christian Daily. https://www.christiandaily.com/news/muslims-attempt-to-seize-christian-school-in-sudan