Tokoh Kristen Nigeria Dibunuh Kelompok Ekstrimis Islam Fulani
Kekerasan terhadap komunitas pedesaan di wilayah Tengah Nigeria kembali menelan korban jiwa dengan tewasnya seorang pemimpin tradisional Kristen akibat serangan penyergapan. Peristiwa ini terjadi pada 5 Januari 2026 di Negara Bagian Plateau dan memperkuat pola kekerasan yang secara khusus menargetkan kepemimpinan Kristen di wilayah Middle Belt Nigeria.
Korban bernama James Jatau, kepala desa Hurra, sebuah permukiman pertanian kecil di wilayah pemerintahan lokal (LGA) Bassa. Ia diserang saat dalam perjalanan pulang dari sebuah pertemuan komunitas di desa Zirshe yang berdekatan. Menurut kesaksian warga, Jatau tidak pernah tiba di rumahnya malam itu, dan jasadnya kemudian ditemukan di sepanjang jalan pedesaan yang menghubungkan kedua desa tersebut.
Desa Hurra terletak di wilayah Rigwe, daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen di bagian utara Negara Bagian Plateau. Wilayah Bassa LGA berada di zona perbatasan yang rawan konflik, menghubungkan Plateau dengan Negara Bagian Kaduna bagian selatan, serta berdekatan dengan Barkin Ladi dan Riyom LGA. Sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada pertanian jagung, sayuran, dan peternakan. Dalam konteks ini, pemimpin tradisional seperti kepala desa memegang peran penting dalam pengelolaan tanah, mediasi konflik, dan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah.
Warga setempat menyatakan bahwa Jatau dikenal sebagai petani sekaligus mediator yang aktif, terutama di tengah meningkatnya ketidakamanan dalam beberapa tahun terakhir. Ia sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran atas maraknya serangan di desa-desa sekitar. Selama satu dekade terakhir, beberapa desa Rigwe di Bassa, Barkin Ladi, dan Riyom telah mengalami serangan berulang, yang sering kali dilakukan oleh kelompok bersenjata yang datang menggunakan sepeda motor.
Penduduk secara konsisten mengidentifikasi para pelaku sebagai militan Fulani. Fulani merupakan kelompok etnis besar yang tersebar di Afrika Barat dan Tengah, dan secara tradisional dikenal sebagai penggembala ternak. Meskipun banyak komunitas Fulani hidup berdampingan secara damai, kelompok Fulani bersenjata di wilayah Middle Belt Nigeria kerap dituduh melakukan serangan terhadap desa-desa pertanian yang mayoritas Kristen. Kelompok-kelompok ini digambarkan memiliki persenjataan berat dan taktik yang terkoordinasi layaknya operasi militer.
Dalam beberapa tahun terakhir, konflik ini semakin berdampak pada para pemimpin tradisional. Menurut organisasi hak asasi manusia dan kelompok gereja, puluhan pemimpin tradisional Kristen telah dibunuh di Plateau dan wilayah Middle Belt lainnya. Penargetan kepala desa dinilai sebagai upaya melemahkan struktur sosial lokal, karena mereka berperan dalam pengorganisasian pertahanan komunitas dan pengelolaan tanah komunal.
Pasca pembunuhan Jatau, respons keamanan dinilai minim. Seorang komandan keamanan dilaporkan sempat mengunjungi desa Hurra untuk menyampaikan belasungkawa sebelum pemakaman, namun tidak ada pengumuman penangkapan maupun pengerahan pasukan keamanan secara berkelanjutan. Kondisi ini meningkatkan rasa takut di kalangan warga, yang kini menghindari perjalanan antar desa, bahkan untuk aktivitas rutin seperti bertani dan berdagang.
Kekerasan berkepanjangan di Middle Belt telah menyebabkan ribuan orang mengungsi dan memperburuk kondisi ekonomi serta ketahanan pangan. Meski pemerintah Nigeria menyatakan bahwa konflik ini dipicu oleh kombinasi banditisme, ketegangan komunal, dan persaingan sumber daya, warga setempat menilai perlindungan negara masih sangat terbatas. Hingga kini, pembunuhan James Jatau belum menemui keadilan, dan ketidakpastian terus membayangi komunitas Kristen pedesaan di Plateau.
Sumber:
International Christian Concern. (2026, January 13). Christian leader killed in ambush as violence targets rural communities in central Nigeria. https://persecution.org/2026/01/13/christian-leader-killed-in-ambush-as-violence-targets-rural-communities-in-central-nigeria/