TEOLOGI KEMAKMURAN

teologi kemakmuran

Teologi Kemakmuran atau Injil Kemakmuran (Bah. Inggris: Prosperity Theology – word of Faith), yang kadang-kadang disebut juga Teologi Sukses, adalah doktrin yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses (kaya, berhasil, dan sehat sempurna) adalah tanda-tanda eksternal dari Allah untuk orang-orang yang dikasihi-Nya. Kasih Allah ini diperoleh sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat oleh seseorang. Sementara itu, penebusan dosa yang dilakukan Kristus di kayu salib bertujuan untuk memberikan berkat kesuksesan dan kesehatan (Dr. Ron L. Jones, Jesus, Money, and Me: Discovering the Link Between Your Money and Your Faith, 2004).

Teologi ini meyakini bahwa seorang Kristen yang diberkati adalah mereka yang sukses dalam hidupnya. Teologi ini juga dikenal sebagai “Kata-Kata Iman – word of Faith,  orang percaya disuruh menggunakan Allah, di mana kebenaran keKristenan yang sejati justru sebaliknya – Allah menggunakan orang percaya. Kata-Kata Iman atau teologia kemakmuran memandang Roh Kudus sebagai kuasa yang dapat digunakan sebagaimana yang diinginkan oleh orang-orang percaya.

Tokoh-tokoh terkenal yang gigih mengajarkan teologi kemakmuran adalah: Kenneth Hagin (almarhum), Kenneth Copeland, Robert Tilton, Paul Yonggi Cho, Benny Hinn, Marilyn Hickey, Frederick Price, John Avanzini, Charles Capps, Jerry Savelle, Morris Cerullo, Joyce Meyer, Joel Osteen, Paul dan Jan Crouch (Sumber: Southern View Chapel). Di Indonesia, teologi tersebut santer diajarkan di gereja-gereja Kharismatik, bahkan banyak aliran injili sudah terkontaminasi oleh teologi yang sangat berbahaya ini.

Teologi kemakmuran atau injil kemakmuran sangat mirip dengan beberapa sekte ketamakan yang merusak yang menyusupi gereja mula-mula. Paulus dan rasul-rasul lainnya tidak berkompromi atau berdamai dengan para guru palsu yang menyebarkan ajaran sesat semacam itu. Mereka menyebut mereka sebagai pengajar-pengajar sesat yang berbahaya dan menasihati orang-orang Kristen untuk menghindari mereka.

Paulus memperingatkan Timotius akan orang-orang semacam ini dalam 1 Timotius 6:5; 9-11. “Orang-orang “yang tidak lagi berpikiran sehat” yang mengira ibadah itu adalah sumber keuntungan dan keinginan mereka akan kekayaan merupakan jebak yang menenggelamkan mereka “ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (ayat 9). Mengejar kekayaan adalah jalan yang berbahaya bagi orang-orang Kristen dan sesuatu yang diperingatkan Allah: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ayat 10).

Kalau kekayaan merupakan tujuan yang baik utk orang Kristen, Yesus pasti akan mengejar kekayaan. Namun Dia tidak melakukan itu, Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20), dan mengajar murid-murid-Nya untuk bersikap serupa. Harus pula diingat bahwa satu-satunya murid yang mengejar kekayaan adalah Yudas Iskariot.

Paulus mengatakan bahwa ketamakan adalah penyembahan berhala (Efesus 5:5) dan mengajarkan orang-orang Efesus untuk menghindari orang-orang yang mengajarkan berita percabulan atau ketamakan (Efesus 5:6-7). Ajaran teologia kemakmuran mencegah Allah melakukan apa yang diinginkan-Nya, berarti Allah bukanlah Tuhan dari segalanya karena Dia tidak bisa berbuat apa-apa sampai kita memperbolehkan-Nya.

Iman, menurut pengajaran teologi kemakmuran – word of Faith, bukan tunduk dan percaya kepada Allah; iman adalah rumus yang memungkinkan kita memanipulir hukum-hukum rohani yang dipercaya oleh para pengajar teologia kemakmuran sebagai sesuatu yang mengatur alam semesta. Sebagaimana yang tersirat dalam nama “Kata-Kata Iman – word of Faith,” gerakan ini mengajarkan bahwa iman adalah soal apa yang kita katakan dan bukan soal siapa yang kita percaya atau kebenaran apa yang kita pegang dan percaya dalam hati kita.

Istilah yang paling digemari dalam gerakan Kata-Kata Iman adalah “pengakuan positif” atau “positive thinking.” Ini merupakan rujukan pada pengajaran bahwa kata-kata pada dirinya sendiri memiliki kuasa atau daya tarik. Apa yang Anda katakan, demikian kata para pengajar Kata-Kata Iman – word of Faith, menentukan apa yang terjadi pada diri Anda. Pengakuan Anda, khususnya pertolongan yang Anda tuntut dari Allah, harus diutarakan secara positif dan tanpa goyah. Maka Allah wajib untuk menjawabnya (sepertinya manusia dapat menuntut sesuatu dari Allah!). Jadi kesanggupan Allah untuk memberkati kita adalah bergantung pada iman kita.

Alih-alih menekankan pentingnya kekayaan, Alkitab memperingatkan kita untuk tidak mengejarnya. Orang-orang percaya, khususnya para pemimpin gereja (1 Tim. 3:3) harus bebas dari mencintai uang (Ibr.13:5). Cinta uang menjadi akar dari segala kejahatan (1 Tim. 6:10). Yesus memperingatkan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk 12:15).

Bertolak belakang dengan pengajaran “word of Faith” soal menumpuk uang dan harta dalam hidup ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19). Kontradiksi yang begitu besar antara ajaran kemakmuran dan Injil Tuhan kita Yesus Kristus paling tepat dirangkumkan dalam kata-kata Yesus dalam Matius 6:24, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada Allah dan uang.”

teologi kemakmuran

Seorang pengajar Alkitab asal Kanada, Dr. Stephen Bedar menyebutkan ada tujuh bahaya besar dari teologi kemakmuran:

1. Teologi Kemakmuran itu Injil Palsu

Ini adalah masalah yang serius. Kristen bukanlah “agama perasaan”, tetapi tentang Kebenaran. Yesus sendiri digambarkan sebagai kebenaran. Ketika seseorang dirangkul oleh kebohongan atau dusta, mereka akan semakin jauh dari Yesus Kristus dan kebenaran-Nya.

2. Teologi Kemakmuran menghancurkan Iman

Adalah ironis bahwa gerakan yang mengkultuskan diri sendiri atas nama iman tersebut menimbuklan pengaruh yang sangat buruk di dalam Kekristenan. Saya menyaksikan seorang pemuda menjadi putus asa di dalam imannya ketika seorang pendeta mengatakan pemuda tersebut sudah disembuhkan walaupun dia tetap sakit parah. Saya tidak tau apakah pemuda tersebut masih seorang Kristen atau tidak. Banyak sekali orang Kristen yang diberi tahu bahwa adalah kekeliruan apabila mereka dalam keadaan sakit.

3. Teologi Kemakmuran berbahaya bagi seorang Gembala

Teologi Kemakmuran mengajarkan bahwa karena Tuhan menginginkan semua orang Kristen itu menjadi kaya, maka hal-hal tersebut dimulai terlebih dulu oleh seorang gembala. Akibatnya, akan banyak tekanan yang akan dialami seorang gembala utk memperlihatkan gaya hidup seperti teologi kemakmuran yang ia ajarkan itu. Akhirnya, semua itu  akan menciptakan gaya hidup yang tamak, serakah dan berbagai dosa atas nama uang. Inilah alasan mengapa banyak pemimpin sering mengalami kegagalan moral.

4. Teologi Kemakmuran menciptakan penafsiran yang mengerikan

Sangat menyakitkan mendengar para pengkhotbah yang mengkhotbahkan ajaran kemakmuran. Banyak dari para pengkhotbah tersebut adalah pembicara- pembicara  berbakat,  akan  tetapi  tafsiran  Alkitab  yang  mereka  lakukan  penuh

5. Teologi Kemakmuran mengabaikan apa yg Alkitab katakan tentang kemiskinan

Baik di dalam PL & PB banyak berkata tentang bagaimana anak-anak Tuhan seharusnya memperlakukan orang miskin. Tidak ditemukan di bagian kitab manapun yang berkata bahwa orang miskin harus memberi dari sedikit yang mereka punya itu untuk para penginjil dengan harapan menjadi kaya. Tugas kita untuk membantu orang miskin dan jangan mengambil keuntungan dari mereka. Alkitab memuji orang-orang miskin (2 Kor. 8:2) juga berkata berbahagialah dan diberkatilah orang miskin, yang mana kata-kata Yesus tersebut merupakan kebalikan dari Injil kemakmuran (Matius 5:3).

6. Teologi Kemakmuran mengabaikan bahwa Tuhan dapat menggunakan penyakit.

Adalah benar bahwa Yesus banyak menyembuhkan orang, tetapi penyembuhan-Nya tidak pernah dengan maksud bahwa kesembuhan adalah anugerah utk setiap orang disetiap waktu. Saya percaya Tuhan masih menyembuhkan tetapi saya juga mengerti bahwa Tuhan menggunakan penyakit sebagai cara yang positif. Banyak orang yang sakit akhirnya menemukan Tuhan dan semakin mengenal-Nya.

7. Teologi Kemakmuran adalah memalukan.

Saya tidak pernah melihat para penginjil ditelevisi menyiarkan dan berharap orang-orang di luar kristen utk menonton siaran itu. Sungguh aneh bukan? Beberapa pengikut mereka memperlengkapi sikap aneh mereka dengan ‘minyak urapan’, saya rasa mereka sungguh aneh. Sayangnya, orang-orang di luar kristen melihat mereka dan menganggap seluruh gereja sama seperti mereka. Seluruh gereja harus waspada terhadap teologi yang sesat ini dan bersiap-siap utk merespon dengan kasih dan kebenaran ( 7 Things that are Dangerous about Prosperity).

teologi kemakmuranDalam sebuah wawancara, penulis Kristen terkenal, Dr. John Piper mengatakan: “Ketika saya membaca tentang teologi kemakmuran, tanggapan saya adalah: Jika saya seorang non Kristen, saya tidak ingin menjadi Kristen. Jika ini adalah pesan yang Yesus ajarkan, dengan tegas saya katakan, tidak! Memikat orang dengan pesan kemakmuran agar menjadi Kristen adalah penipuan (Sumber: Source: Prosperity Preaching: Deceitful and Deadly).

Diterjemahkan oleh Petty Pardede

11 comments

  • anggi dewantara

    Maaf, ANDA sama sekali menjudge nama2 para pengkhobath diatas!..terusterang saya tidak suka dengan cara ANDA. Coba cek dulu bagaimana kehidupan mereka pribadi dengan Tuhan, dari mula2 sebelum menjadi pengkhobath sampai detik ini di tahun2015… sudah terbukti bahwa hubungan mereka dengan Tuhan membuat mereka ‘Berkelimpahan’ dan memberkati saya secara pribadi.

    • Eliyusu Zai

      salam kasih Sdr/i Anggi dewantara

      terimakasih atas sarannya…..
      hanya saja, sebagai orang Kristen yang mengasihi Tuhan, kita tidak boleh berpatokan pada “pengalaman spritual” semata.
      ada dasar yang jelas yang kita pakai sehingga kita berani menyatakan bahwa mereka tersebut bukanlah hamba-hamba dari Tuhan yang Benar.. dari kualitas pengajarannya dan apa yang mereka tawarkan kepada manusia yaitu “Materi” membuktikan bahwa mereka pengajar-pengajar duniawi…
      tidak ada yang salah ketika kita menyebut nama seseorang karena kesalahannya, sebab para rasul sendiri menyebut nama-nama orang yang berbuat salah.
      contohnya 1 Tim 1:20 ada disebut Himeneus dan Aleksander, 2 Tim 2:17 ada disebut Himeneus dan Filetus, Yudas 1:11, ada disebut Kain, Korah, Bileam dan masih banyak lagi….
      Menyebut nama pribadi yang sesat tidak salah menurut Alkitab walaupun dimata manusia hal itu salah…
      jadi saya maupun anda, turuti yang mana? pandangan manusiawi atau apa yang Alkitab katakan? renungkanlah…
      salam kasih…

    • anuge

      Injil ( ajaran Kristus dan para rasul) mengajarkan manusia untuk lebih berorientasi ke arah rohani bukan lahiriah seperti yang diajarkan para tokoh teologi kemakmuran, justru jika Injil di orientasikan ke arah lahiriah, maka itu adalah sejenis penghujatan dan penghinaan akan Injil. Ingat Kristus sudah bersabda, bahwa hanya ada dua tuan yaitu Allah dan Mamon, dan tdk mungkin orang tsb mengabdi dan menyembah dua tuan, oleh karena itu yang mengajarkan dan mengkhotbahkan teologi kemakmuran, sesungguhnya dia adalah mengabdi dan menyembah Mamon yang di bungkus (di luarannya) menyembah Allah, itulah manusia munafik, di satu sisi mulut mengatakan menyembah/mengabdi kepada Allah, namun di dalam hatinya menyembah/mengabdi kepada Mamon.

  • shalom saya setuju dengan pandangan Sdr Eliyusu Zai

  • Pandangan saya sederhana saja.

    Kalau injil itu mengajarkan kemakmuran maka itu bercanggah dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 8:20, mengikut Yesus bererti bersedia menghadapi kekurangan. Raja Daud juga mengatakan bahawa, selagi masih hidup maka kebanggaannya ialah kekurangan dan penderitaan Mazmur 90:10, Paulus berkata dengan bangga bahawa Allah itu penghibur dalam penderitaan dan bukan memberi kemakmuran dalam penderitaan 2Korintus 1:3-4, 2Korintus 6:4.
    Injil itu tujuannya bukanlah kemakmuran, tujuan utama injil ialah menyelamatkan semua orang yang menerima-Nya, dan mempersiapkan iman yang benar untuk menanti kedatangan-Nya yang kedua kali. Oleh itu kalau ada seseorang yang mengajarkan injil itu adalah kemakmuran, itu bererti tidak mempersiapkan jemaat/orang Kristian untuk menghadapi penderitaan menjelang kedatangan Tuhan.

    Kekayaan itu hadiah dari Tuhan, tetapi kalau pun tidak, itu bukan bereti Allah tidak memperhatikan kita, kerana kekayaan bukanlah ukuran berkat Tuhan.

    Sekian
    Tuhan Yesus Memberkati.

  • Nofika

    Syalom.
    Untuk saudara anggi dewantara,
    Kristus hanya kita lewat Firman,bukan dari melihat pengalaman spiritual seseorang.
    Bagaimana mungkin kita mengerti kebenaran, jika kita belum menikmati Kristus itu sendiri lewat Firman..kita akan mengerti apa itu Injil yang benar jika kita sudah mengenal dan mau diajar oleh Injil itu sendiri bukan oleh atau dgn melihat orang lain..kita akan tau kebenaran seutuhnya jika kita sudah tinggal Dlm kebenaran itu sendiri yaitu Allah tritunggal. Saya berdoa kiranya semakin hari kita mau diajar oleh firman dan mau belajar ttg firman agar kita peka dgn setiap ajaran yg dibagi,agar kita peka mana Allah dan mana ilah,mana injil benar dan mana dusta..
    Soli Deo Gloria

  • xxx

    Apakah benar SEMUA gereja yang menganut TEOLOGI KEMAKMURAN mengajarkan cinta uang? Justru di gereja saya malah mengajarkan jemaat untuk senantiasa taat mengandalkan TUHAN melalui memberi persembahan persepuluhan. Kalau manusia/gereja cinta uang, apakah manusia mau memberi persembahan persepuluhan? Bukankah memberi persembahan persepuluhan merupakan salah satu ketaatan melakukan Firman Tuhan, khususnya Maleakhi 3 : 10? Jangan sampai tidak RAPTURE hanya karena tidak memberi persembahan persepuluhan.

    • Eliyusu Zai

      sdra xxx
      tentu saja, jika gereja itu menganut teologi kemakmuran maka akan berbicara uang. dari komentar anda itu sendiri setidaknya membuktikan bahwa gereja anda ada masalah dalam perpuluhan. Rapture atau tidaknya itu bukan karena tidak melakukan persepuluhan melainkan apakah orang tersebut sudah bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai juruselamatnya. meskipun demikian, masalah perpuluhan juga adalah hal penting yang harus kita lakukan karena itu adalah bentuk dari ketaatan kita sebagai orang percaya. hanya saja, perlu diingat bahwa perpuluhan anda itu malah justru tidak berkenan kepada Tuhan jika itu anda berikan di gereja yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan karena justru anda mendukung semakin merajalelanya kesesatan yang melawan Firman dan kehendak Tuhan. Tuhan memberkati.

  • andita

    Kelemahan gereja yang menganut teologi kemakmuran hanya 2:
    1. Selalu menilai kerohanian seseorang dari seberapa besar berkat yang diperoleh jemaat.
    2. Selalu menilai kerohanian seseorang dari seberapa bagus kesehatan jemaat.
    Kelemahan tersebut hanya berdampak pada MINDERNYA jemaat yang BELUM mendapatkan berkat yang besar serta jemaat yang BELUM mendapatkan kondisi kesehatan yang baik.
    NAMUN, kelemahan tersebut (menurut saya pribadi) tidaklah dosa.
    Oleh karena itu, meski teologi kemakmuran diajarkan di suatu gereja, itu tidak masalah.
    Yang penting jemaat taat melakukan Firman Tuhan serta gereja menggembala jemaatnya agar bersiap-siap menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya di awan-awan melalui peristiwa pengangkatan.

    • Eliyusu Zai

      Salam Kasih Kristus sdra Andita
      apa yang anda katakan dalam poin yang pertama dan kedua adalah benar. Hanya saja apa yang menjadi kesimpulan anda bahwa tidak ada masalah sebenarnya cukup berbahaya dan “jemaat taat melakukan Firman Tuhan dan gereja menggembala jemaatnya agar bersiap-siap menjelang kedatangan Tuhan Yesus adalah perbandingan terbalik dengan teologi kemamkmuran.

  • Bisara Manurung

    Kebenaran harus diterima sepenuhnya bukan sepotong-sepotong kalau tidak menjadi teologi kemakmuran vs teologi kemiskinan. Kalau dalam dunia sekuler jadi kapitalis vs komunisme. Uang atau materi tidak salah, yang salah ada sifat yang dibumbui terhadap uang atau materi yaitu cinta uang atau materi. Salah satu ciri gereja yang cinta uang yaitu tidak mau transparan dalam mengelola keuangan gereja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order