Siapakah Santa Claus Itu?

santa claus

Beberapa waktu yang lalu Metro tv membahas sosok St. Nikholas, seorang toko yang sering dikaitkan banyak orang dalam perayaan Natal. Ironinya, pembawa acara Metro tv menyebutkan, “Perayaan Natal selalu identik dengan Sinter Klass.”  Faktanya hampir semua perayaan Natal selalu ada lagu dan pernak-pernik yang berhubungan dengan Sinter Klass.

Sejarah Munculnya Sinter Klass

Mulanya figur Santa Claus tidak ada dalam perayaan Natal, namun pada abad ke-11, Santo Nikholas, menurut legenda adalah seorang uskup yang baik dan suka membagi-bagikan hadiah pada anak-anak pada malam tgl 5 Desember. Legenda ini diadopsi di Belanda sebagai “Sinter Klass” yang dirayakan pada tanggal 5 Desember, dan kemudian di Amerika berubah menjadi figur Santa Claus, yg pada malam Natal menaiki kereta salju penuh dengan hadiah, ditarik oleh 8 ekor rusa kutub. Santa Claus lalu terbang menembus awan untuk mengantarkan hadiah-hadiah kepada anak-anak di seluruh dunia.

Figur Santa Claus yang berkembang di Amerika Serikat merupakan berpaduan antara legenda Santo Nikholas yang dicampur adukkan dengan Dewa Odin yang disembah orang Norwegia. Santa Claus digambarkan sebagai orang tua yang murah senyum dan berjanggut putih berpakaian baju merah dengan kerpus merah di kepalanya. Terlepas dari begitu sangat baiknya sosok seorang Santo Nikholas, dan begitu populernya dia dalam cerita tentang orang yang baik, Orang Kristen yang cinta kebenaran seharusnya menolak tegas “Santa Claus” dari perayaan Natal, sebab Santa Claus atau Sinter Claus sama sekali tidak ada hubungannya dengan Natal Kristus.

Apakah salah menceritakan kebaikan St. Nokholas kepada anak-anak dalam pada hari raya Natal? Kesalahan fatal yang dilakukan oleh sebagian orang Kristen yang tidak peduli pada Kebenaran adalah mengaburkan makna kelahiran Yesus Kristus dengan cerita legenda St. Nokholas, dan ikut melestarikan kebohongan yang dimiliki oleh Sinter Klass yang “KONON” memiliki kuasa seperti Tuhan, seperti kebohongan dalam film Polar Express, The Santa claus,dll.

Iblis telah berhasil menyusup dalam perayaan Natal. Ia berhasil memerankan tokoh Sinter Klass yang selalu dinanti-nantikan orang. Sebaliknya, Kristus telah tereliminasi dari perayaan Natal. Sinter Klass telah menjadi tuhan dan tokoh utama dalam perayaan Natal tanpa menyadari siapakah Sinter Klaus itu. Setiap Perayaan Natal selalu ada Sinter Klass (Dewa berhala). Sepertinya kurang afdol jika tidak ada Sinter Klass dalam perayaan Natal. Natal telah menjadi identik dengan Sinter Klass.

Jika anda mengasihi Tuhan, anda harus tegas menolak Sinter Klass dari perayaan Natal. Anda harus mengajarkan kepada anak-anak anda bahwa figure Santa Claus yang bisa terbang menembus awan dan mengantarkan hadiah-hadiah kepada anak-anak di seluruh dunia kapan saja bukanlah kebenaran. Hanya Tuhan yang bisa itu. Yesus jawaban atas semua masalah kita, dan kapan saja Dia siap menolong kita.

2 comments

  • FatinDania

    Tapi saya rasa santa itu tidak wujud ( kepercayaan Islam )

    • Eliyusu Zai

      @FatinDania.. anda mengenal istilah distorsi? Nah itulah yang terjadi di dalam cerita Santa.
      kata “Santa” sendiri sebenarnya berhubungan dengan istilah “saint” yang artinya adalah orang-orang kudus. Dalam Alkitab, orang-orang Kudus adalah label untuk orang-orang yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai juruselamatnya, sudah diselamatkan dari dosa atau istilah lainnya sudah mengalami kelahiran baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order