Mendidik Dengan Tegas

Dalam sebuah acara pertemuan orangtua, kami membahas satu pertanyaan sederhana tetapi penting: Bolehkah kita menghukum anak? Hasilnya, kami mendapati beberapa prinsip penting ini: Mendidik anak mesti tegas, tetapi tidak harus sampai menghukum.

Apabila kita menegur, tujuannya bukan menghukum, tetapi mengoreksi kesalahan. Jangan pernah menghukum anak untuk kesalahan yang tidak ia sengaja, atau jika ia tidak tahu apa kesalahannya. Jangan pernah menghukum anak jika kita sedang marah dan tak bisa mengendalikan diri. Setelah mengoreksi anak, segeralah memeluknya. Katakan bahwa kita mengasihinya, lalu berdoa bersamanya.

Latih anak untuk meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang dilakukan. Imam Eli mendapat hukuman yang berat karena sebagai orangtua, ia tidak mendidik anak-anaknya dengan tegas. Eli membiarkan anak-anaknya memandang rendah korban sembelihan umat kepada Tuhan: “Mengapa engkau Eli, lebih menghormati anak-anakmu daripada menghormati Aku, dan membiarkan mereka menggemukkan dirinya dengan bagian yang terbaik dari setiap persembahan bangsa-Ku kepada-Ku? (2:29). Apalagi, “Eli mengetahui dosa-dosa mereka itu, tetapi mereka tidak dimarahinya” (3:13). Hofni dan Pinehas pun tidak lagi dapat dikendalikan oleh sang ayah, yang adalah otoritas di atas mereka. Akibatnya, semua kena hukuman Tuhan baik Eli, juga anak-anaknya.

Tuhan memberi otoritas kepada orangtua untuk mendidik dengan ketegasan. Namun, tentu ketegasan yang berdasar kasih dan bertujuan. Yakni, untuk membesarkan anak yang bertanggung jawab atas hidupnya; kepada Tuhan dan sesama

Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu,
dan mendatangkan sukacita kepadamu (Amsal 29:17)

Sumber: RenunganHarian.net