Makna NATAL KRISTUS

Makna natal

Natal tanpa Kristus adalah kalimat yang dapat kita simpulan dari perayaan-perayaan natal di zaman modern ini. Benar kata seorang teolog: “Natal, kini menjadi medan tarik menarik antara penghayatan dan hiburan, antara pesan dan teknologi, antara pelayanan dan performance.” Yesus Kristus sang Natal tidak lagi mendapat tempat utama dalam perayaan Natal modern. Apa yang salah dengan perayaan Natal dewasa ini? Natalnya yang salah atau cara perayaannya yang keliru?

Orang-Orang Kristen harus introspeksi, agar tak terjebak pada seremonial pesta akhir tahun, atau pesta hari ulang tahun, dengan semangat hura-hura. Natal tak boleh kehilangan penghayatannya, seperti kental terasa pada lagu malam Kudus. Sebuah perenungan yang serius dan mendalam. Bahwa gereja perlu merekonstruksi perayaan Natal, adalah hal yang harus. Karena harus diakui, bahwa kini perayaan Natal terasa hedonis, serba memuaskan emosi, dan kehilangan jiwanya. Namun itu tidak berarti Natal salah, sehingga mereka yang kontra berusaha keras melawannya. Karena yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa umat yang merayakanlah yang salah memaknainya. Bukan hari Natalnya yang salah.

Natal adalah suatu perjalanan terjauh dan tidak terukur dari surga ke bumi. Natal, juga sebuah kerelaan terhina yang tak bisa dipahami akal manusia, yaitu Allah yang suci menjadi manusia yang hina. Natal itu “turba” (turun ke bawah) yang sejati, bukan “turba” model para pejabat tinggi yang penuh tipu daya, serta promosi diri, yang pura-pura merendah padahal supaya dipuji, dan berharap terangkat tinggi. Natal juga bukan berpesta-pora, mengadakan bazzar Natal, Christmas carol, konsert ini dan itu. Natal itu membuat kita menangis, karena Yesus rela melepas keillahiannya untuk datang ke dunia. Tetapi natal juga membuat kita bahagia karena Yesus bersama dan memeluk kita. Dengan demikian, Natal adalah absolut paradoks, karena di sana ada tangis dan tawa, ada duka dan bahagia sekaligus.

Merayakan natal adalah tindakan rasa syukur atas Yesus Kristus yang telah datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan. Ini adalah peristiwa yang  sangat agung dan mulia. Hari kelahiran Kristus adalah hari di mana Allah yang agung dan mulia meninggalkan kemuliaannya dengan menghampahkan diri menjadi manusia (Filipi 2:5-7). Penghampaan diri yang dilakukan pribadi Allah yang kedua itu sedemikian drastis, karena bukan hanya menjadi manusia saja bahkan menjadi manusia yang paling hina. Ia dilahirkan disebuah kandang, bukan disebuah gua. Hampir tidak ada manusia yang sedemikian miskin dan hina sehingga ia dilahirkan di sebuah kandang. Hal ini menunjukan bahwa ia bermaksud menyelamatkan manusia yang paling hina sekalipun. Yesus tidak mau ada orang yang berpikir bahwa dirinya terlalu hina atau terlalu berdosa untuk mendapatkan anugerah keselamatan. Sebaliknya Tuhan tidak dapat menyelamatkan orang yang menganggap dirinya terlalu berharga dan penting untuk datang pada-Nya.

Dibutuhkan kerendakan hati bagi orang kaya, orang terpandang, pejabat untuk datang menyembah seorang bayi yang terbaring disebuah palungan dalam kandang yang kotor dan bau. Oleh sebab itu tidak salah Yesus berkata bahwa orang kaya sukar masuk sorga. Seperti seekor unta masuk ke dalam lobang jarum. Mengapa? Bukan kekayaannya yang menghalanginya masuk sorga, tetapi kesombongannyalah yang menghalanginya. Lebih parah lagi orang miskin tapi sombong. Yang demikian ibarat gaja masuk lobang jarum.

Perayaan Natal akan sangat bermakna kalau yang merayakannya memahami makna Natal yang sebenarnya. Yesus Kristus lahir karena dosa-dosa kita, disiksa karena pelanggaran kita dan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita orang berdosa. Kelahiran-Nya untuk menegakkan kekudusan Allah dan membuktikan kesetiaan janji-Nya. Akhirnya, kelahiran Yesus Kristus adalah anugerah terbesar yang pernah ada.

artikel terkait: http://www.kristenalkitabiah.com/6-cara-iblis-mencuri-makna-natal/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order