Kepala Suku Asmat Pindah Agama ?

Beberapa waktu lalu sempat terdengar isu bahwa kepala suku asmat berpindah agama menjadi seorang muslim. Hal ini juga sempat ditanyakan oleh beberapa orang. Namun, isu tersebut tidaklah benar.

Adapun isu tersebut berasal dari sebuah situs muslim yang juga memproduksi majalah, diberitakan dalam _http://arrahmah.com/read/2012/02/19/18196-kepala-suku-asmat-dan-keluarganya-masuk-islam-subhanallah.html dalam tulisan berjudul “Kepala suku Asmat dan keluarganya masuk Islam, Subhanallah” dengan informasi publikasi “Siraaj Ahad, 19 Februari 2012 17:38:51”.

Berikut ini kutipan ulasannya yang bersumber dari Jawaban.com dari halaman _http://www.jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=120322170934&off=22 yang berjudul “Mgr Aloysius Murwito: Tidak Benar Kepala Suku Asmat Pindah Keyakinan”.

Pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Agats-Asmat, Papua, Mgr Aloysius Murwito OFM, mengklarifikasi sejumlah pemberitaan di media massa yang mengklaim Kepala Suku Besar Asmat berpindah keyakinan. Bantahan ini disampaikan Mgr Aloysius melalui surat klarifikasi yang dikirim kepada tokoh-tokoh lintas agama, pemerintah dan pihak keamanan di papua.

Sebelumnya ramai diberitakan oleh sejumlah media online, cetak maupun elektronik yang mengklaim Kepala Suku Besar Asmat Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) berpindah keyakinan. Akibatnya banyak yang berkeyakinan bahwa seluruh suku Asmat ikut berpindah keyakinan. Namun sungguh disayangkan karena hal ini tidaklah benar.

“Mungkin ada benarnya bahwa ada orang Asmat dari Kampung Per bersama keluarganya sebagaimana diberitakan masuk Islam, tetapi bahwa dia adalah seorang Kepala Suku Besar Asmat sungguh suatu kekeliruan atau kesalahan,” ungkap Mgr Murwito dalam surat klarifikasinya sebagaimana dilansir theindonesianway.com.

Mgr Murwito melanjutkan bahwa pengakuan atau gelar Kepala Suku Besar Asmat yang diberikan kepada Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) tidaklah benar dan merupakan sebuah kebohongan publik karena tidak pernah terjadi dan tidak pernah ada dalam kebudayaan suku Asmat sampai saat ini. Berita soal Sinansius dan keluarganya berpindah keyakinan mungkin benar namun bahwa dia adalah seorang Kepala Suku Besar Asmat tidaklah benar.

Langkah klarifikasi ini terpaksa dilakukan karena pemberitaan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung berdampak secara relijius, sosial dan kultural dalam kehidupan bersama di Asmat. Mgr Aloysius sangat berharap agar instansi terkait dapat meneruskan dan mengklarifikasi berita ini kepada media online dan surat kabar yang telah membuat pemberitaan yang tidak benar tersebut.

“Menyadari semua hal itu maka kami sebagai Uskup Keuskupan Agats yang adalah Pemimpin Tertinggi Gereja Keuskupan Agats-Asmat ingin menyampaikan beberapa klarifikasi dan harapan atau himbauan kepada kita semua khususnya MUI Asmat dan Kepala Penyelenggara Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asmat, demi terciptanya kerukunan, toleransi dan persaudaraan sejati dalam hidup bersama di tanah Asmat ini,” ungkap Mgr Aloysius.

Keuskupan Agats juga meminta kepada saudara-saudari sebangsa agar tetap menjaga toleransi, kerukunan dan persaudaraan antara umat beragama dan masyarakat di Asmat dengan menyampaikan, menyiarkan, mengajarkan, memberitakan segala sesuatu dan khususnya berkaitan dengan agama atau iman kepercayaan yang bersentuhan dengan agama atau kepercayaan lain secara obyektif dan akurat.

“Jangan hanya menyebarkan berita bersifat isapan jempol, sensasional dan tendensius yang bisa berdampak pada disharmonitas dan konflik sosial di kalangan masyarakat Asmat dan Papua pada umunya. Perlu diketahui dan disadari bersama bahwa semua masyarakat di Asmat telah memiliki iman dan menganut agama atau kepercayaan tertentu (tidak ada yang kafir). Untuk itu mari kita saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam ranah hidup bersama dengan semangat persaudaraan dan toleransi,” himbau Mgr Aloysius Murwito.

Semoga ini menjawab pertanyaan dari rekan-rekan yang mempertanyakan mengenai isu ini.