Kekuatanmu Tidak Seberapa, Namun Engkau Menuruti Firman-Ku

Di pertengahan tahun 1600-an ada sebuah kehebohan besar di Massachussetts Bay Colony. Koloni-koloni sedang menghadapi masalah anak-anak yang baru dilahirkan yang telat “dibaptis” ketika bayi tetapi tidak mengkonfirmasi iman mereka ketika mereka menjadi orang dewasa. Hasil dari debat-debat mengenai masalah ini adalah Half-Way Covenant, sebuah kompromi yang mana orang tua, melalui persetujuan gereja dan ketaatan pada disiplin gereja, dapat menurunkan keanggotaan gereja bagi keturunan mereka, yakni melalui baptisan, tetapi tidak memperoleh hak untuk mengikuti Perjamuan Tuhan atau mengambil suara. Pada tahun 1677, banyak para pelayan yang menganut bahwa anggota-anggota Half Way mendapatkan hak istimewa penuh keanggotaan gereja. Hal ini menyebabkan gereja-gereja penuh dengan orang-orang yang tidak bertobat, mengurangi khotbah dan berkontribusi pada sebuah ketergantungan terhadap usaha manusia untuk mendapatkan orang-orang masuk ke dalam “kerajaan”.

John Eliot, seorang pria saleh dari Roxbury, telah mulai mengajarkan kekristenan di antara beberapa suku Indian sekitar tahun 1646. Sebuah perkumpulan dibentuk untuk mempromosikan misi itu. Eliot menjadi fasih dalam bahasa mereka dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa tersebut. Dengan pertolongan beberapa orang lainnya, ia membentuk dua belas persekutuan doa di antara orang-orang Indian. Kelompok-kelompok ini tercerai-berai pada masa perang berdarah Raja Philip. Meskipun mereka dianiaya, kaum Baptis berjuang dengan berani pada perang itu bersama dengan orang-orang Indian untuk melindungi pemukiman-pemukiman. Satu kelompok, yang kebanyakan terdiri dari orang-orang Baptis, dipimpin oleh William Turner, dan kelompok tersebut menjadi terkenal dalam peperangan itu.

Kaum Baptis cukup bertumbuh sehingga para pelayan gereja negara menjadi ketakutan. Mereka mengeluarkan undang-undang mereka sendiri untuk mengusir kaum Baptis yang dicetak pada tahun 1672 dan seringkali mendenda dan memenjarakan para pelanggar dari Kaum Baptis. Salah satu pelayan gereja negara mereka, William Hubbard, dalam sebuah khotbah berkata, “Telah dibuat, oleh para penulis yang terpelajar dan bijaksana bahwa salah satu hak yang tidak dapat diragukan lagi adalah untuk memutuskan agama apa yang secara umum akan dianut dan dipraktekkan di daerah kekuasaan mereka”. Ia juga mengatakan bahwa adalah mustahil secara moral untuk memancangkan kekristenan ke dalam suata bangsa tanpa baptisan bayi. Dengan perbandingan, ia menyerukan, bahwa sudah otomatis kalau baptisan bayi diabaikan dan tidak dipakai lagi maka hal itu cenderung untuk menghancurkannya.

Sejumlah besar orang keluar dari sistem keagamaan ini dan bergabung dengan kaum Baptis di dalam maupun di sekitar daerah Boston. Pada Februari 1678, kaum Baptis memutuskan untuk membangun sebuah gedung pertemuan di Boston. Mereka melaksanakan hal ini dengan tenang dan dengan hati-hati karena mereka tidak mau menarik perhatian musuh-musuh mereka. Masyarakat umum tidak tahu untu tujuan apa gedung itu didirikan sampai Kaum Baptis pindah ke sana pada tanggal 15 Februari 1679, John Russel menjadi gembalanya.

Hari ini pemerintah, membuat hukum-hukum, perizinan dan pembatasan bangunan yang akan memungkinkan para pejabat memakai sarana tersebut sebagai alat untuk menyelesaikan dan memutuskan masa depan jemaat kecil yang digembalakan oleh John Russell ini. Kiranya Allah menolong kita untuk menentang dengan kuat peraturan seperti itu yang akan mengambil alih warisan kebebasan hati nurani dari generasi kita yang akan datang.

Pustaka:
James Donovan Mosteller, A History of the Kiokee Baptist Church in Georgia(Ann Arbor: Edwards Brothers, 1952), p.3.
Isaace Backus, Your Baptist Heritage, 1620-1804, (1844; reprint ed., Little Rock: Challenge Press, 1976), p. 87-88.