Ilmuwan Berpikir Mereka Menemukan Partikel Tuhan

Para ilmuwan yang mengoperasikan mesin akselerator partikel terbesar di dunia, mengklaim penemuan partikel sub-atomik yang baru, yang secara tentatif mereka identifikasikan sebagai Higgs-boson, yang disebut “partikel Allah” oleh pemenang hadiah Nobel, Leon Ledeman.

Rolf Heuer, direktur dari European Center for Nuclear Research (CERN), memberitahu sekelompok fisikawa, “Kami telah membuat suatu penemuan. Kami telah mengobservasi sebuah partikel baru yang konsisten dengan sebuah Higgs-boson” (“Physicists Find Evidence,” Fox News, 4 Juli 2012). Ini adalah “suatu partikel teoritis yang berkombinasi dengan gravitasi untuk memberikan benda-benda sifat berat.”

Penelitian tersebut dilakukan di Large Hadron Collider yang bernilai $10 milyar, di perbatasan Swiss-Perancis. Mesin tersebut diciptakan untuk menyelidiki fisika dasar alam semesta dengan cara menguji teori-teori tentang “dark matter, antimatter, dan penciptaan alam semesta.” Mereka sedang mencoba menyelidiki bagaimana alam semesta bisa berjalan, apa yang mempertahankan atom-atom tidak terpencar tak beraturan, mengapa hukum-hukum dasar fisika bisa berlaku. Pada saat pengumuman penemuan baru tersebut, para ilmuwan yang tidak percaya Tuhan itu memuji-muji kehebatan teknologi mereka sendiri dan kejeniusan ilmu pengetahuan dan meninggikan ilah New Age yang mereka sebut “alam.”

Dr. Fabiola Gianotti berseru, “Terima kasih, alam!” Membuat penemuan pada tingkat mendasar fisika adalah hal yang menakjubkan, tetapi tidak berbeda dengan membuat penemuan dalam bidang atau tingkat lain di alam semesta. Menemukan atom atau proton atau boson, tidaklah berbeda dari menemukan apa yang terjadi di dalam kepompong kupu-kupu atau menemukan rahasia migrasi burung, dalam pengertian bahwa semua penemuan ini tidak bisa menjelaskan asal mula dan dari mana datangnya semua hal-hal yang sangat luar biasa kompleks ini.

Seleksi alamnya Darwin tidak menjelaskan apa-apa tentang asal mula hukum-hukum fisika, atau bahkan tentang bagaimana suatu ulat dapat menjadi kupu-kupu. Untuk mengetahui itu, mikroskop ataupun akselerator partikel tidak dapat membantu; yang diperlukan adalah penyingkapan dari sang Pencipta, yang kita miliki dalam Alkitab. Di sinilah kita dalam menemukan hikmat yang cukup untuk membuka misteri-misteri kehidupan, cahaya rohani yang dapat menjelaskan semua fenomena fisik. Di sinilah kita belajar bahwa Yesus Kristus, Pencipta segala sesuatu, adalah diriNya sendiri rahasia mengapa alam semesta bisa “konsisten.”

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3).

“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:16).

” Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia…” (Kol. 1:17)

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:3).

Alam semesta ini bukanlah Allah, tetapi diciptakan oleh dan senantiasa ditopang oleh Allah, dalam segala segi.

Sumber: Graphe Ministry / STT GITS / Way of Life