Homeschooling, Cara Terbaik Mengajar Anak

homeschoolingAlison Davis tidak melihat homeschooling sebagai suatu alternatif yang aneh dari sekolah tradisional. Bahkan, kata ibu dari kota Williamstown, New Jersey tersebut, ketika membesarkan kedua anaknya, dia melakukan hal yang masuk akal.

‘Seseorang tidak akan masuk ke dunia kerja yang semua orang berasal dari sekolah yang sama dan semua orang berusia sama,’ kata dia kepada Business Insider.

‘Menurut pendapat saya, atmosfir sekolah tradisional tidak sama dengan dunia nyata sama sekali. Homeschooling,’ katanya, ‘itulah dunia nyata.’

Kini semakin banyak orang tua di AS yang sama seperti Davis, menemukan kepuasan dalam mempertahankan anak-anaknya di luar dari sekolah publik dan sekolah privat, sesuai dengan data terbaru yang dikumpulkan oleh Departemen Pendidikan bahwa homeschoolilng bertumbuh 61,8% dalam 10 tahun terakhir, sampai kini dua juta anak – 4% dari populasi muda – kini belajar dari kenyamanan rumah mereka sendiri.

Bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa homeschooling menghasilkan orang-orang anti-sosial yang tidak bisa masuk masyarakat, kenyataannya adalah bahwa sebagian murid-murid yang paling berprestasi dan paling seimbang sedang mempelajari soal-soal matematika dari meja makan, bukan di meja sekolah.

Menurut riset pegagogi (pendidikan anak) yang terbaru, pengajaran di rumah bisa jadi adalah yang paling relevan, bertanggung jawab, dan efektif, untuk mendidik anak di abad 21.

Davis mengatakan bahwa putranya, Luke, kesulitan membaca pada awalnya. Bahkan sampai memasuki kelas dua, dia tidak menikmati membaca dan merasa kesulitan. Di sekolah lain, guru-guru bisa jadi tidak akan memiliki waktu untuk membantu Luke secara khusus karena mereka harus memperhatikan 20 anak lain juga. Tetapi tidak demikian di keluarga Luke.

‘Saya bisa menghabiskan waktu ekstra dengan dia,’ kata Davis. Plus, waktu membaca menjadi lebih dari sekedar usaha membuat Luke melek huruf; itu juga menjadi waktu perekatan hubungan Mommy-Luke – sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh sekolah formal.

‘Sekarang, dia menghabiskan buku dalam sekejap, bisa dalam satu minggu atau kurang,’ katanya. Efek jangka panjang dari pendidikan yang dipersonalisasikan juga besar. Menurut sebuah studi tahun 209 tentang ujian standar, anak-anak yang dididik homeschool, rata-rata nilainya ada pada persentil 86. Hasil ini tetap berlaku setelah mempertimbangan variabel kontrol seperti tingkat pemasukan, pendidikan, kemampuan mengajar orang tua, maupun tingkat regulasi dari negara bagian. Riset juga mengindikasikan bahwa anak-anak homeschool lebih sering berhasil masuk ke perguruan tinggi dan berprestasi lebih tinggi di dalam perguruan tinggi.

Stereotip terbesar yang berkenaan dengan homeschool adalah bahwa pengajaran satu-banding-satu yang terjadi akan membuat anak kekurangan sosialisasi yang mereka butuhkan untuk berkembang. Tetapi tidak demikian. Anak-anak homeschool sama dengan anak-anak lain bisa bermain sepak bola dan melakukan proyek grup dengan murid lain. Keluarga Davis terlibat aktif dalam gereja lokal mereka, jadi Luke dan kakaknya Amanda memiliki teman di paduan suara. Mereka keduanya memainkan instrumen musik, jadi mereka punya teman di kelompok orkestra homeschool.

Anak-anak homeschool bukan hanya dapat menikmati berbagai hal positif; tetapi mereka juga tidak perlu mengalami banyak hal negatif yang sering terjadi di sekolah formal – misalnya peer-pressure (tekanan dari teman-teman) dan pembentukan grup/gang/kelompok sendiri. Dalam beberapa kesempatan, kata Alison, anak-anak lain menyatakan mereka cemburu bahwa Luke dan Amanda bisa belajar di rumah, lepas dari hirarki sosial di sekolah mereka.

 

Diterjemahkan oleh : dr. Steven E. Liauw, S. Ked., M.D., M.Div., D.R.E., Th. D.

 

Sumber :

Homeschooling is the smartest way to teach kids in the 21st century. August 20, 2016. Business Insider.