Harus Menghakimi

pengadilan

Tuhan Menyuruh Orang Percaya untuk Menghakimi

Banyak orang Kristen tidak pernah membaca Yohanes 7:24, yang berisi perintah Yesus: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Walaupun Tuhan Yesus tidak merincikan tentang cara menghakimi yang benar, tetapi jelas sekali bahwa Tuhan mengizinkan, dan bahkan mengharapkan, bahwa orang percaya menghakimi dengan adil. Bertentangan dengan opini umum, orang percaya bukan tidak boleh menghakimi! Sebaliknya, ORANG PERCAYA DIHARAPKAN UNTUK MENGHAKIMI DENGAN ADIL.

Arti Kata “Menghakimi”

Di dalam benak banyak orang, kata “menghakimi” memiliki konotasi yang negatif. Bahkan, ada orang mengidentikkan “menghakimi” dengan “menghukum.” Seorang Kristen pernah bertanya kepada saya demikian: “Saya sudah percaya Yesus Kristus, lalu kenapa setelah saya mati, saya masih akan dihakimi lagi oleh Tuhan.” Pertanyaan ini muncul ketika saya menerangkan bahwa setelah Hari Pengangkatan (Rapture), akan ada Pengadilan Kristus (1 Kor. 3:10-15; 2 Kor. 5:10). Bapak tersebut menyamakan “penghakiman” dengan “penghukuman” sehingga merasa kaget akan “dihukum” lagi di Surga.

Persoalan menjadi jelas ketika kita mengerti arti kata “menghakimi” yang sesungguhnya. Untuk itu, kita harus menyelidiki kata apa yang dipakai oleh Roh Kudus dalam Kitab Suci bahasa asli (Yunani untuk Perjanjian Baru). Kata krino (Yunani) adalah kata utama yang diterjemahkan “menghakimi” dalam bahasa Indonesia. Kata krino ini muncul 114 kali dalam 98 ayat Perjanjian Baru, dan 88 kali diterjemahkan “judge” dalam King James Version. Selain diterjemahkan “judge” (menghakimi dalam bahasa Indonesia), krino terkadang diterjemahkan “memutuskan” (Luk. 12:57; Kis. 20:16; 25:25; 1 Kor. 2:2), “berpendapat” (Kis. 3:13; Luk. 7:43), “menganggap” (Roma 14:5), atau “mempertimbangkan” (1 Kor. 10:15). Jadi kita lihat bahwa “menghakimi” (krino) dapat memiliki beberapa konotasi arti.

Selain kata krino, ada juga turunan dari krino. Dua kata turunan krino yang paling signifikan adalah anakrino dan katakrino.1 Anakrino berasal dari gabungan krino dan preposisi ana, dipakai sebanyak 16 kali dalam Perjanjian Baru, Anakrino diterjemahkan “menghakimi” sebanyak tiga kali (1 Kor. 4:3 [2]; 4:4), dan paling sering diterjemahkan “memeriksa” atau “diperiksa” (Luk. 23:14; Kis. 4:9; 12:19; 24:8; 18:18; 1 Kor. 10:25, 27). Selain itu, anakrino juga diterjemahkan “menyelidiki” (Kis. 17:11; 1 Kor. 14:24), “menilai” (1 Kor. 2:14, 15 [2]), dan “mengeritik” (1 Kor. 9:3).

Katakrino (gabungan dari krino dan preposisi kata) dipakai 19 kali dalam Perjanjian Baru, dan LAI menerjemahkannya menjadi “menghukum” atau “memberi hukuman.” Hanya satu kali saja katakrino diterjemahkan “menghakimi” (Roma 2:1).

Jadi, dari riset kata di atas, kita mendapatkan bahwa kata “menghakimi” dalam Alkitab bahasa Indonesia berasal dari kata krino (sebagian besar) atau turunannya anakrino dan katakrino (sebagian kecil). Kita mengetahui pula bahwa kata krino dan turunannya memiliki rentang arti yang cukup luas, antara lain “memutuskan,” “berpendapat,” “menganggap,” “mempertimbangkan,” “memeriksa,” “menilai,” dan “menghukum.” Semua definisi ini memiliki persamaan dan berpusat pada satu poros inti. Dapat disimpulkan bahwa kata krino, memiliki pengertian dasar “memutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.” Itulah inti dari “menghakimi,” yaitu membuat penilaian akan sesuatu. Pengertian ini muncul dalam berbagai bentuk, apakah “menilai,” “memeriksa,” atau “mempertimbangkan.” Semua ini adalah krino. Ketika Paulus mengajarkan bahwa “manusia rohani menilai segala sesuatu,” (1 Kor. 2:15) ia sama saja berkata bahwa “MANUSIA ROHANI MENGHAKIMI SEGALA SESUATU.”

Orang-orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi,” sama sekali tidak mengerti arti kata “menghakimi.” Kita bisa bertanya balik, apa maksud anda “tidak boleh menghakimi.” Apakah orang Kristen tidak boleh punya penilaian tentang apapun juga? Apakah orang Kristen tidak boleh berpendapat? Apakah orang Kristen tidak boleh memeriksa? Mereka yang dengan buta berkata “jangan menghakimi” sama saja berkata: “orang Kristen tidak boleh menilai apa-apa,” atau “orang Kristen tidak boleh memiliki pendapat tentang apapun.” Ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu hal, maka ia sudah melakukan penghakiman! Adalah sesuatu yang sangat konyol, jika ada yang secara universal melarang untuk “menghakimi.”

Sekali lagi kita lihat, kata “penghakiman” sebenarnya berbeda dengan kata “penghukuman.” Walaupun demikian, dalam konteks tertentu, “penghakiman” dapat disamakan dengan “penghukuman.” Misalnya, pernyataan bahwa Allah akan “menghakimi” dunia. Menghakimi di sini dapat disamakan dengan “menghukum,” karena Allah akan menilai dunia, dan mendapatkannya jahat, dan tentu akan menghukumnya.

Jadi, apakah seseorang senang dihakimi atau tidak, tergantung kepada status dirinya. Orang percaya akan menghadap takhta pengadilan Kristus suatu hari, untuk dihakimi Tuhan mengenai pekerjaannya (bukan masalah keselamatan). Orang yang sudah bekerja sekuat tenaga bagi Tuhan sesuai FirmanNya, akan mendapat sukacita pada hari itu, ketika Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, atau yang “melayani” bertentangan dengan Firman Tuhan, justru akan malu pada hari itu. Jadi, penghakiman tidaklah selalu hal yang buruk! Itu tergantung pada orang atau hal yang dihakimi atau dinilai!

Penulis: Dr. Steven Liauw