Empat Cara Yesus Memperkenalkan Diri Sebagai Tuhan

Yesus adalah TuhanSiapakah Yesus Kristus? Bagaimana jati diri-Nya yang sebenarnya? Apakah Yesus itu hanya manusia biasa, mitos, orang gila, penipu, ataukah Ia adalah Tuhan dan Juruselamat dunia? Yesus sendiri menantang orang-orang untuk berpikir tentang pertanyaan ini di dalam kisah-kisah Injil (Matius 22:41-46; Yohanes 8:24-28, 53-58).

Dia bertanya langsung kepada murid-murid-Nya:

Kata orang, siapakah anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga (Matius 16 :13-17).

(Kita sering mendengar tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyebut dan mengakui diri-Nya sebagai Tuhan. Mereka mendesak agar orang Kristen menunjukkan ayat Alkitab, dimana Yesus secara langsung menyebut diri-Nya sebagai Tuhan. Menurut mereka (non-kristen), penyataan Yesus adalah Tuhan merupakan pernyataan Yohanes, Paulus, rumusan oleh konsili-konsili, bukan penyataan langsung dari Yesus sendiri. Benarkah demikian? Apakah benar Yesus tidak pernah secara langsung mengakui diri-Nya sebagai Allah / Tuhan ataukah Yesus sengaja menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dengan cara Dia sendiri?

Memang, Yesus Kristus tidak pernah mengucapkan kata-kata “Akulah Tuhan”, tetapi Dia sangat menyadari keilahian-Nya / ketuhanan-Nya dan sengaja menyingkapkan keilahian-Nya dengan cara-Nya agar dapat diketahui oleh orang lain. Keempat poin berikut menggambarkannya:

1. Yesus menyamakan diri-Nya dengan Bapa ( Allah Yehovah). Dalam pelayanan-Nya kepada masyarakat, Yesus mengidentifikasi diri-Nya begitu dekat dengan Bapa dengan menyatakan secara tidak langsung bahwa dia (Yesus) adalah Allah. Dia menyatakan kedekatan-Nya ini dengan cara berikut:

  • Mengenal Yesus sama dengan mengenal Allah: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku” (Yohanes 14:7).
  • Melihat Yesus sama dengan melihat Allah: “Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).
  • Mengalami perjumpaan dengan Yesus sama dengan mengalami perjumpaan dengan Allah: “Percayalah kepada-Ku, bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yohanes 14:11).
  • Percaya kepada Yesus sama dengan percaya kepada Allah: “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yohanes 14:1).
  • Menyambut Yesus sama dengan menyambut Allah: “Barang siapa menyambut Aku, bukan aku yang di sambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku” (Markus 9:37).
  • Menghormati Yesus sama dengan menghormati Allah: “Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa” (Yohanes 5:23).
  • Membenci Yesus sama dengan membenci Allah: “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku” (Yohanes 15:23).
  • Datang kepada Yesus sama dengan datang kepada Allah: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).
  • Mengasihi Yesus sama dengan mengasihi Allah: “Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku” (Yohanes 14:21).
  • Menaati Yesus sama dengan menaati Allah: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23).

2. Yesus membuat klaim-klaim langsung yang dianggap menghujat oleh banyak pemimpin agama Yahudi.

Sebagai kaum monoteis yang fanatik, banyak orang Yahudi pada zaman Yesus menjadi marah terhadap klaim-klaim-Nya bahwa Dia memiliki otoritas Ilahi. Reaksi mereka menunjukkan mereka mengerti bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Tuhan. Pengakuan inilah yang dipermasalahkan:

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. (Yohanes 5:17:18).

Yesus yang berulang kali bersikeras menyatakan bahwa Dia memiliki hubungan akrab dan khusus dengan Allah Bapa membuat orang banyak marah. Yesus tidak berbicara tentang Allah sebagai “Bapa kita,” tetapi sebagai “Bapa-Ku.”

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yohanes 8:58-59).

Yesus menggunakan kata “Aku” (Yunani, ego eimi) yang sama saja dengan mengatakan “Akulah Allah”, karena Dia memakai “salah satu ungkapan ilahi yang paling suci” dalam PL untuk diri-Nya. Sekali lagi, reaksi dari orang Yahudi yang melempari Yesus dengan batu secara kontekstual  membenarkan adanya pernyataan bahwa Dia menyatakan diri-Nya sebagai Allah / Tuhan.

“Aku dan Bapa adalah satu.” Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Orang-orang Yahudi tentu memahami pernyataan Yesus itu mengacu pada Allah, karena lagi-lagi mereka berusaha untuk melempari-Nya dengan batu.

Perhatikan baik-baik jawaban Yesus terhadap pertanyaan Imam Besar:

Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?” Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati. (Markus 14:61-64).

Lagi-lagi para pemimpin agama Yahudi bereaksi marah dan menangkap, mengadili, dan menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus untuk kejahatan penghujatan. Pernyataan-pernyataannya dihadapan imam besar menjadi kesaksian yang meyakinkan.

Perhatikan empat hal dalam percakapan singkat antara Yesus dengan imam besar Israel:

Dia dengan tegas mengidentifikasi diri-Nya sebagai Mesias Israel.

Dia menggunakan gelar “Anak Manusia”, yang menunjuk pada gelar Ilahi (Daniel 7:13-14).

Dia menggambarkan diri-Nya duduk di “sebelah kanan” Allah, yang menyiratkan bahwa Dia memiliki otoritas Allah.

Dia mengisyaratkan “kedatangan-Nya di atas awan-awan,” yang mengidentifikasi diri-Nya sebagai Hakim umat manusia pada masa yang akan datang.

Karena pengakuan Yesus sebagai Tuhan, Ia mendapat kecaman, hujatan, dan penolakan oleh pemimpin-pemimpin Yahudi.

3. Secara tidak langsung Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah dengan menerapkan hak-hak prerogratif Allah.

Yesus menyatakan diri berotoritas mengampuni dosa, bahkan dosa yang tidak di lakukan terhadap diri-Nya secara pribadi:

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Markus 2:5-7).

Yesus menerima penyembahan dari manusia lain:

Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya (Matius 28:16-17).

Yesus menyatakan kuasa & otoritas atas kematian—dan kehidupan:

Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya (Yohanes 5:21).

Yesus menyatakan otoritas untuk menghakimi umat manusia:

Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak. Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. (Yohanes 5:22-27).

4. Yesus secara tidak Langsung mengklaim diri sebagai Tuhan dengan mengenakan berbagai sebutan Ilahi pada diri-Nya.

Dalam konteks tertentu, Yesus menggunakan berbagai sebutan yang menyiratkan keillahian di PL. Sebutan itu mengacu kepada dirinya. Perilaku ini membuat orang-orang Yahudi marah, terutama ketika Dia menggambarkan diri-Nya sebagai “Anak Allah” dan “Anak manusia”. Dalam sidang dihadapan Sanhedrin, pengunaan sebutan-sebutan inilah dianggap sebagai penghujat yang patut dihukum mati (Matius 26:62-66).

Kesimpulan:

Benarkan Yesus tidak pernah mengaku diri-Nya adalah Tuhan, seperti yang dituduhkan orang-orang non-Kristen? Ini adalah tuduhan yang tidak mendasar dan mudah untuk dijawab. Apakah Yesus mengaku diri-Nya sebagai Tuhan, Mesias, Anak Allah? Ya! Yesus Kristus dengan sadar mengakui, menyatakan, dan mengajarkan kepada murid-murid-Nya, pemimpin-pemimpin agama Yahudi, dan kepada kita semua bahwa Dia adalah Allah / Tuhan, Anak Allah dan satu-satunya Juruselamat dunia.  Karena pengakuan inilah, Ia dihujat, ditentang, dan dibunuh disalibkan (Matius 26:63-65; Lukas 22:70).

By Alki F. Tombuku

Sumber:

Alkitab (LAI)

Norman Geisler, Ketika Alkitab dipertanyakan (andi)

Kennet Samples, Without a doubt (SAAT)

Ravi Zacharias, Who Made God (pionir jaya)

8 comments

  • FatinDania

    Tapi, bukankah yesus itu adalah seorang nabi isa? Allah itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan! Dia adalah satu! Apakah bukti yang yesus adalah tuhan? Maaf,saya bukan mengerti untuk menghina….sorry jika kamu semua terasa…

    • Eliyusu Zai

      @FatinDania : Tapi, bukankah yesus itu adalah seorang nabi isa?
      Jawabannya : Ya, tetapi bukan hanya saja Nabi. Dia juga Imam besar, raja segala raja, dan Tuhan pencipta Alam semesta ini. Begini, ketika Yesus Kristus datang ke dunia ini, Dia melakukan hal-hal yang luar biasa yang membuktikan bahwa Dia adalah Allah, Dia membangkitkan orang mati, Dia membuat orang lumpuh dapat berjalan, membuat orang buta dapat melihat. Hal yang luar biasanya lagi, Yesus mati dan bangkit kembali. Namun seringkali kalian bilang ini adalah cerita bohong, tetapi tahukah anda bahwa orang-orang yang menjadi saksi dari semuanya itu rela mati martir, dianiaya dan mereka tidak menyangkalnya. Jika itu semua adalah cerita bohong, mana ada manusia di muka bumi ini mau mati konyol untuk membela kebohongan?

      Islam bisa bertahan sampai hari ini karena kekerasan yang dimulai oleh pendirinya, yaitu Muhammad. Yang tidak setuju Muhammad akan dianiaya dan disiksa. Cara kerja ini, setahu saya adalah model pekerjaan SETAN.

      @FatinDania = Allah itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan! Dia adalah satu!”
      Jawabannya : Benar bahwa Allah tidak beranak kayak manusia dan juga tidak diperanak seperti manusia, namun istilah “Anak” tidak hanya saja bermakna “Anak secara lahiriah karena hubungan antara laki2 dan perempuan. Istilah Anak juga bisa berarti dengan konsep lain. Apkah itu bermakna kepada suatu hubungan yang sangat kuat, kesatuan misi dan istilah lainnya. Dalam Alkitab Yesus memakai istilah Anak karena berhubungan dengan misinya di Dunia ini.

      Bukti bahwa Yesus adalah Tuhan ada di dalam Website ini. silahkan baca artikel
      http://www.kristenalkitabiah.com/12-dalil-yesus-adalah-tuhan/

  • FatinDania

    Seperti tsunami melanda di Aceh, masjidnya (tempat Islam sembahyang) tidak runtuh walau pun dilanda tsunami! Sedangkan masjidnya diperbuat dari batu sama seperti rumah biasa!

    • Eliyusu Zai

      @FatinDania. mengenai Tsunami yang melanda Aceh dan mesjidnya tidak roboh, BUKANLAH sebagai bukti otentik bahwa Islam itu benar…
      Mesjid itu bisa gak rubuh karena struktural bangunannya yang lebih banyak tiang dan tidak berdinding jadi kekuatan air yang mendorong itu lewat begitu saja… jika bangunan itu berdinding keseluruhannya, tentu bangunan itu sudah Rubuh bersama dengan Tsunami itu….
      contoh ini kasus ini subjektif, oleh sebab itu tidak bisa dipakai sebagai bukti islam itu benar atau salah.
      Jika anda ingin mengetahui apakah Islam itu benar atau salah anda bisa melihat dari dasar pengajarannya yaitu “Alquran” apakah alquran itu Wahyu dari Allah? jika Wahyu dari Allah seharusnya alquran itu bagi pengikutnya akan mengubah dunia ini menjadi lebih baik tetapi kebenaran berbicara sebaliknya.
      SEMUA ORANG YANG SETIA TERHADAP ALQURAN BERAKHIR MENJADI TERORIS, NEGARA YANG MAYORITAS ISLAM TIDAK ADA TOLERANSI, MENIMBULKAN KEKACAUAN, MENCIPTAKAN MALAPETAKA DAN BENCANA…. ini sedikit bukti otentik yang tidak bisa dibantah.
      saya berbicara ini karena saya mengasihi anda. satu pertanyaan, apakah dalam islam anda, anda mendapat jaminan bahwa dosa ada terselesaikan? kalau saya jawab, TIDAk. mengapa? Dosa tidak bisa diselesaikan dengan amal, ibadah, puasa dan segala usaha manusia, termasuk kebaikan manusia itu sendiri.

      • Andreas

        @Eliyusu Zai: mantap benar bang jawabannya.. setuju saya dengan jawaban Anda.. segala kebaikan dan jerih payah kita sebagai manusia tidak bisa membawa kita masuk dalam surga.. Sebagai contoh beramal.. Kalau mau masuk surga harus beramal seberapa banyak yg hrs diamalkan karena uang kita itu tidak ada artinya buat Allah.. Uang itu ciptaan manusia.. Lalu perbuatan baik, baik itu baik yang gimana? kalau lihat ada orang susah, kita berbuat baik bagaimana? kasih sedekah 100juta? apakah itu sudah cukup baik? atau kasi makan? belikan rumah? baik itu yg bagaimana? tidak ada ujungnya.. semua yg kita anggap baik, belum tentu di mata Tuhan yg kita lakukan itu sudah cukup baik.. Manusia tidak bisa lepas dr dosa dan masuk surga karena usaha nya sendiri..

  • fandy

    maaf mas, ada sedikit koreksi pada point ke 3, subpoint “Yesus menerima penyembahan dari manusia lain:”, itu ayatnya seharusnya matius 28 : 16 – 17.

    • Eliyusu Zai

      salam kasih Kristus pak Fandy, terimakasih atas koreksinya, benar itu salah ketik.. sudah saya perbaiki.. TYM

  • Eliyusu Zai

    oohh… alquran bilang begitukah..?
    karena di dalam Alkitab, Musa hanya bertemu Tuhan lewat semak yang menyala tetapi tidak terbakar. (Kel. 3:2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.)
    dan di dalam Alkitab, ketika orang-orang percaya bertemu Tuhan biasanya itu adalah christophany.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Please arrange the below number in decreasing order