Ejekan & Hujatan Membuktikan Pengilhaman Alkitab

Banyak orang di akhir zaman ini menghujat Allah dan Alkitab. Sebagai contoh, baru-baru ini Bill Maher, seorang pelawak terkenal di televisi Amerika, menghujat Tuhan. Maher berbicara mengenai kisah Alkitab tentang air bah Nuh, dan Maher memberitahu audiens-nya di HBO, bahwa Allah adalah seorang “pembunuh masal yang psikotik,” dan “seorang tiran,” yang “menghukum semua orang hanya untuk membalas beberapa yang dia tidak senangi” (“No, Bill Maher,” The Christian Post, 29 Mar. 2014).

Mendengar orang-orang tak beriman mengejek Tuhan, walaupun menyedihkan, tidaklah terlalu mengherankan. Yang paling mengherankan adalah mendengar orang-orang yang mengaku “Kristen” mengejek dan menghujat Tuhan. Pada tahun 1944, uskup Metodis, G. Bromley Oxnam, salah satu dari presiden pertama World Council of Churches, menyatakan bahwa Allah Perjanjian Lama adalah seorang “bully yang kotor.” (Preaching in a Revolutionary Age, hal. 79)

Belakangan, orang-orang seperti William Young, penulis buku laris, The Shack, mengatakan bahwa “Allah yang menonton dari jauh dan menghakimi dosa” adalah “Zeus yang dikristenkan.” Rob Bell, mantan gembala dari sebuah mega-church, menyebut pemberitaan tentang neraka “pandangan murahan tentang Allah.” Dia mengatakan bahwa ada yang salah dengan Allah ini dan menyebutNya “menakutkan dan membuat trauma dan tidak dapat diterima.” Dia mengatakan bahwa kalau seorang ayah di dunia ini bertindak seperti Allah yang mengirim orang ke neraka, “sudah pasti kita akan menelpon organisasi perlindungan hak anak-anak.”

Seharusnya kita tidak perlu terlalu heran. Kira-kira 3000 tahun yang lalu, nabi Daud menulis dalam Mazmur 2 bahwa pada hari-hari terakhir bangsa-bangsa akan rusuh dan melawan Allah dan orang yang diurapiNya, Kristus, dan bahwa mereka akan melakukan ini untuk “membuang tali-tali mereka.” Ini mengacu kepada penolakan hukum-hukum Allah yang kudus. Mazmur 2 berkata, “Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka” (Maz. 2:4).

Allah menertawakan usaha menyedihkan dari manusia kecil yang mengira dia lebih tahu dari Allah yang mahatahu, yang mengira dia lebih adil dari Allah yang mahaadil, dan lebih berbelas kasihan daripada Allah yang mati bagi musuh-musuhNya, yang berpikir dia bisa mengepalkan tinjunya yang lemah di hadapan sang Mahakuasa, yang berpikir bahwa mereka bisa mengoreksi Kitab yang tidak mereka pahami sama sekali. Jika orang-orang ini sungguh menyelidiki Alkitab, mereka akan menemukan bahwa Allah sangat suka akan belas kasihan, lebih dari penghakiman, dan bahwa Dia telah menyediakan keselamatan dengan bayaran harga yang sangat mahal, bagi setiap orang yang mau menerimanya. Pada saat yang sama, Allah tetaplah Allah, dan ketuhananNya tidak akan ditentukan oleh orang-orang yang membenciNya. Hukum Allah adalah final, dan upah dosa melawan hukumNya adalah maut. Orang-orang pada zaman Nuh menolak panggilan pertobatan dan mendapatkan upah dosa sama seperti generasi hari ini akan menerima upah dosa jika mereka terus menolak Injil Yesus Kristus.