Dunia Fantasi Ratu Elizabeth

Almarhum Ratu Elizabeth II, seberapapun dia baik sebagai pribadi ataupun efektif sebagai kepala kerajaan, hidup dalam dunia fantasi, seperti kebanyakan orang. Ketika sang ratu meninggal pada 8 September pada usia 96, dia adalah penguasa Inggris yang paling lama memerintah. Dia naik takhta pada tahun 1952, tidak lama setelah Perang Dunia II. Winston Churchill adalah Perdana Menteri waktu itu. Dia sopan, penuh tanggung jawab, dapat diandalkan, ceria. Di depan umum, dia selalu berpakaian tanpa cela dan sopan. Dia menganggap serius pekerjaannya sebagai ratu.

Dalam pesan ulang tahunnya yang ke-21 (1947) yang disiarkan dari Afrika Selatan, dia membuat janji publik berikut: “Saya menyatakan di hadapan kalian semua bahwa seluruh hidup saya, apakah itu panjang atau pendek, akan dikhususkan untuk melayani kalian dan melayani keluarga kerajaan besar yang menjadi milik kita semua. … Kiranya Allah menolong saya untuk menepati janji saya, dan Allah memberkati kalian semua yang bersedia untuk berbagi di dalamnya.” Dilihat dari sisi manapun, Elizabeth telah memenuhi janjinya. Masalahnya adalah dia hidup di dunia fantasi. Singgasananya adalah fantasi. Dia tidak memiliki otoritas yang nyata. Gerejanya adalah fantasi. Sebagai sebuah institusi, Gereja Inggris adalah nyata, tetapi sebagai sebuah gereja, hanyalah sebuah fantasi. Gereja Inggris tidak memiliki kemiripan dengan gereja yang kita lihat dalam Kitab Suci. Hal yang paling menyedihkan adalah bahwa Injil Elizabeth adalah sebuah fantasi. Dalam pesan Natal tahunannya, yang didengar oleh jutaan orang, satu-satunya Injil yang dia sampaikan adalah Injil kasihilah sesamamu. Dia menyebut Yesus, tetapi hanya sebagai seorang Guru, Teladan, Terang untuk diikuti, bukan Juruselamat dari dosa dan penghakiman. Dia berbicara tentang Tuhan dan kasih-Nya, tetapi dalam konteks kesesatan universalisme. Apa yang dia katakan pada tahun 1997 adalah tipikal: “Santo Paulus berbicara tentang Natal pertama sebagai kebaikan Allah yang mulai memancar atas dunia. Dunia membutuhkan kebaikan itu sekarang lebih dari sebelumnya, kebaikan dan tenggang rasa terhadap orang lain yang melucuti kebencian dan memungkinkan kita untuk bergaul satu sama lain dengan rasa hormat dan kasih sayang. Natal menegaskan kembali bahwa Tuhan bersama kita hari ini, tetapi seperti yang saya temukan lagi untuk diri saya sendiri tahun ini, Dia selalu hadir dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh tetangga kita dan dalam kasih teman dan keluarga kita. Tuhan memberkati kalian semua dan selamat Natal.” Ini bukan Injil Yesus Kristus, dan tidak ada kebaikan manusia yang dapat menghapus dosa manusia di hadapan Allah dan menghapus upah dosa, yaitu kematian kekal. Seperti mungkin semua pendahulunya, dan seperti sebagian besar populasi dunia, Ratu Elizabeth menganut agama Kristen sebagai agama, tetapi agama Kristen sebagai agama tidak menyelamatkan. Keselamatan bukan hanya sebuah doktrin untuk dipercaya; melainkan adalah kehidupan baru yang supranatural di dalam Kristus. “Sebab aku telah menyampaikan kepada kalian, sebagai bagian dari hal-hal yang paling utama, apa yang aku telah terima: bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan kitab-kitab suci; dan bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah bangkit pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab-kitab suci” (1 Korintus 15:3-4).